Intelijen Amerika Tunjukkan Arab Saudi Berusaha Menjebak Jurnalis Jamal Khashoggi
Amerika

Intelijen Amerika Tunjukkan Arab Saudi Berusaha Menjebak Jurnalis Jamal Khashoggi

Berita Internasional >> Intelijen Amerika Tunjukkan Arab Saudi Berusaha Menjebak Jurnalis Jamal Khashoggi

Data intelijen yang dikumpulkan dinas rahasia Amerika Serikat mengungkapkan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah memerintahkan sebuah operasi untuk menjebak Jamal Khashoggi kembali ke tanah airnya. Jamal Khashoggi memasuki Konsulat Arab Saudi di Turki pada tanggal 2 Oktober, dan tak pernah terlihat lagi. Pemerintah Turki mengatakan, Khashoggi dibunuh di dalam konsulat dan tubuhnya disembunyikan.

Oleh: Shane Harris (Los Angeles Times/Washington Post)

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memerintahkan sebuah operasi untuk menjebak jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi agar kembali ke Arab Suadi, dari rumahnya di Virgina, lalu menangkapnya. Hal itu menurut intelijen AS yang menyadap pembicaraan pejabat Arab Saudi yang mendiskusikan rencana tersebut.

Informasi itu, yang dijabarkan oleh pejabat AS yang memahami situasinya, adalah bukti lain yang membelit pemerintah Saudi dalam menghilangnya Khashoggi minggu lalu, ketika dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Pemerintah Turki mengatakan, tim keamanan Saudi menunggu kedatangan jurnalis itu, kemudian membunuhnya.

Khashoggi adalah pengritik pemerintahan Saudi yang terkemuka. Dia terutama sering mengkritik Mohammed. Beberapa teman Khashoggi mengatakan, selama empat bulan terakhir, beberapa pejabat senior Saudi yang dekat dengan pangeran telah menghubungi Khashoggi dan menawarkan perlindungan, dan bahkan pekerjaan pemerintahan yang berkedudukan tinggi, jika dia kembali ke tanah airnya.

Namun Khashoggi meragukan tawaran itu. Dia mengatakan pada satu temannya, pemerintah Saudi tidak akan pernah menepati janji mereka untuk tidak menyakitinya.

“Dia bilang: ‘Apa kau bergurau? Aku sama sekali tidak mempercayai mereka,’” ujar Khaled Saffuri, seorang aktivis Arab Amerika, mengingat pembicaraannya dengan Khashoggi di bulan Mei. Pembicaraan itu terjadi tidak lama setelah Khashoggi menerima telepon dari Saud Qahtani, penasehat untuk pengadilan kerajaan.

Data intelijen menunjukkan rencana untuk menahan Khashoggi di Arab Saudi telah menyalakan spekulasi oleh pemerintah dan analis di beberapa negara, bahwa apa yang terjadi di konsulat adalah rencana cadangan untuk menangkap Khashoggi, yang telah berjalan tidak sesuai rencana.

Seorang mantan agen rahasia AS—yang seperti yang lain, berbicara dengan persyaratan tanpa nama saat mendiskusikan masalah sensitif—mencatat detil-detil dari operasi itu, yang melibatkan mengirim dua tim, dengan jumlah total 15 orang, dalam dua penerbangan pribadi yang berbeda, yang mendarat dan berangkat meninggalkan Turki dalam waktu yang berbeda. Ia mengatakan, hal itu merupakan ciri dari sebuah “pengambilan,” yaitu ketika seseorang dibawa keluar secara ilegal dari satu negara dan diserahkan untuk interogasi di negara lain.

Namun pemerintah Turki telah menyimpulkan, bahwa apapun tujuan dari operasi itu, Khashoggi telah dibunuh di dalam konsulat. Penyelidik tidak menemukan tubuhnya, namun pemerintah Turki telah mengeluarkan video pengawasan yang menunjukkan Khashoggi memasuki konsulat pada sore hari di tanggal 2 Oktober. Tidak ada rekamanan yang menunjukkan dia meninggalkan konsulat, kata mereka.

Informasi intelijen tentang rencana awal Arab Saudi memunculkan pertanyaan, tentang apakah administrasi Trump seharusnya memperingatkan jurnalis itu, bahwa ia bisa jadi dalam bahaya.

Badan intelijen memiliki “tugas untuk memperingatkan” masyarakat yang berisiko diculik, terluka serius atau terbunuh, menurut pedoman yang ditandatangani di 2015. Kewajiban ini berlaku tanpa peduli apakah orang itu warga negara AS atau bukan. Khashoggi adalah penduduk AS.

“Kewajiban untuk memperingatkan berlaku jika bahaya mengancam seseorang,” ujar mantan petugas senior dinas intelijen. Namun, tugas itu juga bergantung apakah data itu mengindikasikan secara jelas bahwa Khashoggi berada dalam bahaya, ujarnya lagi.

“Menangkapnya, yang bisa diartikan sebagai menahannya, bisa jadi tidak akan memicu kewajiban untuk memperingatkan,” ujar mantan agen itu. “Jika sesuatu dalam laporan penyadapan mengindikasi kekerasan sedang direncanakan, maka iya, dia harus diperingatkan.”

Baca Juga: Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi adalah Tamparan bagi Amerika

Kantor Direktur Intelijen Nasional, yang mengawasi proses peringatan tersebut, menolak untuk berkomentar, apakah Khashoggi diperingatkan atau tidak.

Petugas administrasi tidak berkomentar tentang laporan intelijen yang menunjukkan rencana Saudi untuk menjebak Khashoggi.

“Walaupun saya tidak bisa berkomentar tentang masalah intelijen, saya bisa mengatakan secara tegas bahwa Amerika Serikat tidak memiliki informasi tentang hilangnya (Khashoggi),” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino, Rabu (10/10). Ditanya apakah pemerintah Amerika seharusnya memiliki kewajiban untuk memperingatkan Khashoggi jika memiliki informasi dia dalam bahaya, Palladino menolak untuk menjawab apa yang ia sebut sebagai “pertanyakan hipotesis.”

Tidak jelas bagi para pejabat yang memiliki informasi intelijen, apakah Saudi mendiskusikan membahayakan Khashoggi sebagai bagian untuk menahannya di Arab Saudi.

Namun informasi intelijen yang tersebar di seluruh pemerintahan AS dan dimasukkan ke dalam laporan yang secara rutin tersedia bagi mereka yang bekerja dengan kebijakan AS terhadap Arab Saudi atau isu-isu yang berhubungan. ujar salah satu pejabat AS.

Informasi intelijen ini menimbulkan masalah bagi administrasi Trump, karena melibatkan Mohammed, yang secara khusus dekat dengan Jared Kushner, menantu Presiden dan pejabat seniornya.

Pada hari Rabu, Kushner dan penasihat keamanan nasional John Bolton, berbicara melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota, ujar pejabat Gedung Putih, mengatakan Saudi hanya memberikan sedikit informasi.

Trump menjadi frustrasi, ujar dua pejabat, setelah bereaksi secara lamban terhadap menghilangnya Khashoggi.  Awal minggu ini, dia mengatakan dia tidak memiliki informasi tentang apa yang terjadi pada jurnalis itu.

Staf Gedung Putih telah mulai mendiskusikan bagaiamana cara memaksa Arab Saudi untuk memberikan jawaban, dan hukuman apa yang bisa diberikan seandainya pemerintah kerajaan itu memang bersalah.

Pembuat kebijakan di Capitol Hill telah bereaksi secara keras terhadap hilangnya Khashoggi. Pada hari Rabu (10/10), satu grup senator bipartisan meminta Trump untuk menerapkan sanksi terhadap semua orang yang bertanggungjawab atas menghilangnya Khashoggi, termasuk para pemimpin Saudi.

Senator Lindsey Graham, Rep-S.C, bisa dibilang sekutu terdekat Presiden di Senat, memprediksi akan terjadi “tsunami bipartisan” jika Saudi terbukti terlibat dan mengatakan, kematian Khashoggi bisa mengubah sifat hubungan antara kedua negara.

Hubungan Kushner dengan Mohammed, dikenal dalam kantor-kantor keamanan sebagai inisialnya, MBS, telah lama menjadi subjek kecurigaan beberapa agen intelijen.

Kushner dan Mohammed telah melakukan panggilan telepon pribadi yang tidak selalu dilakukan lewat saluran biasa, jadi percakapan itu bisa diingat dan Kushner bisa diarahkan secara mencukupi.

Baca Juga: Hilangnya Menggemparkan Dunia Internasional, Siapa Sebenarnya Jamal Khashoggi?

Hilangnya Menggemparkan Dunia Internasional, Siapa Sebenarnya Jamal Khashoggi?

The Washington Post menggambarkan penulis opini globalnya Jamal Khashoggi sebagai salah satu “pemikir terkemuka di bidangnya dan negara mereka”. (Foto: The Associated Press)

Untuk semua kritikannya terhadap pemerintah Saudi, Khashoggi tidak selalu menentang kebijakan Mohammed. Khashoggi memuji pemimpin muda itu atas apa yang dianggapnya sebagai perubahan positif, termasuk melonggarkan aturan budaya Saudi.

Khashoggi sering mengungkapkan kecintaannya terhadap tanah airnya, bahkan saat mengatakan tempat itu tidak aman untuknya. Satu orang yang berhubungan dengan putra mahkota, berbicara dengan syarat tanpa nama untuk menjaga hubungan mereka, mengatakan tahun lalu Khashoggi memintanya untuk memberikan pesan pada Mohammed, mengatakan bahwa pangeran itu membutuhkan seseorang seperti Khashoggi sebagai penasihat.

Ketika dia menyampaikan pesan itu, orang ini mengatakan, putra mahkota mengatakan bahwa Khashoggi memiliki hubungan dengan Muslim Brotherhood dan Qatar, keduanya adalah lawan Saudi, dan bahwa pengaturan itu tidak akan pernah terjadi.

Dua teman Khashoggi yang lain mengatakan, setidaknya dia menerima dua kali panggilan telepon dari Qahtani, penasihat pangeran, menyampaikan pesan persahabatan atas namanya.

Dalam salah satu panggilan telepon di September 2017, Qahtani mengatakan bahwa Mohammed merasa “sangat senang” melihat Khashoggi menunggah pesan yang memuji kerajaan setelah pemerintah mengumumkan mereka mencabut larangan wanita mengemudi, menurut salah satu teman tadi, yang bersama Khashoggi saat itu.

Nada pembicaraan itu menyenangkan, namun Khashoggi juga menyampaikan pada Qahtani dia akan memuji pemerintah jika memang ada “perkembangan positif. Ketika ada hal buruk, aku akan angkat bicara.”

Dia menghabiskan sisa pembicaraan telepon itu mengadvokasi beberapa kritik yang baru-baru itu ditahan oleh pemerintah.

Seorang teman juga mengatakan, Khashoggi menyampaikan padanya bahwa ia telah beberapa kali didekati oleh seorang pengusaha yang dekat dengan keluarga penguasa Saudi. Pengusaha itu, yang tidak Khashoggi sebutkan namanya, terlihat “sangat ingin” menemuinya setiap kali dia mengunjungi Washington dan mengatakan pada Khashoggi bahwa ia akan bekerja dengan pemerintah Saudi untuk mengatur kepulangannya, ujar teman tadi.

Keterangan foto utama: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tiba di Istana Kepresidenan Elysse, pada 10 April di Paris. (Foto: Ludovic Marin/AFP/Getty Images)

Intelijen Amerika Tunjukkan Arab Saudi Berusaha Menjebak Jurnalis Jamal Khashoggi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top