kekalahan ISIS
Timur Tengah

Irak Rayakan Peringatan Kekalahan ISIS di Tengah Ketidakpuasan Publik

Berita Internasional >> Irak Rayakan Peringatan Kekalahan ISIS di Tengah Ketidakpuasan Publik

Irak merayakan satu tahun kekalahan ISIS. Namun, keluhan atas layanan yang buruk dan korupsi masih sering membayangi keuntungan keamanan pada tahun lalu. Para analis dan politisi Irak mengatakan masalah kualitas hidup telah mulai terasa karena kondisi keamanan telah cukup meningkat bagi masyarakat, sehingga mereka dapat fokus pada hal-hal lain.

Baca Juga: Analisis: Perjuangan untuk Rebut Wilayah Terakhir ISIS Dimulai

Oleh: Ghassan Adnan dan Isabel Coles (Wall Street Journal)

Pemerintah Irak menandai peringatan setahun kekalahan ISIS pada hari Senin (10/12) dengan membuka kembali Zona Hijau Baghdad, wilayah pemerintah yang dijaga ketat dan menjadi simbol jurang pemisah antara warga Irak biasa dan kelas politik.

Berbagai perubahan di Zona Hijau mencerminkan penurunan kekerasan di seluruh Irak yang khususnya terlihat nyata di Baghdad, di mana selama bertahun-tahun orang hidup dalam ketakutan, dan harus menavigasi kota yang dipenuhi batas-batas dinding beton.

Namun, mungkin diperlukan lebih dari sekadar perubahan simbolis bagi pemerintah untuk mendapatkan kembali niat baik dari masyarakat, yang ketidakpuasannya atas layanan yang buruk dan korupsi masih sering membayangi keuntungan keamanan pada tahun lalu.

Lebih dari seribu jalan di Baghdad telah dibuka kembali selama dua tahun terakhir, dengan 70 ribu dinding beton T diruntuhkan. Jumlah warga sipil yang tewas di Irak akibat terorisme, kekerasan, dan konflik bersenjata pada bulan November 2018 telah menurun ke tingkat terendah dalam enam tahun, menurut PBB.

Situasi telah cukup membaik sehingga delegasi dari 52 perusahaan Amerika Serikat dapat menghadiri konferensi bisnis yang diadakan di luar Zona Hijau pada hari Senin (10/12) dan Selasa (11/12), ketika AS mencoba untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara komunitas bisnisnya dan Irak.

Pasukan Irak, dibantu oleh koalisi pimpinan AS, merebut kembali kantong wilayah terakhir dari ISIS pada bulan Desember 2017, setelah konflik brutal selama lebih dari tiga tahun. Kemenangan itu datang dengan kerugian maksimal, dengan ribuan warga sipil dan tentara tewas dalam pertempuran yang menghancurkan sebagian besar negara.

Para pejabat Irak telah mencoba menggunakan kekalahan ISIS sebagai momen persatuan nasional untuk sebuah negara yang terpecah-belah oleh perbedaan sektarian. Para tentara melakukan satu menit keheningan pada hari Senin (10/12) untuk memperingati rekan-rekan mereka yang gugur, sedangkan para politisi mengunjungi makam-makam korban perang.

Kedutaan AS memperingatkan warga untuk tinggal di dalam rumah, melindungi diri dari jatuhnya proyektil serta mengantisipasi kembang api dan tembakan perayaan.

“Irak telah bangkit dari pengalaman pahitnya, lebih kuat dan lebih bersatu,” kata Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi dalam sebuah upacara di Kementerian Pertahanan Irak.

Namun, jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan oleh National Democratic Institute menemukan bahwa suasana di Irak lebih pesimis dibandingkan dengan enam bulan lalu. Sebagian besar responden menilai pekerjaan, pengangguran, pelayanan, dan korupsi berada di atas keamanan sebagai prioritas.

Sebuah jalan utama dan penyeberangan Sungai Tigris dibuka kembali pada hari Senin (10/12) menuju Zona Hijau untuk masa uji coba dua minggu, meskipun area tempat misi diplomatik, termasuk kedutaan AS, masih tetap ditutup tembok. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.

“Alih-alih membuka Zona Hijau, pemerintah pertama-tama harus meningkatkan layanan seperti listrik, air, dan perawatan kesehatan,” menurut seorang penduduk Baghdad, Ali Khalil.

Optimisme yang penuh kewaspadaan yang menyertai berakhirnya perang semakin memberi jalan untuk tumbuhnya rasa frustrasi. Haider al-Abadi, mantan perdana menteri yang berjasa untuk kekalahan ISIS, kehilangan peluang untuk mempertahankan kekuasaan setelah timbul protes luas atas layanan pemerintah yang buruk.

ISIS atau Negara Islam, yang dalam bahasa setempat disebut dengan Daesh, telah kembali menjadi pemberontak di bagian utara dan barat negara itu dan terus menimbulkan korban. Di lingkungan terpencil Baghdad, penembakan dan bom buatan sendiri masih merupakan rutinitas sehari-hari.

Baca Juga: BIN: Masjid di Indonesia Sebarkan Radikalisme kepada Pegawai Negeri

“Ketika kami melawan Daesh, kami kehilangan banyak teman, tetapi kami senang karena kami berharap pengorbanan kami akan mengubah hal-hal menjadi lebih baik,” kata Tentara Irak Kopral Amer Hassan, yang berpartisipasi dalam banyak pertempuran melawan ISIS. “Tetapi sekarang, setahun setelah pembebasan, kita tidak melihat ada perubahan. Kami masih mengalami kesulitan yang sama, masalah yang sama.”

Para analis dan politisi Irak mengatakan masalah kualitas hidup telah mulai terasa karena kondisi keamanan telah cukup meningkat bagi masyarakat, sehingga mereka dapat fokus pada hal-hal lain.

Sudah lebih dari satu tahun sejak militan ISIS berhasil meledakkan bom mobil di dalam kota, meskipun militan masih berusaha melakukan serangan. Pasukan keamanan telah menggagalkan 14 upaya pada bulan November 2018 saja, menurut Komandan Operasi Baghdad Letnan Jenderal Jalil al-Rubaye, pejabat keamanan utama di ibukota Irak.

Rubaye mengatakan koordinasi yang lebih baik dan pembagian intelijen antara beberapa lembaga telah membantu mengamankan kota.

Kontributor artikel: Ali Nabhan.

Keterangan foto utama: Seorang tentara di alun-alun Tahrir di Baghdad, Irak, menggunakan isyarat jari yang bermakna kemenangan selama perayaan kekalahan ISIS pada hari Senin, 10 Desember 2018. (Foto: Reuters/Thaier al-Sudani)

Irak Rayakan Peringatan Kekalahan ISIS di Tengah Ketidakpuasan Publik

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top