Indonesia Mulai Tenggelam ke Laut, dan Media Tak Juga Memberitakan
Berita Tentang Indonesia

Indonesia Mulai Tenggelam ke Laut, Media Tak Juga Memberitakan

Pemandangan Pantai Boa dari perairan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (Foto: Shutterstock/Gekko Gallery)

Kondisi lingkungan Indonesia makin mengkhawatirkan. Negara itu mulai tenggelam, dan 42 juta rumah tangga berisiko terbenam ke dalam laut pada 2050. Namun adakah pemberitaan media tentang hal itu? Ini adalah tulisan tentang bagaimana media Indonesia menarik garis antara kebutuhan akan pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Oleh: Al Jazeera

Pemandangan Pantai Boa dari perairan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Pemandangan Pantai Boa dari perairan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (Foto: Shutterstock/Gekko Gallery)

Dengan suhu dan permukaan air laut yang semakin mengkhawatirkan yang menempatkan 2.000 pulau di Indonesia—dan 42 juta rumah tangga berisiko tenggelam pada tahun 2050—kita akan mengharapkan berita tentang lingkungan menjadi tajuk rencana utama di Indonesia.

Tapi ketika Anda menonton atau membaca berita di media mainstream di sana, sulit menemukan cerita yang bisa mengalahkan bencana seperti kebakaran hutan atau tanah longsor, memeriksa siapa dan apa yang ada di belakang mereka.

Pada tahun 2015, kebakaran besar melanda hutan hujan Indonesia. Sekitar 2,6 juta hektar hutan (kira-kira seukuran Rwanda) dihanguskan untuk membuka bagi perkebunan kelapa sawit. Kebakaran telah menghasilkan—hanya dalam waktu tiga minggu—lebih banyak gas rumah kaca daripada yang dilakukan Jerman dalam setahun penuh.

Kebakaran hutan telah menjadi kejadian tahunan di Indonesia, dan masih saja, media di negara tersebut jarang merelakan kolom utama dan slot berita di prime time—sesuatu yang dibutuhkan untuk mengeksplorasi penyebab di baliknya.

“Lebih nyaman bagi wartawan meliput berita olahraga atau ekonomi, karena mereka memiliki nilai dan angka,” jelas Harry Surjadi, ketua Wartawan Lingkungan Hidup Indonesia—The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ). “Berita-berita itu jauh lebih mudah ditulis daripada berita lingkungan, di mana wartawan harus memahami biologi, ekologi, limbah dan kimia.”

Ketika mereka menutupi kebakaran hutan atau dampak pertambangan, mereka meninggalkan “subyek seperti ‘keracunan air karena limbah beracun atau polusi udara’ karena mereka tidak cukup tahu tentang subyek tersebut,” kata Merah Johansyah Ismail, manajer kampanye untuk LSM JATAM, jaringan advokasi pertambangan.

Kesediaan media di Indonesia untuk melaporkan isu-isu lingkungan—dan kehancurannya—sangat penting untuk membentuk lansekap media.

Sebagian besar saluran TV dan stasiun radio negara dimiliki oleh konglomerat, yang banyak memiliki saham besar di perusahaan agribisnis dan pertambangan.

“Pemilik media sering terhubung dengan pemilik perusahaan industri ekstraktif, seperti pertambangan atau kelapa sawit, yang merupakan salah satu penyumbang penggundulan hutan, kerusakan lingkungan dan polusi udara terbesar,” kata Sapariah Saturi, editor senior Mongabay Indonesia.

Pada bulan September 2015, Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan bahwa negara tersebut akan mengurangi pertumbuhan emisi gas rumah kaca hingga 29 persen pada tahun 2030. Pengumuman tersebut dimuat di seluruh wilayah berita Indonesia, namun sejak saat itu, masih sedikit tindak lanjut mengenai kemajuan apa yang telah dicapai sudah atau apakah ada rencana sama sekali untuk mencapai target ini.

Sangat sedikit debat media dan liputannya, sebagai upaya untuk melindungi hutan hujan di Indonesia, seringkali dibingkai dalam bentuk pilihan yang dilematis: antara ekonomi dan lingkungan.

“Saya telah belajar bahwa hanya jika media peduli dan melakukan pelaporan yang baik terhadap lingkungan, mungkin akan ada pengaruh pada kebijakan untuk melindungi kepulauan di Indonesia. Jadi, kecuali jika ada lebih banyak jurnalis yang menulis tentang masalah lingkungan, perubahan iklim tidak akan diantisipasi,” kata Surjadi.

Dengan batasan-batasan antara jurnalisme dan aktivisme yang kabur, kita melihat bagaimana media Indonesia memusatkan perhatian antara kebutuhan akan pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Kontributor: Harry Surjadi, ketua Wartawan Lingkungan Hidup Indonesia; Sapariah Saturi, editor senior, Mongabay-Indonesia; Merah Johansyah Ismail, manajer kampanye, LSM JATAM (Jaringan Advokasi Pertambangan); Indoarto Priadi, direktur pengelola, TVOne.

Indonesia Mulai Tenggelam ke Laut, Media Tak Juga Memberitakan
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top