Brexit
Eropa

Inggris Kehilangan $1 Triliun karena Brexit

Berita Internasional >> Inggris Kehilangan $1 Triliun karena Brexit

Perdana Menteri Theresa May belum berhasil mendapatkan kesepakatan untuk Brexit yang tersisa puluhan hari lagi. Jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan yang jelas, Bank of England mengatakan hal itu bisa berdampak lebih buruk dibanding krisis keuangan di tahun 2008. Sementara itu, aset sekitar $1 triliun telah dipindahkan dari Inggris untuk mengantisipasi Brexit.

Baca Juga: Bagaimana Kesepakatan Brexit akan Tercapai

Oleh: Ivana Kottasová (CNN)

Brexit belum lagi terjadi tetapi telah menyusutkan industri jasa keuangan Inggris.

Bank dan perusahaan keuangan lainnya telah memindahkan setidaknya aset senilai 800 miliar poundsterling ($1 triliun) ke luar dari Inggris dan masuk ke Uni Eropa karena Brexit, kata EY dalam sebuah laporan yang diterbitkan Senin (7/1).

Banyak bank telah mendirikan kantor baru di tempat lain di Uni Eropa (UE) untuk melindungi operasi regional mereka setelah Brexit, yang berarti mereka juga harus memindahkan aset besar di sana untuk memenuhi aturan UE. Perusahaan lain menggerakkan aset untuk melindungi klien dari volatilitas pasar dan perubahan mendadak dalam regulasi.

Konsultan mengatakan angka tersebut mewakili sekitar 10 persen dari total aset sektor perbankan Inggris, dan merupakan “perkiraan konservatif” karena beberapa bank belum mengungkapkan rencana kontingensi mereka.

“Angka kami hanya mencerminkan gerakan yang telah diumumkan secara publik,” kata Omar Ali, kepala layanan keuangan di EY. “Kami tahu bahwa di balik layar perusahaan terus merencanakan skenario Brexit ‘tanpa kesepakatan’.”

EY telah melacak 222 perusahaan jasa keuangan terbesar Inggris sejak referendum Brexit pada Juni 2016.

Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa dalam 81 hari, tetapi Perdana Menteri Theresa May masih perlu mendapatkan dukungan di parlemen Inggris untuk kesepakatan perpisahan dengan anggota Uni Eropa lainnya.

Parlemen akan mengadakan voting untuk kesepakatan itu minggu depan. Jika May pada akhirnya gagal mendapat persetujuan atas kesepakatan itu, peluang negara itu keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan akan melonjak.

Bank of England mengatakan dampak dari skenario itu akan lebih buruk daripada krisis keuangan 2008.

Untuk lembaga keuangan, Brexit tanpa kesepakatan akan menjadi mimpi buruk. Perjanjian negara dengan regulator UE tidak akan ada lagi dan bank akan mengalami kekosongan hukum, yang berarti mereka tidak akan dapat melanjutkan melakukan beberapa bisnis mereka di seluruh UE.

Sementara UE mengatakan akan menerapkan beberapa langkah untuk menghindari kehancuran total, Uni Eropa mengatakan rencana daruratnya hanyalah solusi jangka pendek yang bertujuan melindungi kepentingannya sendiri.

“Perusahaan jasa keuangan tidak punya pilihan selain terus mempersiapkan berdasarkan skenario brexit ‘tanpa kesepakatan’,” kata Ali.

EY mengatakan bahwa perusahaan yang dilacaknya telah menciptakan sekitar 2.000 pekerjaan baru di tempat lain di Uni Eropa sebagai tanggapan terhadap Brexit.

Baca Juga: Musuh-Musuh Theresa May Bersatu, Bagaimana Akhir Brexit?

Deutsche Bank (DB), Goldman Sachs (GS) dan Citi (C) telah memindahkan sebagian bisnis mereka dari Inggris. Dublin, Luksemburg, Frankfurt dan Paris adalah tujuan paling populer.

EY mengatakan perusahaan keuangan kemungkinan akan memindahkan lebih banyak aset dan menciptakan lebih banyak pekerjaan di kota-kota Eropa lainnya dalam beberapa minggu mendatang. “Semakin dekat kita pada 29 Maret, dengan belum ada kesepakatan yang disetujui, semakin banyak aset akan ditransfer dan jumlah karyawan dipekerjakan secara lokal atau dipindahkan,” tambah Ali.

London telah menjadi ibukota keuangan Eropa selama beberapa dekade, dan merupakan rumah bagi markas internasional dari puluhan bank global.

Industri jasa keuangan telah mempekerjakan 2,2 juta orang di seluruh negeri, dan memberikan kontribusi 12,5 persen dari PDB. Industri ini menghasilkan 72 miliar poundsterling ($100 miliar) dalam pendapatan pajak setiap tahun, menurut City of London Corporation.

Ekonomi Inggris sudah mulai menderita karena Brexit. Inflasi melonjak dan kepercayaan konsumen turun, merugikan sektor ritel negara itu. Investasi bisnis telah turun secara dramatis, ketika perusahaan menunda rencana karena ketidakpastian. Pabrikan besar, termasuk Airbus, telah memperingatkan bahwa mereka mungkin harus keluar dari Inggris jika Brexit terjadi tanpa adanya kesepakatan.

Grup teknik Jerman Schaeffler telah menutup dua pabrik di Inggris karena adanya ketidakpastian ini.

Bukti terbaru dari kerugian Brexit datang pada hari Senin (7/1), ketika Masyarakat Produsen dan Pedagang Motor Inggris mengatakan pendaftaran mobil baru di negara itu turun 6,8 persen pada tahun 2018. Itu adalah penurunan kedua berturut-turut dalam dua tahun.

Keterangan foto utama: Demonstran Pro-Brexit melakukan aksi dengan membawa plakat di luar Gedung Parlemen, Westminster, London, Inggris, tanggal 10 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Jack Taylor)

Inggris Kehilangan $1 Triliun karena Brexit

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top