Irak tentang Para Wanita ISIS: 'Mereka Tidak Berhak Diampuni'
Timur Tengah

Irak tentang Para Wanita ISIS: ‘Mereka Tidak Berhak Diampuni’

Djamila Boutoutao, seorang warga negara Prancis di pengadilan pusat di Baghdad, di mana dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena menjadi anggota kelompok ISIS. (Foto: AFP/Ammar Karim)
Berita Internasional >> Irak tentang Para Wanita ISIS: ‘Mereka Tidak Berhak Diampuni’

Pengadilan Baghdad menghukum mati lebih dari 40 wanita asing setelah 10 menit sidang. Hingga 1.000 perempuan yang dituduh menjadi anggota ISIS ditangkap dari reruntuhan kota Irak, dan sekarang ditahan di Baghdad untuk menghadapi hukuman dari masyarakat dan pemerintah yang masih sangat terluka selama empat tahun terakhir.

    Baca juga: Pasukan Irak Mulai Operasi Terakhir, Hancurkan Pertahanan ISIS di Irak

Oleh: Martin Chulov (The Guardian)

Di sebuah ruang kecil di sebuah pengadilan di Baghdad, warga Prancis Djamila Boutoutao memeluk putrinya yang berusia dua tahun dan memohon bantuan.

Boutoutao (29 tahun), dituduh menjadi anggota ISIS. Berbisik dalam bahasa aslinya di telinga orang-orang ISIS yang dituduh lainnya—semua orang asing sepertinya—dia berkata bahwa hidup telah menjadi tak tertahankan.

“Saya akan menjadi gila di sini,” kata Boutoutao, seorang wanita berkacamata kecil dengan tatapan datar. “Saya menghadapi hukuman mati atau hidup di penjara. Tidak ada yang memberitahu saya apa pun, tidak duta besar, tidak orang di penjara.”

Para penjaga bergerak mendekat, saat Boutoutao melanjutkan. Begitu pula rekan-rekannya yang dituduh—semua dari Asia Tengah atau Turki, yang semuanya kehilangan suami dan, dalam beberapa kasus, anak-anak, seiring ISIS runtuh di Irak tahun lalu.

“Jangan biarkan mereka membawa putri saya pergi,” pintanya. “Saya bersedia menawarkan uang jika Anda dapat menghubungi orang tua saya. Tolong keluarkan saya dari sini. ”

Dengan itu, percakapan singkat ditutup dan Boutoutao kembali ke pojok, menunggu hakim di kamar sebelah untuk memanggilnya. Tidak ada pejabat Prancis yang hadir, dan tidak ada apa pun untuk menghubungkannya dengan kehidupan sebelumnya di Lille. Jika terbukti bergabung dengan kelompok teroris, ia menghadapi hukuman seumur hidup di penjara Baghdad tengah, atau mati dengan digantung.

Seluruh 15 wanita di pengadilan minggu lalu telah menjadi janda oleh perang yang akhirnya menggulingkan ISIS dari sebagian besar Irak, menewaskan puluhan ribu anggotanya, dan mengganti janji-janjinya dari utopia Islam dengan kekalahan yang menghancurkan. Para wanita di sini dalam beberapa kasus bersedia bergabung dengan kelompok tersebut, bepergian sendiri dari Eropa dan Asia Tengah, atau dengan pasangan mereka, menuju apa yang mereka yakini sebagai tanah yang menjanjikan.

Lebih dari 40 ribu orang asing dari 110 negara diperkirakan telah melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan kelompok jihadis tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 1.900 orang diyakini warga negara Prancis, dan sekitar 800 warga Inggris.

Boutoutao tiba di Irak pada tahun 2014, bersama suaminya, Mohammed Nassereddine dan dua anaknya. Suaminya dibunuh di Mosul pada tahun 2016 begitu juga putranya, Abdullah, satu tahun kemudian. Dia ditangkap oleh peshmerga Kurdi di Irak utara, dan akhirnya dikirim ke Baghdad, di mana pengadilan yang dibentengi di pusat ibu kota tersebut telah menjadi titik fokus dari era pasca-Isis.

Hingga 1.000 perempuan yang dituduh menjadi anggota ISIS ditangkap dari reruntuhan kota Irak, dan sekarang ditahan di Baghdad untuk menghadapi hukuman dari masyarakat dan pemerintah yang masih sangat terluka selama empat tahun terakhir, di mana sebagian besar amarah mereka diarahkan pada para pejuang asing dan keluarga mereka. Hingga 820 bayi menemani para wanita, di mana beberapa lainnya belum dilahirkan.

    Baca juga: Irak Masih Jadi Kunci dalam Upaya Amerika untuk Stabilkan Dunia Arab

Proses persidangan memiliki sifat urgensi, dan begitu juga dengan sidang 10 menit di pengadilan pidana pusat Baghdad, yang dengan cepat berakhir dengan hukuman mati terhadap lebih dari 40 wanita asing yang dituduh, dan puluhan lainnya dengan hukuman seumur hidup di penjara, sejak apa yang disebut kekhalifahan yang hancur.

Orang asing khususnya—yang sering membawa bayi—diproses dengan efisiensi tanpa kompromi yang jarang terlihat di bagian lain sistem peradilan Irak. Dalam menghentikan dampak ISIS, sistem pengadilan telah mengambil peran untuk membawa negara tersebut ke arah penutupan. Ketika masyarakat Irak mencoba untuk menyatukan kembali jalinan sosial mereka, kemarahan tetap mengarah pada para jihadis yang mengamuk yang menimpa jiwa nasional yang belum pulih dari sanksi, invasi, dan perang sipil.

Prancis dan negara-negara Eropa lainnya tetap bermusuhan dengan warga negara mereka yang sekarang menghadapi pengadilan Irak, bersikeras bahwa mereka harus menghadapi peradilan lokal di luar negeri. Pemerintah Prancis telah menunjukkan kelonggaran terhadap anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat pertempuran tersebut, tetapi tidak satu pun terhadap orang dewasa yang membuat keputusan untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Awal tahun ini, Menteri Pertahanan Florence Parly mengatakan bahwa mereka yang berhasil kembali ke Prancis akan “dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka”. Namun, para pejabat Prancis telah mengatakan kepada rekan-rekan mereka di wilayah tersebut, bahwa mereka yang gagal melarikan diri tidak dapat mengharapkan kenyamanan.

Dengan ISIS sekarang telah digulingkan dari wilayah Irak, terdapat sedikit pembicaraan tentang rekonsiliasi. Ditanya apa yang akan dikatakannya kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi jika dia berada di depannya, Syekh Qais al-Khazali, pemimpin salah satu kelompok paramiliter Syiah yang paling ditakuti di Irak, Asa’ib ahl al-Haq, berkata: “Saya akan mengatakan kepadanya bahwa dia gagal. Dia tidak cukup baik. Dia bukan apa-apa dan dia di bawah kita semua.”

Mustafa Rashid, seorang penjual mobil di Baghdad timur, juga sama pedasnya terhadap para tahanan asing. “Terkutuklah mereka,” katanya. “Mereka tidak berhak diampuni. Para wanita itu juga.”

Di pengadilan yang sama sehari sebelumnya, seorang wanita Irak telah dibebaskan dari semua tuduhan, dan dibebaskan setelah berhasil mengajukan pembelaan bahwa saudaranya telah memaksanya untuk bergabung dengan ISIS. Walau beberapa wanita Irak, dan sejumlah besar pria, telah dijatuhi hukuman mati karena peran mereka dalam serangan kelompok teroris tersebut, namun hanya sejumlah kecil wanita asing yang telah menerima konsesi.

“Dalam pikiran masyarakat Irak dan lembaga peradilan dan pemerintah, berdasarkan fakta bahwa Anda adalah orang asing dan memilih untuk tinggal di wilayah ISIS, terdapat tingkat keinginan dalam apa yang Anda lakukan dan lebih banyak kesalahan,” kata Belkis Wille, senior peneliti untuk Irak di Human Rights Watch. “Ini tidak sama dalam kasus perempuan Irak, di mana bukti yang sangat spesifik sering mengurangi hukuman. Jika Anda membeli tiket pesawat, melintasi perbatasan, dan membuat pilihan Anda, Anda jauh lebih terbuka.”

Ruang sidang Baghdad dipenuhi orang-orang yang beringsut di tengah ruangan. Sekelompok beranggotakan 12 orang dijatuhi hukuman mati dengan digantung, lalu dikawal kembali ke sel. Berikutnya giliran Zahraa Abdel Wahab Al Kaja. Baru menginjak usia 17 tahun, dan berasal dari Tajikistan, ia juga menggendong bayi, yang telah dia kenakan jilbab, dan tampak bingung.

“Saya dibawa ke Suriah sekitar lima tahun yang lalu dengan ibu dan ayah saya,” katanya. “Mereka menikahi saya dengan seorang pria Turki. Dia baik pada saya. Ini anaknya. Kami menetap di Irak. Ayah dan suami saya meninggal. Saya sekarang dipenjara bersama ibu dan anak perempuan saya. Saya ingin pulang ke rumah, meskipun negara saya tidak baik. Saya tidak memakai jilbab tadinya di rumah. ISIS itu baik, ISIS mengajari saya cara menutupi diri saya sendiri.”

Lebih banyak perempuan datang dan pergi: seorang warga Turki, Rusia, dan dua dari Kyrgyzstan. Dalam setiap kasus, satu dari tiga hakim mengajukan beberapa pertanyaan singkat, lalu memerintahkan wanita yang dituduh dari ruangan tersebut. Seorang jaksa kemudian membuat pernyataan singkat, dan seorang pengacara pembela membacakan pernyataan singkat. Di luar, salah satu pengacara pembela yang ditunjuk negara mengatakan bahwa dia tidak berbicara dengan kliennya, dan hanya melihat ringkasan dari catatan investigasi.

Human Rights Watch mengatakan bahwa—terlepas dari desakannya selama dua tahun terakhir—tidak ada tanda-tanda pengacara yang memainkan peran yang lebih proaktif, atau lembaga peradilan mencari bukti yang lebih substantif untuk penuntutan. Keadilan justru bergantung pada insting, kata seorang pejabat saat istirahat. “Saya telah bekerja di sini selama 10 tahun, dan saya dapat mengatakan bahwa seseorang tidak bersalah hanya dengan sekali melihat mata mereka. Saya dapat memberi tahu Anda cerita horor dan saya dapat berbagi momen ajaib.”

Para penjaga yang membawa perempuan dari penjara terdekat mengatakan, bahwa sebagian besar tidak menyesal. “Seorang tahanan ISIS pernah meminta saya untuk sesuatu yang tidak bisa saya berikan, dan dia menyebut saya kafir.”

Apa yang harus dilakukan dengan anak-anak adalah pertanyaan yang lebih menyulitkan bagi pihak berwenang Irak. Beberapa bayi mengunyah apel, sementara ibu mereka menunggu audiensi mereka. Beberapa bayi lainnya diberikan bergantian kepada para wanita yang masing-masing bergantian menenangkan mereka.

“Mereka akan tumbuh menjadi seperti (ibu mereka),” kata salah seorang penjaga. “Tidak, itu adalah dosa untuk mengatakan itu,” kata yang lain. “Semua anak tidak bersalah.”

“Mungkin,” jawabnya. “Tapi mari kita selesaikan ini dengan cepat. Masih ada banyak dari mereka.”

Keterangan foto utama: Djamila Boutoutao, seorang warga negara Prancis di pengadilan pusat di Baghdad, di mana dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena menjadi anggota kelompok ISIS. (Foto: AFP/Ammar Karim)

Irak tentang Para Wanita ISIS: ‘Mereka Tidak Berhak Diampuni’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top