pelaku bom Surabaya
Berita Politik Indonesia

Indonesia Terancam Pelaku Bom Bunuh Diri Mengerikan: Orang Tua dan Anak-anaknya

 Petugas polisi di luar kantor polisi di Surabaya, Indonesia, setelah ledakan pada hari Senin, 14 Mei 2018. Sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang meledakkan sebuah bom di pintu masuk markas polisi Surabaya pada hari Senin (14/5), melukai empat petugas polisi. (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)
Home » Berita Politik Indonesia » Indonesia Terancam Pelaku Bom Bunuh Diri Mengerikan: Orang Tua dan Anak-anaknya

Negara ini telah mengalami banyak serangan di tahun-tahun setelah serangan 11 September di Amerika Serikat, termasuk bom bunuh diri yang mematikan di pulau Bali pada tahun 2002 dan 2005, dan pengeboman hotel internasional di Jakarta pada tahun 2003 dan 2009.

    Baca juga: Bom Bunuh Diri Serang Surabaya, Jokowi: ‘Tidak Ada Kompromi dengan Para Teroris’

Oleh: Joe Cochrane (The New York Times)

Gelombang bom bunuh diri mematikan pada hari Minggu (13/5) dan Senin (14/5) dan bukti yang lebih terencana telah mengguncang Indonesia tepat sebelum bulan suci Ramadhan, dengan seluruh keluarga—termasuk anak-anak—melakukan serangan bunuh diri terhadap jamaah Kristen dan polisi.

Yang meresahkan pada Senin (14/5) yaitu penemuan bom rakitan di sebuah kompleks perumahan di selatan Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, sehari setelah anggota satu keluarga melakukan tiga serangan terhadap gereja-gereja berbeda di kota itu di sekitar waktu Misa, menewaskan tujuh orang.

Pada Minggu (13/5) malam, tiga anggota keluarga lain, termasuk seorang anak, tewas ketika sebuah bom meledak di rumah susun mereka di selatan Surabaya ketika polisi masuk untuk menangkap mereka.

Dan pada Senin (14/5) pagi, sebuah keluarga beranggotakan lima orang mengendarai dua sepeda motor meledakkan sebuah bom di pintu masuk Mabes Polri Surabaya—membunuh semua keluarga itu kecuali satu anak, dan melukai empat petugas polisi. Seorang gadis 8 tahun yang datang bersama para penyerang tersebut selamat dari ledakan dan dibawa ke rumah sakit.

Tingkat pembunuhan besar-besaran dan fakta bahwa anak-anak terdaftar dalam serangan bom bunuh diri itu menarik kecaman dari pemimpin negara, Presiden Joko Widodo, yang menyebut mereka “barbar.” Semua mengatakan, 12 warga sipil dan 13 tersangka teroris meninggal selama dua hari kekerasan itu, dengan sedikitnya 46 orang terluka, termasuk petugas polisi.

Pejabat polisi mengatakan para penyerang, entah mempunyai ikatan darah atau ikatan lainnya, bekerja sama.

“Mereka berasal dari satu organisasi,” Jenderal Tito Karnavian, kepala Polisi RI, mengatakan selama konferensi pers hari Senin (14/5) di Surabaya. Ibukota Provinsi Jawa Timur dengan populasi hampir tiga juta itu, memiliki komunitas Kristen etnis China yang besar.

Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, di Jawa Timur, Indonesia, adalah salah satu dari tiga gereja yang ditargetkan oleh pengebom bunuh diri pada hari Minggu, 13 Mei 2018. (Foto: Pemkot Surabaya/Getty Images/Andy Pinaria)

Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, di Jawa Timur, Indonesia, adalah salah satu dari tiga gereja yang ditargetkan oleh pengebom bunuh diri pada hari Minggu, 13 Mei 2018. (Foto: Pemkot Surabaya/Getty Images/Andy Pinaria)

Sehari sebelumnya, Tito Karnavian mengatakan bahwa keluarga yang dicurigai dalam serangan bom bunuh diri itu baru-baru ini kembali ke Indonesia setelah dideportasi dari Suriah.

Pada hari Senin (14/5), Tito Karnavian mengatakan bom bunuh diri yang meledak pada hari Minggu (13/5) dan Senin (14/5) rakitannya mirip—sangat kuat dan sensitif terhadap gerakan—dengan yang digunakan oleh Negara Islam (ISIS) dalam perangnya di Irak dan Suriah.

Dia mengatakan bahwa jenis bom ini dikenal sebagai Mother of Satan.

ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri itu, menggambarkan masing-masing pengeboman sebagai operasi “syahid” yang dilakukan oleh tiga mode serangan: bom mobil, rompi bunuh diri dan bom yang dibawa menggunakan sepeda motor.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, mempraktekkan salah satu bentuk Islam paling moderat di dunia, tetapi masih memiliki masalah terorisme lokal. Negara ini telah mengalami banyak serangan di tahun-tahun setelah serangan 11 September di Amerika Serikat, termasuk pengeboman teroris yang mematikan di pulau Bali pada tahun 2002 dan 2005, dan pengeboman hotel internasional di Jakarta pada tahun 2003 dan 2009.

Tetapi penggunaan anak-anak dalam plot teroris, kata para analis, mewakili perkembangan baru dan mengejutkan di Indonesia.

“Itu merupakan cara yang benar-benar tidak terduga, dan itu meningkatkannya ke tingkat kengerian yang baru, menggunakan anak-anak dalam hal semacam ini,” kata Ken Conboy, seorang konsultan keamanan dan analis kontraterorisme di Jakarta.

    Baca juga: Desakan Pengesahan RUU Terorisme Pasca-Serangan Bom di Indonesia

Selama serangan hari Minggu (13/5) pagi, seorang pengebom bunuh diri tampaknya menyamar sebagai seorang jemaat gereja. Di tempat lain, seorang penyerang mengendarai Toyota Avanza dengan bom. Penyerang lainnya terlihat dalam rekaman yang sedang melaju dengan skuter ke arah sebuah gereja sebelum ledakan terjadi.

Di Sidoarjo, selatan Surabaya, sebuah bom diledakkan di dalam rumah susun salah satu keluarga ketika polisi menuju ke sana pada Minggu (13/5) malam, membunuh suami dan istri dan salah satu anak mereka, dan melukai tiga anak lainnya, kata Kombes. Pol. Frans Barung Mangera. Dia mengidentifikasi tersangka mati sebagai Anton Ferdiantono (46) yang kemudian dikatakan oleh pejabat polisi adalah teman dari orang di balik pengeboman gereja.

Dalam ledakan bom terakhir, pada hari Senin (14/5), empat dari lima orang yang tewas di sepeda motor, dan yang kelima, gadis 8 tahun, dibawa ke rumah sakit, kata Frans, juru bicara polisi. Empat petugas polisi dilaporkan terluka. Sebuah video yang dirilis oleh outlet berita Indonesia nampaknya menunjukkan ledakan yang berpusat pada salah satu sepeda motor, melukai petugas polisi dan merusak mobil di dekatnya.

Polisi anti-terorisme mengatakan mereka menggerebek kompleks perumahan lain di Sidoarjo pada Senin (14/5) pagi, menjinakkan beberapa bom rakit setelah warga sekitar mengungsi.

Gelombang serangan mematikan dimulai dengan pengeboman gereja Minggu (13/5), yang menyebabkan sedikitnya 43 orang terluka dan terjadi di beberapa tempat dengan hanya selang waktu beberapa menit, menurut polisi.

Anggota keluarga dalam pengeboman gereja telah diidentifikasi sebagai Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswati. Dua putra mereka, berusia 18 dan 16 tahun, juga terlibat, serta dua anak perempuan, berusia 9 dan 12 tahun, menurut polisi.

Polisi mengatakan ayah di keluarga itu telah menurunkan istri dan dua putrinya di Gereja Kristen Indonesia. Di sana, sang istri berusaha memaksa masuk, meledakkan sebuah bom di luar pintu masuk dan membunuh dirinya sendiri serta kedua putrinya, kata polisi.

Anak-anak laki-lakinya mengendarai sepeda motor menuju ke target mereka, Gereja Santa Maria, sebelum meledakkan bahan peledak mereka, menurut polisi.

Sang ayah berada di belakang kemudi mobil yang menabrak gereja ketiga, Pusat Pentakosta Surabaya, meledakkan bom yang diyakini berada di dalam kendaraan, kata polisi.

Keenam anggota keluarga tewas dalam ledakan itu, kata polisi.

Polisi kemudian menonaktifkan tiga bom di rumah keluarga tersebut.

Anggota keluarga pada hari Senin (14/5) berduka atas salah satu korban yang tewas dalam serangan gereja hari Minggu (13/5) di Surabaya. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Juni Kriswanto)

Anggota keluarga pada hari Senin (14/5) berduka atas salah satu korban yang tewas dalam serangan gereja hari Minggu (13/5) di Surabaya. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Juni Kriswanto)

Pengeboman terjadi ketika para pengikut ISIS telah mulai menunjukkan kehadiran mereka di Indonesia, yang membanggakan keberagaman dan toleransi beragama.

Rabu (9/5) lalu, ISIS mengatakan mereka bertanggung jawab atas kerusuhan di pusat penahanan polisi dekat ibukota Indonesia, Jakarta, yang menampung puluhan tersangka teroris dan narapidana, sebagian besar dari mereka adalah anggota jaringan teroris Indonesia yang telah bersumpah setia kepada ISIS.

Para tahanan membunuh lima penjaga sebelum keadaan aman kembali, dan seorang tahanan juga tewas.

Pada tahun 2016, ISIS, mengklaim serangan pertamanya di Asia Tenggara, ketika militan menyerang pos polisi dan pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, ibukota Indonesia, dengan senapan dan bom rakitan sendiri.

Kontribusi laporan oleh Amir Tejo dari Surabaya, Indonesia; Muktita Suhartono dari Bandung, Indonesia; Muhammad Rusmadi dari Jakarta; dan Rukmini Callimachi dari New York.

Keterangan foto utama: Petugas polisi di luar kantor polisi di Surabaya, Indonesia, setelah ledakan pada hari Senin, 14 Mei 2018. Sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang meledakkan sebuah bom di pintu masuk markas polisi Surabaya pada hari Senin (14/5), melukai empat petugas polisi. (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)

Indonesia Terancam Pelaku Bom Bunuh Diri Mengerikan: Orang Tua dan Anak-anaknya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top