Investigasi Pembunuhan Pekerja di Papua Soroti Bangkitnya Pergolakan di Indonesia
Berita Politik Indonesia

Investigasi Pembunuhan Pekerja di Papua Soroti Bangkitnya Pergolakan di Indonesia

Berita Internasional >> Investigasi Pembunuhan Pekerja di Papua Soroti Bangkitnya Pergolakan di Indonesia

Kepolisian Papua sedang menyelidiki laporan pembunuhan 31 pekerja, yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis. Jika benar, hal itu akan menjadi salah satu kejadian paling mematikan dalam era demokrasi modern Indonesia. Pasukan keamanan mengatakan laporan itu perlu dikonfirmasi, dan bahwa mereka mengirim sekitar 150 polisi dan pasukan militer ke wilayah itu untuk mengejar para tersangka pembunuh.

Oleh: Ben Otto (Wall Street Journal)

Baca Juga: Masalah Utang Indonesia? Itu Belum Cukup

Kepolisian Daerah (Polda) Papua sedang menyelidiki laporan tentang militan yang menewaskan 31 pekerja konstruksi di provinsi Papua, Indonesia, yang merupakan kasus kekerasan terburuk di wilayah yang telah bergolak selama bertahun-tahun ini.

Kapolda Papua, Martuani Sormin, pada hari Selasa (4/12) mengutip informasi dari penduduk setempat bahwa militan telah menyerbu proyek jembatan pemerintah di kabupaten Nduga yang terpencil pada hari Minggu (2/12), menewaskan 24 karyawan dari kontraktor milik negara.

Setidaknya delapan pekerja dilaporkan melarikan diri ke rumah seorang anggota parlemen lokal, tetapi militan bersenjata menangkap dan menewaskan tujuh dari mereka pada hari berikutnya, seorang juru bicara polisi menambahkan.

“Di daerah itu, pos polisi dan fasilitas telekomunikasi terbatas,” kata Sormin kepada wartawan di Papua. “Sampai sekarang kita tidak bisa memastikan mengapa mereka diserang.”

Pasukan keamanan mengatakan laporan itu perlu dikonfirmasi, dan bahwa mereka mengirim sekitar 150 polisi dan pasukan militer ke wilayah itu untuk mengejar para tersangka pembunuh.

Wilayah yang kaya sumber daya di Indonesia bagian timur ini telah terganggu oleh kekerasan, termasuk bentrokan antara militan separatis dan pasukan pemerintah. Sebuah kampanye separatis di kawasan itu muncul sejak penggabungan bagian barat Papua New Guinea ke Indonesia, negara Asia Tenggara yang paling padat penduduknya, pada tahun 1960-an.

Kematian itu, jika terkonfirmasi, akan menandai salah satu minggu yang paling mematikan di Papua di era demokrasi modern Indonesia. Pada tahun 2000, lebih dari 30 warga sipil di daerah itu yang mengibarkan bendera pro-kemerdekaan tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan, menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Pembunuhan yang terjadi minggu ini terjadi setelah adanya laporan kerusuhan pada hari Sabtu (1/12). Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan ratusan aktivis kemerdekaan Papua ditangkap di seluruh wilayah negara itu pada demonstrasi pada 1 Desember, tanggal yang diperingati orang Papua sebagai hari kemerdekaan mereka yang sebenarnya dari Belanda pada tahun 1961.

Anggota kepolisian pada 4 Desember dari Wamena ke Nduga, untuk menyelidiki laporan tentang 31 pekerja konstruksi yang telah tewas. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Anyong)

Indonesia secara resmi mencaplok kawasan itu pada tahun 1969 setelah pemungutan suara lokal yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aktivis telah lama mengkritik pemungutan suara itu, yang melibatkan kurang lebih 1.000 orang dari populasi yang berjumlah ratusan ribu.

Kekerasan di Nduga tampaknya tidak terkait dengan konflik dengan pasukan keamanan di lokasi Grasberg, salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, yang dijalankan oleh Freeport-McMoRan Inc yang berbasis di Arizona, Amerika Serikat. Militan dan nasionalis berpendapat bahwa upaya yang dilakukan oleh para penambang dan pemerintah pusat untuk memastikan penduduk setempat mendapatkan manfaat dari ekstraksi sumber daya daerah tidak cukup.

“Masih dikonfirmasi dulu ke sana apakah betul kejadiannya seperti itu,” Presiden Joko Widodo mengatakan kepada wartawan di Jakarta. “Tapi kami memang tahu bahwa pembangunan di Papua sangat sulit, dan masih ada gangguan keamanan seperti ini.”

Joko Widodo, yang masih dalam periode pertamanya menjadi presiden, telah berupaya mempercepat laju pembangunan di Papua dengan membangun jalan baru di daerah-daerah terpencil di wilayah ini, di antara proyek-proyek lainnya. “Pembangunan infrastruktur di Papua terus berlanjut,” kata Widodo. “Kami tidak akan takut pada hal-hal semacam itu.”

Baca Juga: Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi

Keterangan foto utama: Seorang siswa mengangkat spanduk bertuliskan ‘Bebaskan Rakyat Papua,’ saat unjuk rasa di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 1 Desember. (Foto: EPA-EFE/REX/Shutterstock/Fully Handoko)

Investigasi Pembunuhan Pekerja di Papua Soroti Bangkitnya Pergolakan di Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top