perang dingin
Global

Benturan Konfusianisme China dan Kristen Barat, Pemicu Perang Dingin Baru

Berita Internasional >> Benturan Konfusianisme China dan Kristen Barat, Pemicu Perang Dingin Baru

Warisan Konfusianisme China berarti dapat menoleransi banyak sistem kepercayaan “di bawah surga,” tetapi desakan Amerika Serikat terhadap demokrasi liberal telah menggemakan eksklusivisme Kristen. Kita harus mengakui bahwa Amerika maupun China tidak setuju dengan cara masing-masing. Namun, perselisihan tentang demokrasi liberal lebih banyak tentang perbedaan tingkat implikasi, bukan perbedaan jenis.

Baca Juga: Tahun 2019, Ketika Strategi Global AS Akhirnya Berantakan

Oleh: Peter T. C. Chang (South China Morning Post)

Perang dagang yang sedang berlangsung hanyalah salah satu aspek dari pergulatan antara Amerika Serikat-China untuk menguasai dunia. Tidak seperti persaingan kekuatan-besar sebelumnya, perang dagang ini memiliki jebakan dari pertikaian peradaban. Sama halnya dengan Kristen Barat yang unggul berhadapan dengan kebangkitan Konfusianisme Timur, dengan konsekuensi yang berpotensi menjangkau hingga ke tatanan global yang ada saat ini.

Terdapat kegelisahan merebak apakah kedua raksasa tersebut memiliki cukup nilai inti yang sama untuk mengelola keseimbangan kekuatan secara damai, dan dapat mencegah Perangkap Thucydides yang ditakuti. Ketakutan ini sebenarnya jelas berdasar. Meski serupa dalam beberapa hal, Kristen dan Konfusianisme adalah tradisi yang berbeda, dengan asumsi teologis yang, jika tidak tertandingi, dapat membenturkan Amerika dan China dengan kuat.

Kristen, seperti Yudaisme, meyakini keberadaan hanya satu Tuhan yang benar. Tetapi, tidak seperti Yudaisme, Kristen melampaui etnosentrisme Yudaisme untuk merangkul universalisme Kristen. Tuhan Samawi dalam agama Kristen tidak lagi hanya untuk orang Yahudi, tetapi untuk semua orang. Namun, kekristenan tetaplah monoteistik, menuntut kesetiaan mutlak kepada satu Tuhan.

Bagi orang Kristen, seseorang harus memeluk iman injili agar dapat diselamatkan. Dengan kata lain, nasib manusia terletak pada agama Kristen, satu-satunya gerbang menuju surga.

Jejak motif-motif Kristen ini tidak salah lagi dapat ditemukan di Pax Americana. Setelah melangkah keluar dari isolasi, Amerika memainkan peran sentral dalam menstabilkan tatanan pasca Perang Dunia II. Meski dipuji sebagai abad Amerika, abad ke-20 juga memiliki kelemahan. Namun demikian, abad ke-20 ditandai dengan prestasi bersejarah.

Pertama, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Inisiatif yang dipimpin AS ini maupun berbagai inisiatif lainnya telah menetapkan kerangka kerja tatanan internasional baru. Orang-orang di mana pun bisa bercita-cita untuk mendapatkan eksistensi yang bermartabat dan bebas dari tirani.

Seperti yang dikatakan dengan fasih oleh mantan Presiden AS John F. Kennedy, “bukan hanya perdamaian bagi orang Amerika tetapi juga perdamaian untuk semua pria dan wanita, tidak hanya perdamaian untuk zaman kita, tetapi juga kedamaian sepanjang masa.” Orang-orang Amerika menganut misi ini sebagai “takdir nyata” untuk membimbing umat manusia seperti “kota yang bersinar di atas bukit.”

Sebagai pengingat akan eksklusivisme Kristen, orang-orang Amerika percaya pada jalan tunggal untuk mewujudkan dunia bebas ini: proses demokrasi liberal, yang dijunjung tinggi sebagai puncak bersejarah dari kemajuan politik manusia.

Kuil Konfusius Wenchang di Provinsi Hainan, China. (Foto: Simon Song)

Dalam Konfusianisme, para orang bijak China kuno juga membayangkan “tianxia,” di mana semua orang bisa hidup berdampingan secara harmonis di bawah surga.

Tetapi, tidak seperti monoteisme Kristen, China menganut politeisme, yang menyatakan kesetiaan pada Konfusianisme, Daoisme, dan Buddha secara bersamaan. Berbagai aliansi ini menggarisbawahi pendekatan pluralistik China untuk mencapai Dao di dunia ini dan di akhirat.

Tentu saja, tidak semua tradisi sama. Konfusianisme menegaskan dominasi, tetapi tidak ada doktrin Kristen yang setara tentang “umat pilihan Tuhan.” Keunggulan moral tidaklah ditentukan, tetapi didasarkan pada prestasi. Jika terbukti layak, siapa pun dapat memimpin di bawah surga.

Di Pax Sinica yang baru lahir, seseorang dapat melihat tanda-tanda Konfusianisme. Setelah Inisiatif Sabuk dan Jalan yang penting, Presiden China Xi Jinping di Kongres Rakyat Nasional ke-13 memperkenalkan visi andalan lainnya: “komunitas takdir bersama (community of common destiny).”

Meniru konsep “tianxia” Konfusianisme, Xi bersumpah untuk “membiarkan sinar matahari dari sebuah komunitas dengan masa depan bersama untuk kemanusiaan menerangi dunia.” Tujuannya adalah menandai “era baru” stabilitas dan kemakmuran global.

Meski memiliki aspirasi yang sama dengan Amerika, China menunjukkan perbedaan dalam upaya mengaktualisasikan tujuan ini. Menolak liberalisme demokratis sebagai “satu-satunya jalan” Barat, China memperjuangkan multilateralisme “banyak cara” ala Konfusianisme, membela hak prerogatif negara-negara untuk memetakan beragam kemajuan ideologis. Model China diklaim unik dan tidak akan dapat diulangi di tempat lain.

Baca Juga: Amerika dan China Menuju Perang Dingin yang Baru

Meski sungguh-sungguh, kampanye China untuk menempa tatanan dunia pluralistik dan alternatif tetap diterima sebagai agresif. Penindasan negara terhadap perbedaan pendapat dan penindakan yang keras di Xinjiang yang bergolak, di antaranya, telah menodai citra China di luar negeri dan mengikis kepercayaan akan kredibilitas pemerintah China untuk mengambil alih kepemimpinan global.

Tahun 2018, Wakil Presiden AS Mike Pence menyampaikan pidato yang menyengat, menyebut China otoriter, Orwellian, dan ekspansionis. Pernyataan itu secara luas ditafsirkan sebagai deklarasi perang dingin baru dan seruan untuk membangunkan kekuatan yang mengancam antipati terhadap nilai-nilai liberal dan demokratis dari Barat serta masyarakat beradab.

Peradaban harus saling bertanggung jawab. Tetapi teguran Barat terhadap China diwarnai dengan rasa tidak percaya diri yang meresahkan.

Orang Amerika, tentu saja, siap mengakui kegagalan mereka sendiri. Namun keyakinan semi-religius tetap ada: AS tetap diurapi sebagai “yang pertama di antara yang sederajat.” Di sebagian besar belahan dunia, agama adalah dimensi integral dari keberadaan manusia. Tetapi iman yang tak terkendali bisa berbahaya, seperti yang disoroti dalam studi sejarah Eropa.

Salah satu noda gelap seperti itu adalah kekerasan tanpa ampun yang dilakukan oleh umat Katolik dan Protestan terhadap satu sama lain selama Reformasi. Dihidupkan kembali oleh barbarisme yang dilakukan atas nama Tuhan, Eropa beralih ke Filsafat Pencerahan untuk mengekang teologi yang cenderung sempit.

Di Amerika, para pendiri bangsa mendirikan dunia baru yang bebas dari persekusi agama. Tetapi “tanah orang bebas” tidak sepenuhnya bebas dari fanatisme agama.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He di Gedung Putih di Washington pada tanggal 31 Januari 2019. Meskipun terjadi perselisihan yang terus-menerus antara Amerika dan China, Trump mengisyaratkan bahwa telah terjadi kemajuan dalam pembicaraan antara keduanya dan menyebut Liu salah satu dari “pria paling dihormati di dunia.” (Foto: AP)

Messiah complex” terus menjangkiti Amerika, dengan kecenderungan untuk menjelekkan musuh dan memperlakukan tantangan pada keunggulannya sebagai pertempuran antara yang baik dan yang jahat. Perasaan luar biasa Amerika sebagai satu-satunya kekuatan kebaikan adalah anakronistis. Upaya menghilangkan orang lain sebagai perbedaan bawaan (atau “kejahatan”), ketika dunia berada dalam gelombang tektonik-geopolitik, adalah tindakan berbahaya.

Dasar-dasar moral Konfusianisme Timur dan Kristen Barat pada dasarnya tidak berbeda. Rekam jejak China dalam hal hak asasi manusia, misalnya, tetap buruk. Tapi hal ini lebih disebabkan oleh kecacatan dalam praktik, bukan karena prinsip jahat. China juga memegang nilai-nilai yang sama dengan nilai inti Amerika: untuk mewujudkan kebaikan universal. Kita harus mengakui bahwa Amerika maupun China tidak setuju dengan cara masing-masing. Namun, perselisihan tentang demokrasi liberal lebih banyak tentang perbedaan tingkat implikasi, bukan perbedaan jenis.

Kepemimpinan Amerika Serikat sangatlah penting dan akan tetap penting di abad ke-21. Tetapi Amerika harus melepaskan “manifest destiny” dari negara adikuasa eksklusif, dan merangkul China sebagai mitra yang layak dalam pencarian umat manusia untuk mewujudkan “komunitas takdir bersama” yang inklusif. Dengan demikian, Pax Americana dan Pax Sinica lebih mungkin untuk mencapai keseimbangan kekuatan yang damai, sehingga menghindari benturan yang ditakuti yang telah diramalkan oleh Perangkap Thucydides.

Peter T. C. Chang adalah pengajar senior di Institut Kajian China, Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Keterangan foto utama: Benturan Konfusianisme China dan Kristen Barat, memicu perang dingin baru. (Ilustrasi: South China Morning Post)

Benturan Konfusianisme China dan Kristen Barat, Pemicu Perang Dingin Baru

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top