Indonesia, Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Fenomena 'Supercrip'
Berita Politik Indonesia

Indonesia, Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Fenomena ‘Supercrip’

Indonesia, Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Fenomena ‘Supercrip’

Cara memandang penyandang disabilitas sebagai “supercrip” tersebut menyebar di Indonesia. Hal ini konsisten dengan pandangan difabilitas dan kecacatan yang melihat penyandang cacat sebagai “orang lain,” berbeda dari mayoritas. Menurut pandangan ini, setiap produk seni, akademis, atau olahraga, atau prestasi apapun yang dihasilkan oleh penyandang cacat dianggap luar biasa dan layak untuk mendapatkan pujian yang berlebihan.

Oleh: Slamet Thohari (Indonesia at Melbourne)

Indonesia telah menerima pujian berlimpah untuk keberhasilan penyelenggaraan Asian Games dan Asian Para Games 2018. Meskipun pujian tersebut layak diterima Indonesia, Asian Para Games juga berfungsi untuk menyoroti sikap yang cenderung ketinggalan zaman bagi orang-orang difabel maupun penyandang cacat.

Kehidupan bagi kelompok difabel dan penyandang cacat di Indonesia sangat menantang. Mereka menghadapi akses yang buruk ke fasilitas umum, transportasi, dan bangunan. Merekaa mendapatkan dukungan jaminan sosial yang lemah dan sikap secara umum yang merendahkan. Salah satu perspektif publik yang paling umum adalah memandang penyandang disabilitas sebagai sesuatu hal yang luar biasa atau pantas mendapat pujian.

Cara memandang penyandang disabilitas sebagai “supercrip” tersebut menyebar di Indonesia. Hal ini konsisten dengan pandangan difabilitas dan kecacatan yang melihat penyandang cacat sebagai “orang lain,” berbeda dari mayoritas. Menurut pandangan ini, setiap produk seni, akademis, atau olahraga, atau prestasi apapun yang dihasilkan oleh penyandang cacat dianggap luar biasa dan layak untuk mendapatkan pujian yang berlebihan.

Sikap seperti ini juga dapat mengakibatkan orang-orang difabel dipuji hanya karena menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Tidak jarang kita mendengar komentar seperti: “Meskipun dia tuli, dia masih bisa mengambil foto-foto hebat,” atau “Dia menggunakan kursi roda tapi dia mendapat nilai tertinggi dalam ujian matematika.”

Selama Asian Para Games 2018, misalnya, seseorang mendekati penulis dan menjabat tangannya, sambil berseru, “Anda luar biasa, saya kagum.” Dia belum pernah bertemu dengan penulis sebelumnya. Semua yang penulis lakukan adalah berjalan di ruangan berlangsungnya acara.

Baca Juga: Opini: Pemain Politik Indonesia Bisa Belajar dari Sportivitas Asian Games

Akademisi Jan Grue mencatat bahwa hasil dari pandangan ini adalah bahwa “semakin besar prestasi dan semakin besar disabilitas, semakin mengesankan supercrip.” Bahkan jika produk artistik belum dinilai atau ditampilkan bersama karya seni lainnya dalam lingkungan yang dikurasi, selama karya tersebut diproduksi oleh penyandang cacat, karya itu dianggap sebagai pekerjaan yang luar biasa atau berharga. Grue merangkum gagasan ini dengan rumus: (S)upercriphood = (A)chievement x (I)mpairment. Kualitas supercrip akan ditentukan tidak hanya oleh pencapaian secara tunggal, tetapi juga oleh seberapa “besar” disabilitas yang ada.

Gagasan tentang “supercrip” ini berinteraksi erat dengan perspektif yang memandang penyandang disabilitas sebagai objek amal. Perspektif amal mungkin melihat pemerintah, dengan niat baik, memberikan kesempatan bagi penyandang cacat untuk berpartisipasi dalam menciptakan karya seni. Tetapi seringkali hasil akhir dipuji tanpa penilaian yang objektif atau profesional. Tidak seperti karya seni lainnya, yang dikurasi berdasarkan pertimbangan filosofis, teknis, atau teoretis, karya seni penyandang disabilitas sering kali dikurasi atas dasar bahwa karya tersebut diproduksi oleh penyandang disabilitas. Kecacatan menjadi fokus utama, bukan karya seni itu sendiri.

Pandangan ini dominan dalam masyarakat Indonesia. Penulis telah mengunjungi banyak wilayah di Indonesia di mana orang-orang cacat menciptakan karya seni tetapi karya mereka secara bersamaan dianggap sebagai hasil dari “kegiatan rekreasi,” alih-alih upaya artistik yang serius, sementara juga dianggap layak mendapat pujian tinggi. Banyak upacara pemerintah disertai dengan tarian, bacaan, atau musik yang dilakukan oleh penyandang cacat, yang kemudian diberi tepuk tangan berlebihan. Berbagai penampilan tersebut dinilai berdasarkan ketidakmampuan mereka, alih-alih kualitas pekerjaan mereka. Mereka dianggap tidak mampu karena kecacatan mereka, sehingga tindakan sederhana menciptakan seni dianggap layak untuk dipuji.

Karena perspektif ini, tidak mengherankan bahwa banyak orang non-cacat melihat penyandang cacat sebagai objek inspirasi. Keterlibatan orang-orang penyandang cacat dalam seni terutama dimaksudkan untuk memberikan kesenangan kepada orang-orang yang tidak cacat, yang mengakibatkan kekaguman dan belas kasihan yang berlebihan. Inilah yang dikenal sebagai “inspiration porn.” Disabilitas disajikan karena kemampuannya untuk memuaskan atau memberikan kesenangan kepada yang tidak cacat, bukan sebagai sesuatu hal yang normal.

Pola yang sama juga dapat diamati dalam olahraga. Meski Asian Para Games 2018 adalah kesempatan berprofil tinggi untuk memperkenalkan dan mendidik masyarakat tentang disabilitas dan keberagaman, pada kenyataannya orang-orang penyandang cacat sekali lagi diperlakukan sebagai objek belas kasihan atau sumber inspirasi bagi orang-orang yang tidak berkebutuhan khusus. Harian nasional Kompas mendedikasikan halaman depannya untuk Asian Para Games 2018, dengan judul dicetak tebal: “Mereka Inspirasi Kita.”

Baca Juga: Perolehan Emas Pencak Silat di Asian Games Beri Panggung untuk Prabowo

Halaman depan harian nasional Kompas tanggal 6 Oktober 2018. (Foto: Kompas)

Demikian pula, dalam sebuah video resmi, Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa orang-orang cacat adalah inspirasi bagi masyarakat Asia. Bahkan, slogan untuk acara olahraga difabel terbesar di Asia tersebut adalah: “Semangat yang Menginspirasi dan Energi Asia,” dan akun media sosial resmi Para Games membagikan berita dengan tanda pagar #parainspirasi.

Inspiration porn bertumpu pada asumsi yang mendasari bahwa penyandang disabilitas merupakan orang-orang lemah dan tidak mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak cacat. Ketika orang-orang penyandang cacat mencapai keberhasilan di bidang olahraga, hal itu mengejutkan dan mengesankan bagi orang-orang non-cacat. Melihat orang dengan kecacatan sebagai inspirasi sebenarnya merupakan tindakan subordinatif terhadap mereka dan menjadikan mereka sebagai “liyan (the other).”

Pekerjaan dan prestasi orang-orang difabel tidak dianggap sebagai objek atau prestasi dalam hak mereka sendiri, melainkan hasil dari upaya penyandang cacat. Hal ini menempatkan penekanan pada kecacatan dan menghasilkan pujian yang berlebihan. Orang-orang dengan kecacatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan inspirasional bagi orang-orang yang tidak berkebutuhan khusus.

Ini adalah tantangan besar bagi aktivis hak-hak penyandang cacat di Indonesia. Sudah waktunya untuk menyingkirkan gagasan supercrip. Orang-orang penyandang cacat bukanlah manusia super atau sumber inspirasi, mereka hanyalah orang-orang biasa dan bagian dari masyarakat Indonesia yang beragam. Setiap orang memiliki karakteristik mereka sendiri yang berbeda, apakah hal itu berhubungan dengan agama, orientasi seksual, ras, bahasa, atau disabilitas.

Slamet Thohari adalah dosen dan peneliti Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, dan ketua Indonesia Australian-Indonesian Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN).

Keterangan foto utama: Atlet Asian Para Games Maria Goreti Samiati. (Foto: Antara/Mohammad Ayudha)

 

Indonesia, Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Fenomena ‘Supercrip’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top