Ekspor Batubara
Berita Politik Indonesia

Indonesia Ingin Ekspor Lebih Banyak Batubara, Namun Pembeli Mengabaikan

Foto ini diambil pada tanggal 19 Mei 2017, yang menunjukkan tambang batubara terbuka di Jambi. (Foto: AFP/Goh Chai Hin)
Indonesia Ingin Ekspor Lebih Banyak Batubara, Namun Pembeli Mengabaikan

Indonesia berencana untuk mengekspor lebih banyak batubara, namun tampaknya para pembeli mengabaikannya. Ekspor batubara Indonesia telah sedikit menurun pada bulan September, yang membuat Indonesia berencana meningkatkan produksi batubaranya di tahun 2018. Salah satu target pasar Indonesia adalah India, di mana Indonesia harus berjuang melawan negara-negara eksportir lain yang tampaknya akan menang di India.

Baca juga: Indonesia melanjutkan beberapa pengiriman batubara ke Filipina tengah khawatir pembajakan

Oleh: Clyde Russell (Independent Online)

Indonesia ingin mengekspor lebih banyak batubara untuk mendapatkan dolar Amerika Serikat (AS), guna menopang mata uangnya yang goyah, tetapi masalahnya adalah para pembeli tampaknya tidak mendengar pesan itu.

Ekspor batubara Indonesia turun menjadi 24,8 juta ton pada bulan September, turun 12,4 persen dari 28,3 juta ton pada bulan Agustus, dan 10 persen dari 27,6 juta ton pada bulan yang sama pada tahun lalu, menurut data pelacakan kapal dan pelabuhan yang disusun oleh Refinitiv.

Jika penurunannya belum cukup mengkhawatirkan, itu terjadi bahkan ketika harga batubara kelas bawah Indonesia berada pada diskon terbesar dibandingkan batubara termal Australia berkualitas lebih tinggi.

Indonesia berencana untuk meningkatkan produksi batubara di tahun 2018 menjadi sekitar 507 juta ton, naik dari target sebelumnya sebesar 485 juta ton. Tujuannya adalah untuk mengonversi dolar AS tambahan dari penjualan bahan bakar ke dalam rupiah, yang telah turun sekitar 12 persen sepanjang tahun ini terhadap mata uang AS.

Secara teori, para importir seharusnya tertarik untuk meningkatkan pembelian batubara Indonesia, karena diskon besar-besaran dibandingkan kargo Australia dapat mengompensasi nilai energi yang lebih rendah.

Harga batubara termal di pelabuhan Newcastle Australia—yang dinilai oleh Argus Media—adalah $112,25 per ton dalam minggu ini, yang berakhir pada tanggal 5 Oktober.

Batubara peringkat rendah Indonesia, dengan kandungan energi 4.200 kilokalori per kilogram (kkal/kg), berada di angka $38,88 per ton pada akhir minggu yang sama, menurut Argus.

Ini merupakan diskon $73,37 per ton—rekor terbesar—melebihi $61,07 yang tercatat pada bulan November 2016, menurut data Argus.

Bahkan batubara Indonesia dengan kandungan energi serupa ke Newcastle diperdagangkan dengan harga yang cukup besar, dengan harga referensi pemerintah Indonesia, yang dikenal sebagai HBA COAL-HBA-ID, ditetapkan pada angka $100,89 per ton untuk bulan Oktober.

HBA adalah harga gabungan yang terdiri dari penilaian Kalimantan Timur 5.900 kkal/kg, Argus-Indonesia Coal Index untuk 6.500 kkal/kg, Indeks Ekspor Newcastle sebesar 6.322 kkal/kg, dan kelas Newcastle global COAL 6.000 kkal/kg.

Sebenarnya, indeks HBA menetapkan harga untuk banyak ekspor batubara termal Indonesia, dan diskonnya ke Newcastle harus memberikan dukungan untuk ekspor dari negara Asia Tenggara.

Indonesia—yang merupakan pengekspor batubara termal terbesar di dunia, yang digunakan untuk pembangkit listrik—memiliki dua pelanggan utama, China dan India, dua importir batubara terbesar di dunia.

Pembeli China terutama menggunakan batubara Indonesia sebagai bahan baku yang dicampur dengan pasokan domestik—menutup kerugian nilai energi untuk sulfur dan abu yang lebih rendah.

Ekspor Indonesia ke China naik dengan kuat dalam sembilan bulan pertama tahun ini, mencapai 89,7 juta ton, 18,8 persen di atas tingkat untuk periode yang sama tahun lalu, menurut data pelacakan kapal.

Namun, sebagian besar kekuatan ini terjadi pada kuartal pertama di tahun 2018, dan pada bulan September yang menandai bulan ketiga penurunan impor dari Indonesia.

China mengimpor 7,5 juta ton dari Indonesia pada bulan September, menurun tajam dari 9,7 juta ton pada bulan Agustus, menjadikannya sebagai bulan terlemah sepanjang tahun ini.

Perjuangan India

Berita tentang impor India tidak terlalu buruk bagi eksportir Indonesia, dengan 7,1 juta ton pada bulan September, turun sedikit dari 7,4 juta ton pada bulan Agustus.

Namun, untuk sembilan bulan pertama tahun ini, impor India dari Indonesia relatif datar, turun sedikit menjadi 57,8 juta ton dari 58,2 juta pada periode yang sama di tahun 2017.

Apa yang mengkhawatirkan bagi eksportir batubara Indonesia adalah, bahwa saingan mereka tampaknya akan menang di India, sementara mereka berdiam diri.

India membeli 12,5 juta ton batubara dari Amerika Serikat pada periode Januari-September, naik 49 persen pada 8,4 juta ton impor pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Indonesia Bujuk (Bukan Paksa) Eksportir untuk Konversi Pendapatan Dolarnya

Dari Afrika Selatan, India mengimpor 25,9 juta ton dalam sembilan bulan pertama di tahun 2018, naik 16 persen dari 22,4 juta ton pada periode yang sama di tahun lalu.

Meskipun mayoritas ekspor batubara Australia ke India adalah batubara kokas yang digunakan dalam pembuatan baja, namun perlu dicatat bahwa ini juga meningkat dalam sembilan bulan pertama di tahun 2018, meningkat menjadi 34,7 juta ton dibandingkan dengan 30,4 juta ton pada periode tahun yang sama.

Apa yang diperlihatkan oleh angka-angka tersebut adalah bahwa Indonesia kemungkinan akan berjuang untuk meningkatkan ekspor batubara termal peringkat rendah utamanya, karena tampaknya tidak ada selera di kalangan pembeli, meskipun diskon untuk bahan bakar kelas yang lebih tinggi adalah yang terbesar yang pernah dilakukan.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Foto ini diambil pada tanggal 19 Mei 2017, yang menunjukkan tambang batubara terbuka di Jambi. (Foto: AFP/Goh Chai Hin)

Indonesia Ingin Ekspor Lebih Banyak Batubara, Namun Pembeli Mengabaikan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top