Gempa dan Tsunami
Berita Politik Indonesia

Indonesia Belum Belajar dari Gempa dan Tsunami Sebelumnya

Jembatan yang roboh dengan grafiti di atasnya terlihat di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada tanggal 12 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Jorge Silva)
Berita Internasional >> Indonesia Belum Belajar dari Gempa dan Tsunami Sebelumnya

Setelah bencana di Sulawesi yang menewaskan sekitar 2.000 orang dan 5.000 lainnya menghilang, banyak yang berspekulasi bahwa Indonesia belum belajar dari gempa dan tsunami sebelumnya. Juru bicara BNPB Sutopo pun mengakui bahwa kesiapan Indonesia untuk menghadapi bencana dan kapasitas untuk menanggapi masih sangat kurang, setidaknya karena pendanaan publik yang sangat rendah. Selain itu, kurangnya latihan pendidikan dan keselamatan, membuat orang-orang tidak tahu cara melindungi diri mereka sendiri ketika gempa terjadi.

Baca juga: [INFOGRAFIK] Seberapa Parah Bencana Gempa-Tsunami Sulawesi 2018?

Oleh: Kanupriya Kapoor (Reuters)

Pemuda yang berdiri di atas tumpukan lumpur abu-abu dan puing-puing di pulau Sulawesi di Indonesia, menunggu ekskavator yang ia harapkan akan menggali jenazah orang tuanya, menyuarakan rasa putus asa yang dirasakan banyak orang di negara yang dilanda gempa tersebut.

“Ini adalah sesuatu yang terjadi sepanjang waktu di Indonesia. Mengapa kita tidak lebih baik dalam menanganinya?” Bachtiar menangis ketika mesin itu berdesing menggali reruntuhan dapur seseorang di kota Palu.

Gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter pada 28 September 2018 lalu, memicu tsunami dan pencairan tanah menjadi genangan yang luas (likuifaksi)—sebuah fenomena yang mengubah tanah menjadi lunak dan lumpur yang mendidih, dan menewaskan 2.073 orang, menurut perkiraan resmi terbaru. Lebih dari 5.000 korban kamungkinan masih hilang.

“Dalam setiap bencana, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik,” kata Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), minggu ini.

Sutopo mengakui bahwa kesiapan Indonesia untuk menghadapi bencana dan kapasitas untuk menanggapi masih sangat kurang, setidaknya karena pendanaan publik yang sangat rendah. Dia mengatakan bahwa anggaran untuk tanggap bencana negara saat ini adalah Rp4 triliun ($262 juta) per tahun, setara dengan 0,002 persen dari anggaran negara.

“Kita tidak boleh lupa bahwa akan ada banyak bencana yang akan datang. Ini membutuhkan anggaran,” katanya. “Kita perlu belajar dari Jepang karena mereka konsisten dalam persiapan.”

Para kritikus mengatakan bahwa, meskipun ada perbaikan pada tingkat nasional dalam penanggulangan bencana sejak tsunami Samudera Hindia yang menghancurkan pada tahun 2004, pihak berwenang setempat sering kekurangan pengetahuan dan peralatan, sehingga upaya penyelamatan ditunda sampai militer dapat mencapai daerah tersebut.

Selain itu, kurangnya latihan pendidikan dan keselamatan, membuat orang-orang tidak tahu cara melindungi diri mereka sendiri ketika gempa terjadi.

Gempa dan tsunami Palu adalah bencana gempa bumi kedua di Indonesia pada tahun 2018. Pada bulan Agustus, pulau Lombok diguncang oleh gempa yang meratakan desa-desa dan menewaskan lebih dari 500 orang.

Itu adalah yang terbaru dalam serangkaian tsunami mematikan yang menghantam Indonesia pada tahun 2005, 2006, dan 2010. Namun tidak satu pun dari bencana itu yang sebanding dengan tsunami tahun 2004 yang menewaskan sekitar 226 ribu orang di 13 negara, dan lebih dari 120 ribu korban di antaranya berasal dari Indonesia.

Indonesia terletak di bagian barat daya Cincin Api Pasifik dan secara praktis berada di atas lempeng tektonik yang terus bergerak, di bawah negara kepulauannya yang rimbun dengan lautan biru.

Kepulauan ini terbentang di sepanjang garis patahan di bawah Samudra Hindia di lepas pantai baratnya. Dan garis patahannya juga membentang ke utara di Pasifik Barat, termasuk di bawah Sulawesi.

Gunung berapi yang tersebar pulau-pulau di Indonesia telah membawa kehancuran yang membakar dan kesuburan yang luar biasa, tetapi pertumbuhan penduduk yang cepat selama beberapa dekade terakhir membuat semakin banyak orang kini tinggal di daerah berbahaya.

‘Ilmu Baru’

Pembunuh terbesar dan tak terduga di Sulawesi adalah pencairan tanah (likuifaksi)—sebuah fenomena di mana getaran yang intens menyebabkan pasir jenuh dan endapan lumpur berubah menjadi cairan.

Pencairan tanah itu menelan seluruh lingkungan kota Palu.

Dengan komunikasi yang terputus dan pemadaman listrik, tim penyelamat fokus terlebih dahulu di pantai Palu yang diporak-porandakan tsunami di utara, juga di hotel-hotel serta pusat perbelanjaan di distrik bisnisnya yang hancur.

Jalan menuju selatan—di mana kota Palu telah tumbuh dan berkembang—tak dapat dilalui, rusak parah atau terhalang oleh puing-puing.

Jadi butuh beberapa hari bagi tim penyelamat untuk mencapai daerah-daerah Balaroa, Petobo, dan Sigi, tempat para korban yang selamat mengatakan bahwa tanah menjadi hidup ketika gempa menghantam, menelan orang, kendaraan, dan ribuan rumah.

Likuifaksi adalah karakteristik umum dari gempa bumi berkekuatan tinggi, tetapi pemerintah Indonesia mengatakan masih belum ada pemahaman yang cukup tentang fenomena tersebut dan bagaimana mengurangi dampaknya.

“Likuifaksi adalah ilmu baru. Tidak ada pedoman tentang cara mengatasinya,” kata Antonius Ratdomopurbo, sekretaris Badan Geologi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kepada para wartawan minggu ini.

Seorang imam yang memimpin salat malam di sebuah masjid yang menampung para pengungsi di Palu. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

‘Pendidikan’

Sebuah sistem peringatan tsunami yang dipasang setelah tahun 2004, gagal menyelamatkan nyawa di Sulawesi: terlambat diketahui bahwa sistem itu telah rusak karena kelalaian atau vandalisme. Jaringan 22 buoy yang terhubung ke sensor dasar laut semuanya tidak beroperasi sejak tahun 2012.

Dengan listrik dan komunikasi yang terputus di Palu, tidak ada harapan untuk memperingatkan orang-orang melalui pesan teks atau sirine bahwa gelombang tsunami hingga enam meter (20 kaki) sedang menuju kota tersebut.

Tapi itu menyoroti apa yang dikatakan beberapa ahli, yang adalah sebuah pelajaran paling penting: Tidak seorang pun di daerah pesisir harus menunggu peringatan terlebih dahulu, jika mereka merasakan gempa besar.

“Gempa adalah peringatan,” kata Adam Switzer, ahli tsunami di Observatorium Bumi Singapura. “Ini tentang pendidikan.”

Baca juga: Bantuan Terbatas, Korban Selamat Gempa Palu Berjuang Bertahan Hidup

Tidak seperti di Jepang dan Selandia Baru yang rawan gempa, pendidikan dan latihan gempa hanya bersifat sporadis di Indonesia, sehingga hanya ada sedikit kesadaran publik tentang bagaimana cara merespons.

“Masalah dalam sistem peringatan dini tsunami bukanlah struktur… tetapi budaya di komunitas kami,” kata Sutopo.

Budaya itu termasuk ketahanan yang muncul dalam beberapa hari, seiring rakyat Palu mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan kehidupan mereka.

Kata-kata “Palu tidak mati,” dituliskan di papan reklame dekat pantai.

Eko Joko, istri, dan dua anaknya, telah menyelamatkan kayu dan logam untuk membangun kembali rumah toko (ruko) mereka yang rata dengan tanah.

“Saya memberitahu keluarga saya bahwa mereka harus kuat, tidak takut, sehingga saya bisa kuat,” kata Joko (41 tahun).

“Bencana ini belum menghancurkan kami.”

Laporan tambahan oleh Bernadette Christina Munthe di Jakarta; Penyuntingan oleh Robert Birsel dan John Chalmers.

Keterangan foto utama: Jembatan yang roboh dengan grafiti di atasnya terlihat di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada tanggal 12 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Indonesia Belum Belajar dari Gempa dan Tsunami Sebelumnya

BERLANGGANAN

2 Comments

2 Comments

  1. Fernandez Faith

    October 18, 2018 at 6:01 am

    Halo, saya Fernandez Faith, pemberi pinjaman pribadi, apakah Anda berutang kepada saya? Anda membutuhkan dorongan keuangan? Saya terdaftar dan disetujui di seluruh dunia untuk mengendalikan lembaga keuangan. Saya memberikan pinjaman lokal dan internasional kepada semua orang yang membutuhkan pinjaman, dan dapat membayar pinjaman dengan tarif 2%. Tidak membutuhkan banyak dokumen. Jika Anda ingin mendapatkan pinjaman dari perusahaan kami.
    Anda dapat menghubungi kami melalui Email: fernandezfaithloanfirm@gmail.com
    Terima kasih
    Fernandez Loan Firm
    Nyonya Fernandez Faith

  2. Marlon

    October 15, 2018 at 5:36 pm

    Pemimpin kita ini lg mabok pujian… .. Indonesia ngak ada hubungan perang dagang mereka. … Jadi jangan cari musuh yg ngak perlu… . Satu dua langkah bagus…. Namun tiga dan seturusnya kacau pak boss.. .. Evaluasi dulu apa ini menguntungkan bagi indonesia jangka pendek…menengah ato panjang…. Jgn justru bsk2 kita tanggung kerugian….

Beri Tanggapan!

To Top