Inisiatif Sabuk dan Jalan
Berita Politik Indonesia

Inisiatif Sabuk dan Jalan China Peluang untuk Energi Terbarukan Indonesia?

Berita Internasional >> Inisiatif Sabuk dan Jalan China Peluang untuk Energi Terbarukan Indonesia?

Benarkah terdapat peran signifikan bagi Inisiatif Sabuk dan Jalan China di sektor energi terbarukan Indonesia? Menurut Dana Moneter Internasional, Indonesia sebagai negara berkembang menempati urutan kelima di Asia dalam hal PDB. Menyadari potensi Indonesia, masuk akal bahwa proyek-proyek BRI di negara ini mencakup berbagai sektor, termasuk transportasi dan energi.

Baca Juga: Bagaimana Inisiatif Sabuk dan Jalan China Picu Kontroversi Geopolitik

Oleh: Zahrana Nadifa Ramadhanty (The Diplomat)

China telah menggandakan ukuran ekonominya secara riil setiap delapan tahun. Menurut laporan Layanan Riset Kongres (CRS/Congressional Research Service) Amerika Serikat dari tahun 1979 hingga 2016, rata-rata PDB riil tahunan China adalah sekitar 9,6 persen.

Untuk semakin memperkuat posisinya dalam tatanan dunia saat ini, Presiden China Xi Jinping pada tahun 2013 memperkenalkan proyek Satu sabuk Satu Jalan (OBOR/One Belt One Road). OBOR, yang sekarang dikenal sebagai Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI/Belt and Road Initiative), adalah proyek sistematis yang akan dibangun secara kooperatif, memenuhi kepentingan semua pihak yang terlibat, dan dengan upaya mengintegrasikan strategi pengembangan negara-negara di sepanjang rute.

Menurut Dewan Negara di situs resmi Republik Rakyat China, BRI akan menghubungkan negara-negara Asia, Eropa, dan Afrika secara lebih dekat dan mempromosikan kerja sama yang saling menguntungkan ke tingkat baru dan dalam bentuk baru. Di ASEAN, Indonesia memiliki populasi terbesar dengan profil geografis yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan infrastruktur interkonektivitas.

Menurut Dana Moneter Internasional, Indonesia sebagai negara berkembang menempati urutan kelima di Asia dalam hal PDB. Menyadari potensi Indonesia, masuk akal bahwa proyek-proyek BRI di negara ini mencakup berbagai sektor, termasuk transportasi dan energi.

Sejalan dengan pertumbuhan kepemimpinan China dalam masalah lingkungan global, pemerintah pusat China memberikan dukungan kebijakan yang kuat untuk “Green Belt and Road,” yang bertujuan mengembangkan interkoneksi energi global serta mencapai pembangunan hijau dan rendah karbon. Narasi untuk lebih sadar lingkungan juga tengah berkembang di Indonesia.

Kebijakan energi nasional yang dikeluarkan pada bulan Oktober 2014, menargetkan peningkatan pangsa energi terbarukan (RE/renewable energy) dalam bauran energi Indonesia menjadi 23 persen pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050.

Namun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga tahun 2015 energi terbarukan tanpa biomassa hanya mewakili 4 persen dari bauran energi Indonesia. Rendahnya daya tarik investasi energi terbarukan saat ini adalah tantangan terpenting menurut International Institute for Sustainable Development pada tahun 2018. Bertepatan dengan rendahnya tingkat investasi Indonesia di sektor energi terbarukan, dapatkah investasi besar-besaran di bawah BRI memainkan peran penting dalam membantu Indonesia mencapai target energinya?

Berawal dari pengalaman mereka dalam meningkatkan energi terbarukan hanya dalam waktu empat tahun dari sekitar 100 GW kapasitas terpasang menjadi sekitar 600 GW pada akhir tahun 2017, China mungkin dapat membantu Indonesia dalam meningkatkan pengembangan energi terbarukan. China memimpin di dunia dalam produksi modul surya. Selain itu, menurut sebuah laporan oleh Institute for Energy Economics and Financial Analysis, pada tahun 2016 China meningkatkan investasi asingnya menjadi 32 miliar dolar AS.

Baca Juga: Fakta Inisiatif Sabuk dan Jalan China dalam Lima Tahun

Khusus berbicara tentang BRI, laporan itu mengatakan bahwa inisiatif tersebut telah menggerakkan 8 miliar dolar AS dari ekspor peralatan solar, menjadikan China sebagai pengekspor barang dan jasa lingkungan nomor satu.

Namun, investasi China dalam energi terbarukan melalui BRI masih belum terjadi di Indonesia. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Ignasius Jonan dalam Forum Energi Indonesia-China ke-5, sektor energi terbarukan Indonesia masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan Amerika, Eropa, dan Jepang.

Mengutip artikel jurnal tentang Ambisi Eurasia baru China: risiko lingkungan dari Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Tracy et al., 2017), fokus tradisional China pada investasi non-energi terbarukan, terutama batubara, tampaknya masih berlanjut setidaknya hingga tahun 2016. Hal ini telah dikonfirmasi dengan fakta bahwa pada tahun 2013-2015, China menyalurkan total 746,2 juta Dolar AS sebagai bantuan pembangunan resmi untuk sektor batubara Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan potensi yang dapat dieksploitasi oleh para pembuat kebijakan dan praktisi energi terbarukan Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan Direktur Jenderal International Renewable Energy Agency selama Forum Sabuk dan Jalan untuk Kerjasama Internasional 2017, yang mengatakan bahwa BRI dapat menjadi sarana bagi China untuk mendistribusikan sumber daya dan teknologi energi terbarukan untuk membantu negara-negara lain saling menghubungkan jaringan listrik dan menggunakan lebih banyak energi terbarukan.

Melihat potensi BRI untuk meningkatkan energi terbarukan Indonesia, ada beberapa masalah yang perlu ditangani. Pertama, meningkatnya kepedulian terhadap partisipasi BRI yang mengarah ke perangkap utang. Kecemasan ini bukan tanpa alasan. Center for Global Development menerbitkan sebuah makalah tentang delapan negara yang berisiko tinggi mengalami kesulitan utang karena pinjaman BRI. Dari pihak Indonesia, penilaian risiko yang komprehensif harus dipertimbangkan sebelum melakukan kerjasama energi terbarukan di bawah BRI, memastikan Indonesia tidak akan jatuh ke dalam perangkap utang.

Kedua, pemerintah China mungkin perlu menyelesaikan beberapa masalah yang belum terselesaikan dari masa lalu terkait dengan proyek kelistrikan Indonesia-Chinese Fast Track Program-1 (FTP-1) pada tahun 2004-2009. Menurut mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Sudirman Said pada tahun 2015, sebagian besar pembangkit listrik buatan China yang dibangun untuk FTP-1 tidak memenuhi harapan Indonesia. Untuk meyakinkan Indonesia untuk melangkah maju dengan kerja sama energi terbarukan, China perlu membuktikan diri mereka sebagai mitra yang dapat diandalkan.

Ketiga, perlunya menciptakan iklim yang kondusif untuk investasi energi terbarukan. Ini adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa jalur regulasi ditetapkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih menarik untuk investasi energi terbarukan, dan untuk memastikan bahwa kerja sama tersebut berkelanjutan di bawah dinamika dinamika politik, terutama dengan pemilihan presiden Indonesia yang dilangsungkan pada tahun 2019 .

Sebagai kesimpulan, apakah terdapat peran signifikan bagi BRI untuk bermain di sektor energi terbarukan Indonesia? Mempertimbangkan pengalaman China dalam meningkatkan kapasitas energi terbarukan mereka sendiri seperti yang disebutkan di atas, potensi energi terbarukan di Indonesia, dan kepentingan strategis Indonesia untuk BRI, jawabannya sepertinya ada, tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga untuk sektor energi terbarukan yang lebih luas di seluruh penjuru ASEAN.

Terdapat diskusi di wilayah tersebut, misalnya Myanmar bertanya-tanya apakah BRI dapat menyelesaikan masalah keuangannya untuk energi terbarukan. Jalurnya masih panjang, dan Indonesia perlu melangkah dengan hati-hati.

Yang paling penting adalah agar aktor dalam energi terbarukan Indonesia dapat bersikap rasional, tidak terlalu takut atau terlalu optimis, karena ada alasan bagus untuk merasa khawatir maupun bersemangat.

Zahrana Nadifa Ramadhanty adalah Magang Teknisi di Policy Research & Analytics Department of ASEAN Centre for Energy.

Keterangan foto utama: Para pekerja sedang bekerja di lokasi pembangunan jalan di Jakarta pada tanggal 14 September 2017. Para pengusaha Indonesia telah mengajukan permohonan untuk lebih banyak keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. (Foto: AFP)

Inisiatif Sabuk dan Jalan China Peluang untuk Energi Terbarukan Indonesia?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top