tepi barat
Timur Tengah

Israel Membuka ‘Jalan Apartheid’ di Tepi Barat yang Diduduki

Berita Internasional >> Israel Membuka ‘Jalan Apartheid’ di Tepi Barat yang Diduduki

Sebuah jalan terpisah baru memisahkan lalu lintas Palestina dan Israel antara desa Anata dan Azzayim. Sisi barat diperuntukkan bagi warga Palestina di Tepi Barat untuk berkeliling Yerusalem, yang tidak dapat mereka masuki tanpa izin militer yang dikeluarkan Israel. Sementara itu, sisi timur melayani pemukim Israel yang pergi ke dan dari Yerusalem. Warga Palestina dari desa Anata, yang terletak di pinggiran Yerusalem tetapi dipisahkan dari kota oleh tembok pembatas Israel, mengatakan bahwa sebagian jalan raya dibangun di atas tanah Anata.

Baca Juga: Pergerakan Israel Mencaplok Tepi Barat dan Matinya Solusi Dua-Negara Israel-Palestina

Oleh: Megan Giovannetti (Al Jazeera)

Sebuah jalan raya yang baru dibuka di Tepi Barat yang diduduki telah dielu-elukan oleh Israel, tetapi dikutuk oleh Palestina yang menyebutnya “Jalan Apartheid.” Ini adalah operasional bagian pertama dari jalan lingkar timur di sekitar Yerusalem yang dapat menolak akses warga Palestina ke bagian Tepi Barat dan mengancam negara Palestina di masa depan.

Rute 4370 memiliki tembok tinggi di tengah, di atasnya dipagari yang memisahkan jalan menjadi dua jalur dua arah yang terpisah.

Sisi barat diperuntukkan bagi warga Palestina di Tepi Barat untuk berkeliling Yerusalem, yang tidak dapat mereka masuki tanpa izin militer yang dikeluarkan Israel. Sementara itu, sisi timur melayani pemukim Israel yang pergi ke dan dari Yerusalem. Warga Palestina dari desa Anata, yang terletak di pinggiran Yerusalem tetapi dipisahkan dari kota oleh tembok pembatas Israel, mengatakan bahwa sebagian jalan raya dibangun di atas tanah Anata.

‘Mereka ingin mengambil tanah itu’

“Siapa pun dapat melihat rencana Israel,” kata warga Ahmed Rifea. “Beberapa bulan lalu mereka ingin mengambil Khan al-Ahmar.”

Khan al-Ahmar adalah desa Badui yang mendapat perhatian internasional setelah pemerintah Israel mengeluarkan perintah penghancuran terhadapnya. “Sekarang mereka membangun jalan baru ini? Mereka ingin mengambil tanah itu,” kata Rifea.

Awalnya mencakup tanah seluas 35.000 kilometer persegi, Anata telah menyusut menjadi sedikit lebih dari 1.000 kilometer persegi karena lebih dari 90 persennya terletak di Area C seperti yang disepakati oleh Kesepakatan Oslo, menempatkannya di bawah kontrol sipil dan pengamanan total Israel.

Keluarga Rifea memiliki ratusan dunam (puluhan hektar) tanah di Anata, tetapi hampir semuanya telah disita oleh Israel untuk pembangunan jalan dan pemukiman ilegal Yahudi.

Jalan itu ditandai dengan rambu jalan berwarna merah yang berarti “berbahaya bagi orang Israel untuk masuk,” menandakan rute khusus Palestina. (Foto: Al Jazeera/Megan Giovannetti)

E-1 and ‘Yerusalem Raya’

Rute 4370 membentang ke timur laut Yerusalem melewati Khan al-Ahmar dan pemukiman Yahudi ilegal Maale Adumim, di daerah kontroversial yang dikenal sebagai E-1, yang terletak di pinggiran timur Yerusalem.

Otoritas Israel ingin mencaplok E-1 sebagai bagian dari rencana “Yerusalem Raya” untuk menggambar ulang perbatasan kota. Khan al-Ahmar menghalangi rencana penggambaran ulang tersebut, yang mungkin menjadi alasan mengapa Israel memerintahkan pembongkaran. Memperluas Yerusalem lebih jauh ke timur akan menciptakan ruang untuk pertumbuhan permukiman yang lebih banyak, menghubungkan Maale Adumim dengan kota sebagai pinggiran kota dan meredakan krisis perumahan bagi warga Yahudi Israel di Yerusalem.

Baca Juga: Setelah Kejadian Penusukan, Pemukiman Israel di Tepi Barat Diperluas

Aneksasi E-1 juga akan menggusur sekitar 140.000 warga Palestina yang tinggal di kota-kota dan desa-desa di Yerusalem Timur, seperti Anata. Selain itu, rencana itu akan melanjutkan fragmentasi Israel di Tepi Barat dengan membagi dua kota-kota Palestina utara dari selatan, membuat negara Palestina potensial di masa depan menjadi kurang layak.

‘Hadiah’ dari Israel

Menurut kantor juru bicara Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah Teritorial (COGAT/Coordinator of Government Activities in the Territories), “Pembangunan jalan baru itu dimaksudkan untuk mempersingkat dan mengoptimalkan waktu perjalanan bagi warga Palestina di Yudea dan Samaria,” merujuk pada nama Tepi Barat di Alkitab.

Israel Afrayat, koordinator transportasi untuk administrasi sipil Israel, muncul dalam sebuah video promosi yang menjelaskan tujuan dari jalan baru dan mengapa Israel telah “menghadiahkannya” kepada Palestina. Jalan itu dimaksudkan untuk “melayani semua orang,” kata Afrayat dalam video, yang diterbitkan di laman Facebook bahasa Arab COGAT.

“Tujuan kami adalah mengutamakan keselamatan, untuk melindungi anak-anak Anda,” kata Afrayat.

Perwakilan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan dan Kementerian Transportasi Palestina mengatakan mereka tidak diberitahu dan tidak memiliki informasi tentang pembukaan jalan baru.

Jalan lama yang menawarkan orang Palestina akses ke Yerusalem. (Foto: Al Jazeera/Megan Giovannetti)

“Tujuan utama jalan ini adalah menghubungkan Maale Adumim dengan Yerusalem dan memisahkan warga Palestina dari tanah mereka, terutama orang-orang dari Anata,” tutur Jihad Shobaki, seorang petugas di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Palestina, kepada Al Jazeera.

Kelompok aktivis Israel Ir Amim sepakat dan mengatakan jalan raya tersebut telah “menghilangkan salah satu hambatan untuk pembangunan permukiman di E-1 dan harus memberi sinyal penyebab peningkatan kewaspadaan.” Menurut Ir Amim, bagian paling utara dari “Jalan Apartheid” selalu dimaksudkan untuk “menyelesaikan” dilema dalam mempertahankan setidaknya persentuhan transportasi antara kota-kota Palestina utara dan selatan, sementara mengalihkan mereka dari daerah E-1 dan Yerusalem.

Baca Juga: Opini: Musuh Terbesar Palestina adalah Para Pemimpinnya

Jalan raya ini awalnya dibangun lebih dari satu dekade lalu oleh mendiang Perdana Menteri Israel Ariel Sharon. Tekanan internasional telah menunda pembangunan selama bertahun-tahun.

Rifea mengatakan dia mengetahui tentang jalan yang dibuka melalui halaman Facebook COGAT. Penduduk Anata lainnya mengetahui melalui pemberitahuan yang dibagikan kepada mereka oleh COGAT yang menyatakan bahwa mereka dilarang membangun di tanah mereka sendiri dalam jarak 300 meter dari jalan baru.

“Jika mereka menutup jalan, mereka menutup orang dari tanah mereka. Seperti biasa, ketika orang Israel membuka satu hal, mereka menutup yang lain,” kata Shobaki. “Pada akhirnya, kita akan menggunakan [jalan]. Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Rifea.

Jalan Anata-Azzayim menjadi bagian operasional pertama dari Jalan Lingkar Timur di Tepi Barat, yang juga dikenal sebagai “Jalan Apartheid.” (Foto: Al Jazeera/Megan Giovannetti)

Keterangan foto utama: Jalan baru ini diyakini terkait dengan rencana pemukiman Israel di daerah E-1 yang sangat diperebutkan. (Foto: Al Jazeera/Megan Giovannetti)

Israel Membuka ‘Jalan Apartheid’ di Tepi Barat yang Diduduki

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top