Inikah Akhir dari Usaha Keanggotaan Turki di Uni Eropa
Eropa

Inikah Akhir dari Usaha Keanggotaan Turki di Uni Eropa?

Home » Featured » Eropa » Inikah Akhir dari Usaha Keanggotaan Turki di Uni Eropa?

BBC sempat melaporkan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berhenti berpura-pura bahwa Turki bisa menjadi anggota Uni Eropa. Macron mengatakan bahwa tidak ada perkembangan yang memungkinan dalam proses keanggotaan ini. Namun benarkah Turki tidak lagi memiliki peluang untuk bergabung dengan Uni Eropa?

    Baca juga: Putin dan Kremlin Tak Siap Hadapi Serangan Amerika-Uni Eropa

Oleh: Murat Yetkin (Hurriyet Daily News)

Wartawan BBC melaporkan dari Paris pada tanggal 5 Januari, bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengakhiri “kemunafikan” dengan berpura-pura bahwa terdapat kemajuan dalam perundingan keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Dalam sebuah konferensi pers gabungan dengan tamunya, Presiden Turki Tayyip Erdogan, Macron mengatakan hal berikut: “Berkaitan dengan keanggotaan di Uni Eropa, jelas bahwa perkembangan dan pilihan terbaru tidak memungkinkan adanya kemajuan dalam proses yang kita hadapi.”

Dia justru menyarankan sebuah hubungan dimana walau Turki bukan anggota penuh, tapi ini akan “menghubungkan masyarakat Turki di Eropa.” Hal itulah yang dikatakan oleh mantan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel 10 tahun yang lalu. Saat itu, Turki bereaksi keras terhadap saran tersebut, namun kali ini Erdogan hanya mengatakan dalam konferensi pers itu, bahwa Ankara tidak akan “memohon” untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Para wartawan Turki mendampingi Erdogan di atas pesawatnya saat kembali pulang keesokan harinya, dan Erdogan berbicara mengenai kata-kata Macron. “Saya tidak ingin memahami apa sebenarnya maksudnya. Saya lebih memilih untuk membiarkan dia mengerti apa yang kita maksud. Kuharap dia mengerti kita,” katanya menanggapi.

Erdogan secara efektif mengatakan, bahwa dia tidak ingin mendengar kata-kata semacam itu dari Presiden Prancis, yang telah mengundangnya pada saat ia berusaha lebih banyak tampil di Eropa Barat, di tengah kritik tentang buruknya hak dan kebebasan di Turki, setelah upaya kudeta Turki pada bulan Juli 2016. Meski begitu, Erdogan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksenangannya saat Macron mengatakan dalam konferensi pers pada tanggal 5 Januari, bahwa dia telah memberikan daftar orang-orang yang berada di penjara Turki yang dikhawatirkan oleh Prancis, termasuk aktivis sosial Osman Kavala.

Konferensi pers tersebut dilakukan setelah Ankara menandatangani kesepakatan untuk membeli 25 pesawat penumpang Airbus, dan juga kesepakatan untuk memulai sebuah penelitian untuk produksi gabungan sistem pertahanan udara Prancis-Italia yang dapat dioperasikan oleh NATO (tidak seperti sistem S-400 Rusia yang baru saja dibeli Turki).

Inikah Akhir dari Usaha Keanggotaan Turki di Uni Eropa

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP/Adem Altan)

Sementara Erdogan kembali ke Ankara, Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu berada di Jerman, di mana dia disambut oleh Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel di rumahnya di kota Goslar. Undangan itu dilakukan sebagai balasan setelah Gabriel menyambut Çavuşoğlu di provinsi asalnya di Antalya pada bulan November lalu.

Seperti Macron, Gabriel tampaknya ingin fokus dalam menempatkan hubungan bilateral mereka kembali ke jalur semula, dibandingkan mendorong keanggotaan Ankara di Uni Eropa. Dengan secara pribadi menyajikan teh yang diseduh dengan gaya Turki kepada tamunya, Gabriel berusaha untuk menekankan bahwa dia tidak ingin meningkatkan perbedaan pendapat menjadi masalah yang lebih besar lagi. Dia juga telah berusaha untuk membebaskan lebih banyak warga Jerman dari penjara di Turki, termasuk jurnalis Deniz Yücel, dan juga mendorong kepentingan para investor Jerman.

Semua ini memperjelas bahwa Turki dianggap—lebih dari sebelumnya—sebagai mitra dagang dan keamanan bagi Uni Eropa, dibandingkan sebagai sekutu politik.

Pada tanggal 7 Januari, dalam sebuah pidato kepada para tamu pada pembukaan kembali Gereja Ortodoks Bulgaria yang bersejarah di Istanbul setelah tujuh tahun masa renovasi, Erdogan mengatakan bahwa upacara tersebut harus menjadi “pesan bagi dunia,” terutama Uni Eropa, “yang menunjukkan toleransi di Turki. ”

    Baca juga: Apakah Uni Eropa Punya Strategi di Suriah?

Tapi pesan yang baru-baru ini diterima Eropa adalah, bahwa bukan ide yang baik untuk menyerang Erdogan secara pribadi. Terlebih lagi, Eropa tidak perlu terlalu banyak mengharapkan adanya perbaikan demokrasi Turki, saat Eropa berusaha meraih lebih banyak untuk kepentingan keamanan Uni Eropa. Dan akhirnya, Eropa harus mencapai banyak hal terkait perdagangan.

Jadi interpretasi laporan BBC tentang perkembangan ini tidak tepat: Ini bukanlah “akhir dari kepura-puraan Uni Eropa” terkait Turki; Namun sebaliknya, ini adalah peluang perubahan berdasarkan keadaan politik yang ada.

Perlu dipikirkan fakta bahwa Bulgaria, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Boyko Borisov, mengambil alih enam bulan kepresidenan Uni Eropa pada tanggal 1 Januari. Saat Perang Dingin, sebelum Bulgaria berada di “ruang tunggu” Uni Eropa, Turki mempertahankan perbatasan aliansi Barat melawan Bulgaria.

Bagi Turki sepertinya tidak ada lagi “ruang tunggu Uni Eropa” yang tersisa. Justru, sebuah “jangkar” sedang dicari untuk Turki, bersama dengan Ukraina. Hal ini kemungkinan didorong oleh perhitungan akibat Brexit, dan juga fakta bahwa tidak ada pemerintahan AS di bawah Donald Trump yang mendorong masuknya Turki ke dalam sistem Eropa.

Keterangan foto utama: Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan saat sebuah konferensi pers gabungan pada tanggal 5 Januari 2018 di Istana Elysee di Paris. (Foto: AFP Photo/Pool/Ludovic Marin/Manila Bulletin)

Inikah Akhir dari Usaha Keanggotaan Turki di Uni Eropa?
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top