Abu Bakar Baasyir
Berita Politik Indonesia

Indonesia Mengalah, Bebaskan Ulama Pendukung Ekstremisme Abu Bakar Baasyir

Berita Internasional >> Indonesia Mengalah, Bebaskan Ulama Pendukung Ekstremisme Abu Bakar Baasyir

Abu Bakar Baasyir, yang ditangkap setelah bom Bali tahun 2002 karena mendukung aksi teror, dibebaskan oleh kandidat presiden petahana Joko Widodo, suatu langkah yang memicu kemarahan secara luas. Presiden Jokowi mengatakan, pembebasan Baasyir terkait masalah kemanusiaan. Sementara itu para penyintas Bom Bali mengatakan, keputusan itu menyakitkan.

Baca Juga: Sandera Indonesia Diselamatkan dari Abu Sayyaf di Sulu

Oleh: Niniek Karmini dan Stephen Wright (Times of Israel)

Seorang ulama Islam yang merupakan pemimpin ideologis para pelaku bom Bali dan teroris lainnya di Indonesia telah dibebaskan lebih awal dari hukuman penjara 15 tahun. Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo membebaskan Abu Bakar Baasyir dengan syarat bahwa ia melepaskan kepercayaan radikal, menurut pengacara, yang telah dikonfirmasi pada hari Sabtu (19/1).

Abu Bakar Baasyir sebelumnya tidak memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat karena penolakannya untuk mengakui otoritas pemerintah Indonesia yang menurutnya sekuler. Baasyir menegaskan dia hanya bertanggung jawab kepada Tuhan dan bahwa Indonesia harus diatur oleh hukum Islam.

Rencana pembebasannya datang selama kampanye Pilpres 2019, di mana Presiden Jokowi kembali mencalonkan diri dan telah banyak dipandang tidak cukup Islami.

Pengacara Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) dan penasihat kampanye Jokowi, mengatakan pada konferensi pers hari Sabtu (19/1) bahwa ia telah mengajukan masalah pemenjaraan Baasyir kepada Jokowi, yang “menghormati” kepercayaan Baasyir dan bersedia meringankan syarat pembebasannya.

“Presiden mengesampingkan peraturan menteri,” katanya. “Dari segi hukum, peraturan menteri adalah kebijakan, sehingga presiden sebagai pembuat kebijakan tertinggi dapat mengesampingkan peraturan menteri.”

Jokowi mengumumkan pada hari Jumat (18/1) bahwa Baasyir, 80 tahun, yang berada dalam kondisi kesehatan lemah, akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan. Tanggal pembebasannya belum diumumkan, tetapi diharapkan akan terjadi dalam beberapa hari. Ulama penghasut ekstremisme itu ditangkap segera setelah bom Bali tahun 2002. Sebagian besar dari 202 orang yang tewas dalam pengeboman itu adalah orang asing, termasuk puluhan warga Australia, dalam peristiwa yang telah meninggalkan bekas luka mendalam bagi Australia.

Tetapi para jaksa tidak dapat membuktikan serangkaian tuduhan terkait terorisme, dan Baasyir malah dihukum 18 bulan penjara karena pelanggaran imigrasi. Tahun 2011, ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena mendukung kamp pelatihan gaya militer untuk para militan Islam.

Baasyir, warga Indonesia keturunan Yaman, juga merupakan pendiri sekolah Islam di Solo, Jawa Tengah, yang dianggap oleh para pakar terorisme sebagai pabrik bagi para pelaku kekerasan ekstremis.

Bom Bali adalah titik balik dalam pertempuran Indonesia melawan para pelaku kekerasan ekstremis, menjadikan keamanan berat sebagai suatu norma di kota-kota besar dan menjalin kerja sama kontraterorisme yang lebih erat dengan Amerika Serikat dan Australia.

Warga dan turis asing mengevakuasi tempat ledakan bom di Denpasar, Bali, Indonesia, Minggu, 13 Oktober 2002. (Foto: AP Photo / Radar Bali)

Australia menentang Indonesia pada bulan Maret 2018 mengenai keringanan hukuman terhadap Baasyir, ketika pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan hukuman tahanan rumah dan bentuk-bentuk grasi lainnya. Berita tentang pembebasan ulama tersebut telah memicu kemarahan dan kesedihan baru di antara warga Australia.

Baca Juga: Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir

“Itu bukan perasaan yang menyenangkan,” kata penyintas dari bom Bali, Daniel Mortensen. “Bagi saya pribadi, saya tidak senang tentang hal itu. Bagi saya pribadi, dia seorang teroris. Orang-orang yang terlibat dengan kelompok-kelompok radikal ini menimbulkan rasa sakit pada dunia dan tidak boleh dilepaskan. Saya benar-benar percaya bahwa mata harus diganti mata,” kata Mortensen. “Jadi sangatlah mengecewakan mendengar bahwa dia dikeluarkan dari penjara oleh presiden Indonesia, dan tampaknya karena alasan politik.”

Perdana Menteri Australia Tony Abbott, istrinya Margie, dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika menghadiri upacara peletakan karangan bunga pada peringatan bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, selama kunjungan ke lokasi pengeboman di Kuta, Bali, Indonesia, Rabu, 9 Oktober 2013. (Foto: AP/Firdia Lisnawati)

Pengacara Baasyir, Muhammad Mahendradatta, yang juga merupakan pengacara lawan Jokowi dalam Pilpres 2019, jenderal purnawirawan Prabowo Subianto, mengatakan pembebasan itu merupakan proses hukum dan tidak seharusnya dipolitisasi.

“Pembebasan Abu Bakar Baasyir berdasarkan pada alasan kemanusiaan dan alasan yang dapat diterima menurut hukum,” kata Mahendradatta pada hari Sabtu (19/1). “Abu Bakar Baasyir juga menderita penyakit sehingga sudah seharusnya dia dibebaskan dan dirawat di rumah sakit.”

Tahun 2018, Baasyir dirawat karena pengumpulan darah di kaki, suatu kondisi umum pada orang lanjut usia, yang juga dikenal sebagai insufisiensi vena kronis.

“Saya terkejut bahwa dia akan dibebaskan,” kata Jan Laczynski, seorang warga Australia yang kehilangan lima orang temannya dalam pengeboman Sari Club di Bali tahun 2002 dan nyaris berada di tempat itu. “Berita yang benar-benar dahsyat, sama dahsyatnya sementara semua orang menderita melihatnya keluar dari penjara,” katanya.

Keterangan foto utama: Ulama Islam militan Abu Bakar Baasyir diwawancarai oleh Associated Press dalam foto tanggal 23 September 2002 di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)

Indonesia Mengalah, Bebaskan Ulama Pendukung Ekstremisme Abu Bakar Baasyir

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Fajar Nindyo

    February 16, 2019 at 7:15 pm

    Mahfudz MD menyatakan bahwa pembebasan Abu Bakar Ba’asyir harus memenuhi sejumlah syarat

Beri Tanggapan!

To Top