evakuasi korban palu
Berita Politik Indonesia

Indonesia Terus Menggali Saat Berakhirnya Pencarian Resmi Tsunami

Berita Internasional >> Indonesia Terus Menggali Saat Berakhirnya Pencarian Resmi Tsunami

Pemerintah secara resmi mengakhiri pencarian korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan sekitarnya. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan, mayat-mayat yang tertimbun dan membusuk berisiko menimbulkan risiko wabah penyakit. Banyak yang tidak pernah menemukan anggota keluarga yang tertelan saat tanah mencair, tetapi seorang wanita mengatakan dia akan melanjutkan menggali “dengan palu dan cangkul.”

Baca Juga: Mengapa Napi yang Bebas setelah Gempa Palu Kembali ke Penjara

Oleh: Kate Lamb (The Guardian)

Desa-desa di Palu yang terdampak bencana telah diubah menjadi kuburan massal ketika pihak berwenang Indonesia menghentikan operasi pencarian skala besar secara resmi pada hari Kamis (11/10), dengan ribuan orang masih diyakini hilang. Di daerah Sulawesi Tengah yang terkena dampak tsunami dan gempa berkekuatan 7,5 SR yang melanda kurang dari dua minggu lalu, keputusan itu membuat orang-orang marah, putus asa, dan cemas akan penutupan proses pencarian.

Ade Irmayanti, 33 tahun, telah mencari keponakannya yang berusia enam tahun, Muhammad Gibran, di Palu sejak terjadinya bencana.

Di perbukitan Palu, di desa Balaroa, bocah enam tahun dan sepupunya yang berusia tujuh tahun, Sahdan, telah memanggil nenek mereka, memberi tahu bahwa mereka akan pergi ke kedai terdekat untuk membeli camilan. Dia adalah orang terakhir dalam keluarga yang melihat anak-anak lelaki itu.

Setiap hari sejak itu, keluarga itu terus mencari dan memasang poster-poster berwajah Gibran dalam seragam sekolah merah dan putihnya di seluruh kota. “Bisa dibilang saya sudah ke setiap rumah sakit dan setiap tempat penampungan di Palu dan di luar sekarang,” kata Irmayanti kepada Guardian. “Saya tidak tahu berapa banyak, bisa jadi ratusan.”

Belum ada berita tentang Sahdan, tetapi keluarga itu mendapatkan informasi bahwa Gibran mungkin telah dievakuasi ke kota selatan Makassar sehingga mereka kini memiliki sepotong harapan.

Sementara Irmayanti telah mengunjungi tempat penampungan bagi lebih dari 82.000 orang yang terlantar dalam bencana itu, ayah Gibran telah bekerja dengan tim pencari dan penyelamatan di tengah reruntuhan desa, mengarahkan mesein pengeruk ke tumpukan puing-puing beton di mana ia percaya tubuh putranya bisa jadi telah terkubur.

Foto aerial yang diambil pada hari Rabu, 10 oktober 2018 menunjukkan sebuah kapal kargo terdampar di Donggala, Sulawesi Tengah. (Foto: Xinhua/Barcroft Images)

Irmayanti mengatakan “hatinya mencelos” setelah mendengar berita bahwa pencarian akan berakhir secara resmi pada hari Kamis, 11 Oktober 2018. “Kami akan terus mencarinya sendiri,” katanya dengan menantang. “Meskipun harus dengan palu dan cangkul.”

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia telah memutuskan untuk menghentikan upaya pencarian dan penyelamatan berskala besar, dengan alasan kekhawatiran akan penyebaran penyakit dan meningkatnya kesulitan untuk mengevakuasi tubuh yang membusuk di bawah lumpur dan reruntuhan puing.

Baca Juga: Anak-Anak Korban Bencana Palu Kembali ke Sekolah untuk Mencari Teman

Di daerah seperti Petobo dan Balaroa, lebih dari 3.500 rumah hancur. Dihantam oleh fenomena yang dikenal sebagai likuifaksi atau pencairan tanah, seluruh hamparan tanah Petobo tersedot ke bumi kemudian tertutup dengan lumpur. Ketidakstabilan tanah dan puing-puing, yang diperburuk oleh berlanjutnya gempa susulan, telah membuat pekerjaan tim pencarian dan penyelamatan menjadi tugas yang berbahaya.

BNPB mengatakan bahwa daerah-daerah itu akan dibersihkan dan akhirnya diubah menjadi taman dan tanda peringatan.

Ribuan Orang Hilang dan Diduga Telah Tewas

Angka kematian resmi dari bencana berturut-turut tersebut kini telah mencapai lebih dari 2.000 korban jiwa, sebagian besar korban tsunami yang menghantam garis pantai Palu dan daerah-daerah terpencil seperti Donggala. Ratusan orang berkumpul di pantai Talise pada hari bencana untuk malam pembukaan festival budaya Palu Nomoni, acara penuh warna yang menampilkan musik tradisional, tarian, dan ritual.

Sebagian melarikan diri setelah gempa, tetapi tidak semua orang melakukannya karena gempa tidak biasa terjadi di Palu dan tidak ada peringatan akan datangnya tsunami.

Bahkan ketika BNPB mengeluarkan peringatan tsunami dari ibukota, beberapa ribu kilometer jauhnya di Sulawesi Tengah tidak ada sirene di pantai, tidak ada peringatan resmi untuk mengungsi dan mencari tempat yang lebih tinggi. Orang-orang yang selamat mengatakan gelombang pertama dari tiga gelombang kuat terjadi dalam 10 menit.

Pagi hari setelah itu, garis pantai penuh dengan mayat, tetapi sifat bencana yang rumit, yang menimbun banyak orang di rumah mereka di desa-desa terdekat, telah mengaburkan jumlah korban sebenarnya.

Reruntuhan rumah di desa Petobo, Sulawesi. (Foto: Kate Lamb for the Guardian)

Minggu ini BNPB mengatakan bahwa, berdasarkan laporan dari kepala desa setempat, mungkin terdapat 5.000 orang hilang dari Petobo dan Balaroa, meskipun belum diperhitungkan dalam angka resmi. Dengan pencarian yang dihentikan dari beberapa upaya berskala kecil, banyak yang bisa dianggap tewas.

Baca Juga: Jeritan Putus Asa: Ribuan Orang Masih Belum Ditemukan di Palu Pasca Gempa dan Tsunami

Para pejabat mengatakan fokusnya sekarang adalah pada operasi bantuan, memastikan ribuan pengungsi dan orang-orang yang terluka memiliki kebutuhan dasar dan perawatan medis.

Terdapat juga pembicaraan bahwa penduduk di desa-desa akan dipindahkan, meskipun belum ada pengumuman resmi. Para ahli mengatakan beberapa daerah, seperti Balaroa, tidak pernah cocok untuk pembangunan sejak awal.

Dalam upaya mengatasi kesedihan, Irmayanti mengatakan keluarga tidak bisa berpikir sejauh itu. Prioritas mereka adalah mencoba menemukan Gibran, hidup atau mati. “Apa yang kami inginkan adalah kepastian,” katanya, “Jika Gibran masih hidup, saya ingin tahu di mana dia berada. Dan jika dia mati, saya ingin tahu di mana tubuhnya.”

Keterangan foto utama: Tim penyelamat membawa mayat seorang korban di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada hari Rabu (10/10) setelah gempa dan tsunami bulan September 2018. (Foto: Gambar Xinhua/Barcroft)

Indonesia Terus Menggali Saat Berakhirnya Pencarian Resmi Tsunami

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top