Indonesia
Berita Politik Indonesia

Indonesia, Negara dengan 2.000 Bank Mencari Firma Asing untuk Merger

Berita Internasional >> Indonesia, Negara dengan 2.000 Bank Mencari Firma Asing untuk Merger

Indonesia memiliki sekitar 2.000 bank dan dengan jatuhnya nilai rupiah sampai hampir 11 persen tahun ini, membuka peluang bagi investor asing untuk membuat penggabungan. Walau nilai rupiah jatuh, tapi hal itu masih belum menyentuh bank-bank yang ada. Nasabah juga dikatakan tidak perlu khawatir dan buru-buru menarik uang mereka dari bank.

Baca juga: Apakah Gejolak Pasar Negara Berkembang Pertanda Krisis Ekonomi Lain?

Oleh: Rieka Rahadiana dan Tassia Sipahutar (Bloomberg)

Indonesia memiliki hampir 2.000 bank dan mata uang yang jatuh nilainya sebanyak 11 persen sejak Januari. Ini adalah kombinasi yang membebani harapan pembuat kebijakan, yang terbukti tidak bisa ditolak oleh para pembeli asing.

Pemberi pinjaman negara ini berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding saat Krisis Keuangan Asia pada tahun 1997-1998, dan telah terbukti bisa bertahan melawan pelemahan rupiah tahun ini, ujar Fauzi Ichsan, Kepala Eksekutif dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). “Konsolidasi akan baik dan dengan pelemahan rupiah, investor asing akan bisa membeli bank kita dengan lebih murah,” ujarnya dalam wawancara dengan Bloomberg minggu lalu.

Bahkan setelah beberapa merger (penggabungan) baru-baru ini, Indonesia masih memiliki 115 bank konvensional dan Syariah, dan hampir 1.800 pemberi pinjaman desa (rural lenders), yang bertugas melayani lebih dari 260 juta orang di seluruh penjuru kepulauan, menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Seiring peringatan pemerintah tentang pengambilalihan oleh asing, bank Jepang secara khusus telah meningkatkan langkah. Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc. telah mengumumkan rencana untuk mendapatkan kontrol dari rekanan lokal.

Sementara itu, Australia & New Zealand Banking Group Ltd. telah meningkatkan kembali usaha panjang mereka untuk menjual sahamnya di perusahaan keluarga PT Bank Pan Indonesia, ujar seseorang dengan pengetahuan soal hal ini minggu lalu.

Negara Asia Tenggara ini tidak memiliki staf dengan pengalaman yang cukup untuk mempertahankan institusi sebanyak ini, ujar Ichsan. “Sebagai pengatur kami tidak memiliki cukup banyak penyelia bank, dan industri ini tidak memiliki bankir yang berkualitas.”

Masalah Regulasi

Regulasi di Indonesia menjadikannya semakin sulit—walaupun bukannya mustahil—untuk bank asing berinvestasi lebih dari 40 persen di pemberi pinjaman lokal. DBS Group Holdings Ltd. dari Singapura membatalkan tawaran untuk membeli PT Bank Danamon Indonesia di tahun 2013 setelah peraturan kepemilikan diperkenalkan. Kesepakatan lain sejak saat itu telah disetujui, karena melibatkan membeli dua peminjam dan menyatukan mereka, atau membeli aset yang tidak baik.

Rupiah telah jatuh sampai hampir 11 persen sejak penjualan besar-besaran di pasar negara berkembang dimulai akhir Januari lalu, membuat bank sentral meningkatkan suku buka sampai empat kali, dan mengetatkan intervensi pasar dengan menguras devisa asing.

Namun, tidak seperti situasi saat krisis Asia—ketika rupiah mengalami kejatuhan yang lebih curam—bank-bank di Indonesia secara relatif tidak tersentuh, ujar Ichsan.

“Indikasi utama bagi bank-bank jauh lebih baik saat ini,” ujar Ichsan, mengingat histeria yang melanda pasar saat krisis Asia, saat itu dia adalah pialang saham di Citigroup Inc. di Singapura.

Baca juga: Tak Ada Bantuan untuk Pasar Negara Berkembang, Mata Uang Bisa Terus Merosot

Indonesia menutup 16 bank seiring rasio kecukupan modal industri jatuh sampai minus 15,7 persen, dan pinjaman yang tersendat melonjak sampai hampir 50 persen.

Saat ini, rasio kecukupan modal untuk bank Indonesia berada sekitar 22 persen, termasuk yang paling tinggi secara regional, sementara rasio kotor pinjaman tersendat telah jatuh ke 2,7 persen, menurut data LPS, yang ketuanya adalah anggota dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Lembaga ini memiliki rekor 101,3 triliun rupiah dana tersedia dalam kejadian mereka diminta untuk membayar para nasabah seandainya suatu bank gagal, ujar Ichsan.

Namun, progres penyatuan bank belakangan ini berjalan lambat. Sejak Bank Indonesia mengeluarkan program konsolidasi di tahun 2005, hanya sedikit yang disatukan, sementara 90 pemberi pinjaman desa entah tutup atau dalam proses melambat.

Tetap saja, LPS memiliki cukup uang untuk menjamin deposit tujuh pemberi pinjaman, termasuk bank-bank yang penting secara sistematis, ujar Ichsan. LPS menjamin simpanan sampai dua miliar rupiah per nasabah dan total jumlah yang dijamin adalah 2,411 triliun rupiah pada bulan Juli, menurut data LPS.

“Jumlah dana kami mencukupi untuk memberikan kepercayaan kepada publik agar tidak terburu-buru ke bank untuk menarik uang mereka, bahkan jika bank tersebut tidak terlalu sehat,” ujar Ichsan.

Keterangan foto utama: Ada lebih dari 2.000 bank di Indonesia. (Foto: Dimas Ardian/Bloomberg)

Indonesia, Negara dengan 2.000 Bank Mencari Firma Asing untuk Merger

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top