Afghanistan
Timur Tengah

Untuk Perlambat Kepergian AS, Afghanistan Tawarkan Pengurangan Biaya

Presiden Trump bersama Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di New York pada tahun 2017. (Foto: The New York Times/Doug Mills)
Berita Internasional >> Untuk Perlambat Kepergian AS, Afghanistan Tawarkan Pengurangan Biaya

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menawarkan pengurangan biaya untuk memperlambat kepergian AS dan menjaga pasukan AS untuk tetap berada di negara itu, untuk menopang kekuasaannya. Pemimpin Afghanistan itu menulis surat kepada Trump beberapa hari setelah negosiasi antara perwakilan AS dan Taliban, di mana keduanya mencapai kesepakatan yang mencakup kepergian AS dari Afghanistan.

Baca juga: Senat Tegur Rencana Trump Tarik Pasukan dari Suriah dan Afghanistan

Oleh: Mujib Mashal (The New York Times)

Khawatir akan kesepakatan Amerika Serikat (AS) yang tergesa-gesa dengan militan Taliban, pada Selasa (29/1) Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengirim surat kepada Presiden Trump, menawarkan kepadanya pengurangan biaya untuk menjaga pasukan Amerika Serikat tetap berada di negara itu.

Surat itu—yang dikonfirmasi oleh tiga pejabat dan dijelaskan oleh seorang pejabat yang telah melihat isinya—adalah tanda bahwa Ghani khawatir tentang konsekuensi penarikan pasukan Amerika secara tiba-tiba dari perang yang telah berlangsung hampir dua dekade itu.

Ghani tidak merahasiakan kekhawatirannya tentang penarikan pasukan Amerika yang tergesa-gesa oleh Trump yang semakin tidak sabar itu. Ghani khawatir penarikan itu dapat melemahkan negara Afghanistan yang sebelumnya telah rapuh, dan memicu kebangkitan kembali kekuasaan oleh Taliban, yang terus memperluas wilayah.

Kecemasan pemimpin Afghanistan itu menekankan perbedaan antara latar belakang politik di Afghanistan dan mundurnya Amerika dari konflik lain yang muncul setelah serangan 11 September 2001—perang di Irak yang dipimpin Amerika.

Para pemimpin Irak pada umumnya senang melihat pasukan Amerika pergi. Ghani, di sisi lain, khawatir tentang hal itu, sebagian karena Amerika Serikat adalah sekutu terkuat yang menopang kekuasaannya.

Pemimpin Afghanistan itu menulis surat kepada Trump beberapa hari setelah negosiasi serius antara diplomat Amerika dan perwakilan Taliban berakhir dengan nada optimis dari kedua belah pihak di Qatar, 1.200 mil jauhnya.

Kepala diplomat Amerika, Zalmay Khalilzad, mengatakan kepada The New York Times bahwa telah ada kesepakatan tentang “kerangka kerja” untuk dua masalah utama—bahwa Taliban akan mencegah penggunaan wilayah Afghanistan oleh kelompok-kelompok teror seperti Al Qaeda untuk melawan Amerika Serikat, dan bahwa Amerika akan setuju untuk menarik pasukan mereka.

Para pejabat Afghanistan yang frustrasi—yang tidak berperan dalam perundingan tersebut—mengatakan bahwa mereka melihat adanya tanda-tanda tentang apa yang ditakuti banyak orang selama setahun terakhir—bahwa pemerintahan Trump, meskipun telah mengisyaratkan komitmen jangka panjang, tidak terlalu peduli mengenai dampak penarikan pasukan Amerika bagi 35 juta orang Afghanistan.

Pejabat senior Afghanistan yang telah melihat surat Ghani, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa Ghani dan para asistennya telah lama membahas bagaimana menghadapi kemungkinan perubahan rencana oleh pemerintahan Trump. Diskusi itu—termasuk penghematan biaya dan pengurangan pasukan—diadakan dengan komandan Amerika sebelumnya, Jenderal John W. Nicholson.

Pejabat itu mengatakan bahwa bahasa surat Ghani tidak spesifik—meminta tim dari kedua belah pihak untuk membahas rincian di mana biaya dapat dikurangi, dan bagaimana jumlah pasukan dapat dikurangi dari 14 ribu tentara menjadi “jumlah yang lebih efisien.”

Pejabat itu mengatakan bahwa kemungkinan mereka dapat menghemat $2 miliar per tahun untuk Amerika Serikat, yang diambil dari bidang-bidang seperti kontrak pemeliharaan, dan mengurangi tingkat pasukan Amerika hingga 3.000 tentara.

Tentara Amerika Serikat mengawasi pelatihan pasukan Tentara Nasional Afghanistan di Provinsi Helmand pada 2016. (Foto: The New York Times/Adam Ferguson)

Ghani menyinggung penghematan semacam itu selama penampilannya pekan lalu di World Economic Forum di Davos, Swiss, di mana ia berargumen untuk berhati-hati dalam penarikan Amerika.

“Amerika Serikat sebagai kekuatan berdaulat, sebagai kekuatan global, berhak untuk pergi,” katanya. “Tapi kita harus melakukan itu dengan benar. Apakah alasan mendasar yang menyebabkan Amerika Serikat ke Afghanistan—apakah tujuan itu telah tercapai? Masalah pertamanya adalah biaya. Kami sepenuhnya setuju bahwa biaya harus dikurangi, harus menjadi lebih efisien.”

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul melalui juru bicara menolak untuk mengomentari surat Ghani kepada Trump, dengan mengatakan bahwa “kita tidak akan membahas percakapan diplomatik secara spesifik.”

Tidak jelas pada Selasa (29/1), apakah Trump telah menerima surat itu. Itu dikirim kepadanya melalui Alice Wells, wakil asisten sekretaris utama untuk Asia Selatan dan Tengah, yang telah mengunjungi Kabul. Seorang juru bicara untuk Ghani juga menolak untuk membahas surat itu.

Ghani semakin berselisih dengan anggota elit politik Afghanistan lainnya, yang kini mendukung upaya Amerika untuk bernegosiasi dengan Taliban. Mereka menyebut Ghani sebagai penghalang perdamaian.

Bahkan ketika Amerika Serikat tampaknya hampir mencapai kesepakatan dengan Taliban mengenai kepentingan inti Amerika, langkah-langkah selanjutnya—negosiasi tentang bagaimana masa depan politik Afghanistan—tampak menakutkan.

Para pejabat Amerika mengatakan bahwa Taliban harus melakukan pembicaraan langsung dengan para pemimpin Afghanistan tentang masa depan politik negara itu, sebelum kesepakatan penarikan dengan Amerika Serikat dapat diselesaikan. Tetapi para pejabat mengakui ketidaksabaran Trump mungkin tidak memberi mereka banyak waktu.

Taliban belum memberi sinyal kesediaan untuk berbicara dengan pemerintah Afghanistan. Dan bahkan jika Taliban menunjukkan kesediaan itu, pihak Afghanistan sendiri memiliki pandangan yang berbeda-beda yang tampaknya sulit untuk didamaikan.

Ghani bersikeras pada peran pemerintah yang kuat dalam negosiasi di masa depan dengan Taliban, dan telah menunjuk tim negosiasi yang dipimpin oleh kepala stafnya, dengan beberapa menteri pemerintah sebagai anggota. Partai-partai politik lain—termasuk banyak yang memiliki kontak dengan Taliban—mengecam tim perunding itu sebagai tidak representatif.

Sebuah pertemuan antara Khalilzad dan Ghani pada Minggu (27/1) yang dilangsungkan setelah pembicaraan Amerika dengan Taliban, dilaporkan berjalan tidak lancar, di mana tidak ada kemajuan yang dibuat tentang bagaimana cara untuk mencapai ke negosiasi antara Afghanistan dan Taliban.

Jawaban Khalilzad tidak memuaskan kekhawatiran Afghanistan bahwa AS menyerah kepada Taliban terlalu cepat, kata para pejabat.

Ghani tidak membagikan pandangannya secara rinci pada pertemuan tersebut, yang berlangsung selama hampir tiga jam. Alih-alih, ia menyoroti kesepakatan tergesa-gesa sebelumnya yang berakhir dengan pertumpahan darah.

“Kita tidak boleh lupa bahwa para korban perang adalah warga Afghanistan, jadi inisiatif perdamaian harus berada di tangan rakyat Afghanistan,” kata Ghani dalam pidatonya.

Ghani juga mengatakan bagaimana orang Afghanistan “terbunuh dalam serangan udara”—sebuah kritik terhadap militer Amerika Serikat yang jarang dia sampaikan kepada publik. Amrullah Saleh—Menteri Dalam Negeri Ghani hingga saat ini, yang akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden dalam pemilu Juli nanti—bahkan lebih emosional.

“Mengapa warga Afghanistan harus berada di bawah tekanan psikologis yang sangat besar ini, bahwa ‘Afghanistan adalah bangsa yang bergantung?'” kata Saleh dalam sebuah wawancara di BBC.

“Tentu saja secara ekonomi kami bergantung. Tetapi dari sisi keamanan, ingat juga bahwa Barat bergantung pada kami,” katanya. “Kami memberikan pengorbanan utama kami untuk keamanan global. Dari Barat, akhir-akhir ini, hanya uang dan logam—uang dan senjata. Jadi tolong, pastikan ini tidak dianggap sebagai kasus amal. Kami adalah mitra.”

Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

Pasukan Amerika Serikat berpatroli di pangkalan militer Afghanistan di provinsi Logar. (Foto: Reuters/Omar Sobhani)

Banyak pemimpin oposisi Afghanistan melihat Ghani resisten terhadap orang Amerika yang mendorong perjanjian damai, karena—kata mereka—ia khawatir hal itu dapat mengganggu upayanya untuk mengamankan periode jabatan keduanya.

“Alih-alih menciptakan harapan dan memimpin proses kritis ini, pemerintah berusaha merusak proses dan menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat,” kata Hanif Atmar, mantan penasihat keamanan nasional yang menantang Ghani dalam pemilu.

Atmar mengatakan bahwa pemerintah harus merangkul prospek negosiasi dengan Taliban, dan “hanya dapat memainkan peran itu jika ingin keluar dari sudut isolasi dan pikiran sempit untuk menyatukan negara, dan bersiap untuk mengorbankan kekuatan untuk perdamaian.”

Sementara itu, para pejabat Ghani mengatakan bahwa para saingannya secara membabi buta menerima momentum dalam perundingan Amerika dan Taliban, karena mereka melihat prospek janji dari pemerintah sementara yang akan memberi mereka bagian kekuasaan—bahkan jika itu berarti menempatkan pencapaian selama 17 tahun terakhir ini dalam bahaya.

Baca juga: Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

Para asisten Ghani memperingatkan bahwa kesepakatan yang tergesa-gesa—seperti yang dibuat dalam kekosongan politik yang diciptakan setelah pendudukan Soviet berakhir pada tahun 1989—dapat menyebabkan anarki dan pertumpahan darah.

“Sejarah mendukungnya,” kata Davood Moradian, Direktur Institut Kajian Strategis Afghanistan, mengenai kekhawatiran Ghani. “Ada banyak kasus di mana Amerika Serikat meninggalkan sekutunya, dari Shah Iran hingga Mubarak Mesir. Dia benar-benar khawatir tentang pengabaian Afghanistan oleh AS.”

Kekhawatiran tentang penarikan Amerika Serikat ini diperkuat dalam laporan yang dirilis pada Kamis (24/1) pagi oleh Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan. Kontrol pemerintah Afghanistan atas negara itu telah menurun, kata laporan itu, di mana hanya 63 persen populasi yang tinggal di daerah tersebut yang berada di bawah kendali pemerintah pusat pada musim gugur yang lalu.

Kemunduran itu terjadi seiring militer Amerika meningkatkan kampanye pengebomannya di Afghanistan lima kali lipat selama tahun 2016. Tahun lalu saja, pesawat Amerika menjatuhkan lebih dari 6.800 amunisi, menurut laporan inspektur jenderal tersebut.

Moradian mengatakan bahwa sebagian dari perlawanan Ghani mungkin adalah kepentingan untuk mengamankan periode jabatan kedua, tetapi yang dipertaruhkan untuk Afghanistan adalah masa depan sistem yang dibangun dengan biaya yang besar.

“Mengingat bagaimana sifat Ashraf Ghani,” Moradian berkata, “Saya pikir dia hanya mengejar kepentingan pribadi. Tetapi dalam persimpangan sejarah ini, kepentingannya sejalan dengan kepentingan pembangunan negara dan tatanan konstitusional.”

Keterangan foto utama: Presiden Trump bersama Presiden Ashraf Ghani di New York pada tahun 2017. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Untuk Perlambat Kepergian AS, Afghanistan Tawarkan Pengurangan Biaya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top