pariwisata halal
Berita Politik Indonesia

Indonesia Berencana Wujudkan Pariwisata Halal

Berita Internasional >> Indonesia Berencana Wujudkan Pariwisata Halal

Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Wajar jika negara dengan 260 juta jiwa ini ingin membidik pariwisata yang menarik wisatawan Muslim, khususnya untuk pariwisata halal. Data statistik menunjukkan bahwa nilai pasar Muslim di seluruh dunia mencapai $2,3 triliun. 

Baca Juga: Penindasan Uighur Xinjiang: China dan Kelemahan Dunia Islam

Oleh: Muhammad Zulfikar Rakhmat dan Dikanaya Tarahita (International Policy Digest)

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata halal telah mengalami pertumbuham secara substansial dan menempati segmen penting dari pariwisata internasional. Data statistik menunjukkan bahwa nilai pasar Muslim di seluruh dunia mencapai $2,3 triliun. Dengan perkiraan pertumbuhan hingga 20 persen per tahun, industri halal global ini telah menjadi segmen konsumen dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Terdapat dua alasan mendasar untuk ini. Pertama, industri halal kini telah berkembang melampaui ruang lingkup sektor makanan yang dikenal pada umumnya. Produk halal saat ini termasuk kosmetik, obat-obatan, peralatan mandi, hingga merambah ke industri jasa, seperti keuangan, logistik, pariwisata, pemasaran, agen perjalanan, dan media massa Islam.

Kedua, pangsa pasar Muslim sangat besar, dengan total pengikut sekitar 1,8 miliar orang. Namun, pasar halal tidak eksklusif untuk umat Islam. Produk halal membutuhkan seperangkat aturan yang harus dipenuhi karena mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika, tanggung jawab sosial, keadilan ekonomi dan sosial, kesejahteraan hewan, dll. Dengan adanya promosi konsumerisme etis, permintaan akan produk bersertifikat halal dari konsumen non-Muslim terus meningkat.

Dengan prospek luar biasa seperti itu, ada banyak pertanyaan tentang pengembangan industri halal di Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Sangat menarik untuk melihat apakah Indonesia mampu memanfaatkan momentum dan menjadikan pasar ini kuda hitam yang akan memperkuat ketahanan ekonomi nasionalnya.

Sekilas tentang industri halal Indonesia

Pada dasarnya, industri halal telah mendapat perhatian dari pemerintah maupun pelaku industri dalam negeri di Indonesia. Hal ini terbukti dengan diadakannya Konferensi Gaya Hidup Halal Internasional pada bulan Oktober 2018 oleh Bank Indonesia (BI) sebagai forum bisnis untuk membantu membuka potensi Indonesia dalam rantai industri halal global.

Namun, seperti dikutip oleh Jakarta Post, direktur keuangan Syariah Bank Indonesia Anwar Bashori mengatakan, “Namun, hari ini kita masih menjadi konsumen. Indonesia perlu berada di posisi untuk menjadi produsen produk halal. Dan kita [masih] belum memiliki peraturan untuk membangun ekosistem halal.”

Sangat disayangkan bahwa meskipun merupakan populasi Muslim terbesar dengan prospek ekonomi yang kuat, Indonesia hanya berada di peringkat ke-11 dalam indikator keuangan Islam berdasarkan data terbaru dari Global Islamic Economic Report 2017/2018. Angka itu menunjukkan Indonesia tertinggal dari negara tetangganya, Malaysia, yang berada di posisi pertama.

Diharapkan, dengan dukungan banyak pihak, Indonesia dapat mengejar ketinggalan. Mengingat bahwa 13 persen dari populasi Muslim dunia, diperkirakan sekitar 207 juta orang, terletak di Kepulauan Indonesia, Indonesia dapat muncul sebagai produsen utama produk halal selain memasok pasar domestiknya yang besar.

Strategi untuk secara bertahap mengubah Indonesia menuju posisi produsen produk halal tentu saja memerlukan perencanaan yang matang. Karena alasan ini, dengan sumber daya dan dana yang terbatas, pemerintah perlu melihat sektor mana yang memiliki potensi ekonomi paling signifikan. Melihat kelebihan dan keunggulan kompetitif yang dimiliki Indonesia, ada dua sektor industri utama yang dapat berkembang pesat, yaitu industri makanan dan pariwisata.

Industri makanan halal

Berbeda dengan popularitas industri keuangan Islam yang relatif baru bagi masyarakat Indonesia, permintaan untuk sertifikasi produk halal, terutama untuk makanan, sudah ada. Bahkan, LPPOM MUI yang menyediakan sertifikasi halal didirikan pada bulan Januari 1988. Operasi dalam bentuk inspeksi/audit, penentuan fatwa, dan penerbitan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI telah diakui, dan beberapa di antaranya bahkan telah diadopsi oleh lembaga sertifikasi halal di luar negeri, yang kini telah mencapai 42 lembaga dari 25 negara.

Penjual jajanan jalanan di Jakarta. (Foto: CEphoto)

Karena sistem sertifikasi dan standardisasi telah diatur dengan baik, industri makanan dapat menjadi garda depan bagi Indonesia untuk mengembangkan sayapnya dan menjadi produsen global produk makanan halal. Meskipun keberadaan produk bersertifikat halal sudah besar, dalam praktiknya peraturan MUI belum sepenuhnya dilaksanakan. Hal ini karena masih banyak produk, lokal maupun asing, yang tidak bersertifikat halal dan beredar bebas di pasaran.

Baca Juga: Industri Pariwisata Indonesia: Berkembang Pesat, Penuh Harapan

Aturan yang membutuhkan sertifikasi halal sebenarnya diatur dalam UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Meski demikian, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW) Ikhsan Abdullah, ketentuan tersebut rencananya akan diterapkan pada tahun 2019. Ia juga mengatakan bahwa rumitnya skema perizinan, waktu, dan mahalnya biaya memperoleh sertifikasi halal menyebabkan sebagian besar produk, terutama dari industri UMKM, banyak yang belum memperoleh sertifikasi halal pada produk yang mereka hasilkan.

Karena kurangnya ketegasan pemerintah dalam mengharuskan sertifikasi halal dan kurangnya kesadaran pemain industri untuk mendaftarkan produk mereka, peran ekspor produk halal Indonesia masih relatif kecil, yaitu 21 persen dari total ekspor secara keseluruhan, meskipun permintaan meningkat. Indonesia memiliki banyak program untuk memaksimalkan potensi industri makanan halal, termasuk kebutuhan untuk menciptakan ekosistem halal industri yang mendukung dengan memperkuat regulasi, memantau praktiknya, promosi yang efektif, dan menjembatani koordinasi erat antara sektor-sektor terkait.

Industri pariwisata halal

Pariwisata halal adalah segmen yang terus tumbuh secara global. Bahkan, pengeluaran wisatawan Muslim global adalah yang terbesar di dunia untuk sektor pariwisata, mencapai $169 miliar pada tahun 2016 dan diperkirakan akan terus tumbuh menjadi $283 miliar pada tahun 2022.

Berita baiknya adalah bahwa Indonesia telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap sektor ini di mata dunia. Menempati posisi ke-4 dari jumlah wisatawan Muslim dengan total wisatawan domestik dalam skala jutaan, orang-orang di Indonesia bahkan dapat menghabiskan $9,7 miliar per tahun. Sangatlah jelas bahwa industri pariwisata halal memiliki potensi untuk menjadi bidang ekonomi yang menguntungkan bagi Indonesia.

Pariwisata selalu berubah tergantung pada tren. Tingginya permintaan akan pariwisata halal, yang berasal dari dalam maupun luar negeri, harus segera ditanggapi oleh pemerintah agar tidak kehilangan momentum. Namun, perlu dicatat bahwa menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata halal tidak berarti menghilangkan nilai budaya yang merupakan orisinalitas daerah.

Dalam hal industri, pariwisata halal sebenarnya merupakan perpanjangan dari produk pariwisata yang lebih inklusif dengan fasilitas tambahan untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan Muslim. Misalnya, penambahan fasilitas rekreasi yang menyediakan tempat ibadah, tempat wudhu khusus, memiliki daftar restoran bersertifikat halal, fasilitas hotel syariah, ketersediaan label halal untuk produk souvenir, layanan agen perjalanan syariah, destinasi keagamaan, dan lain-lain. Ketersediaan fasilitas ini tidak hanya dapat dinikmati oleh wisatawan Muslim, tetapi wisatawan non-Muslim juga dapat menikmati fasilitas yang disediakan.

Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki tidak kurang dari 800 ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah tersebut telah mulai mendapatkan pengakuan internasional sebagai tujuan wisata ramah Muslim. Dalam kompetisi Penghargaan Wisata Halal Dunia 2016 di Abu Dhabi, Indonesia memenangkan 12 dari 16 kategori penghargaan, termasuk Maskapai Terbaik Dunia untuk Pelancong Halal, Bandara Terbaik Dunia untuk Pelancong Halal, Resort Pantai Halal Terbaik Dunia (Novotel Lombok Resort), Destinasi Halal Terbaik Dunia (Sumatra Barat), Destinasi Bulan Madu Halal Terbaik Dunia (Wilayah Desa Sembalun, Lombok), Destinasi Kuliner Halal Terbaik Dunia (Sumatra Barat), dan Destinasi Budaya Halal Terbaik Dunia (Aceh).

Kemenangan ini diharapkan dapat mendorong pemerintah, pemangku kepentingan terkait, dan masyarakat Indonesia untuk terus bekerja meningkatkan indeks daya saing pariwisata dengan menambahkan karakteristik pariwisata halal ke dalam skema promosinya. Peningkatan wisatawan Timur Tengah yang tumbuh sebesar 32 persen pada tahun 2016 juga memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan valuta asing negara itu yang mencapai $13 miliar.

Bersamaan dengan itu, koordinasi dari kementerian pariwisata dengan pihak terkait harus efektif sehingga anggaran yang ada dapat difokuskan pada peningkatan infrastruktur, kesiapan SDM, dan promosi integratif sehingga dapat mempercepat pertumbuhan pariwisata halal di Indonesia.

Keterangan foto utama: Suasana pasar di Indonesia. (Foto: Flickr/Andreia)

Indonesia Berencana Wujudkan Pariwisata Halal

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top