Jair Bolsonaro Ancam akan Menarik Brazil dari Pakta Migrasi PBB
Amerika

Jair Bolsonaro Ancam akan Menarik Brazil dari Pakta Migrasi PBB

Berita Internasional >> Jair Bolsonaro Ancam akan Menarik Brazil dari Pakta Migrasi PBB

Presiden Brazil Jair Bolsonaro mengecam kesepakatan global baru, mengatakan aturan negaranya akan dibuat “tanpa pengaruh eksternal.” Bolsonaro sebelumnya telah berjanji, akan menarik Brasil keluar dari Pakta Migrasi PBB. Pakta global itu terdiri dari 23 tujuan untuk mengelola migrasi secara terkoordinasi dan komprehensif di tingkat lokal, nasional, regional, maupun global.

Oleh: David Child (Al Jazeera)

Baca Juga: Liga Arab Minta Australia dan Brazil Hormati Hukum Internasional

Presiden sayap kanan baru Brazil Jair Bolsonaro pada hari Rabu (9/1) mengecam pakta migrasi global PBB dengan mengatakan keputusan tentang siapa yang bisa datang ke negaranya harus diambil dengan “berdaulat.” Bolsonaro sebelumnya telah berjanji akan menarik Brazil dari perjanjian tersebut. Dalam serangkaian tweet, Bolsonaro menyatakan bahwa “mempertahankan kedaulatan nasional” akan menjadi prioritas pemerintahnya.

“Kita menolak pakta migrasi. Kita akan menetapkan aturan tanpa pengaruh eksternal, berupaya memperbaiki kehidupan mereka yang tinggal secara legal di Brazil, warga negara atau imigran,” kata Bolsonaro, merujuk pada Global Compact for Safe, Orderly and Regular Migration (GCM) PBB. “Kita tidak akan pernah menolak untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi imigrasi tidak dapat menjadi tindakan tanpa pandang bulu. Jika kita mengendalikan mereka yang memasuki rumah kita, mengapa harus berbeda dengan Brazil sebagai bangsa?” tambahnya.

Bolsonaro, seorang mantan kapten militer yang terpilih untuk kekuasaan tertinggi Brazil pada bulan Oktober 2018, telah mengancam untuk meninggalkan GCM sebelum pelantikannya pada tanggal 1 Januari 2019.

Perjanjian yang disahkan oleh PBB

Kesepakatan yang tidak mengikat itu disahkan oleh Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2018 setelah 18 bulan negosiasi antara negara-negara anggota. GCM terdiri dari 23 tujuan untuk mengelola migrasi secara terkoordinasi dan komprehensif di tingkat lokal, nasional, regional, maupun global.

Brazil meratifikasi pakta tersebut di bawah pendahulu Bolsonaro, Michel Temer. Bolsonaro akan membutuhkan persetujuan Kongres untuk membatalkan perjanjian. Kantor berita Brazil Agencia Brasil melaporkan pada hari Rabu (9/1) bahwa pria berusia 63 tahun itu telah mengomunikasikan keputusannya untuk menarik diri dari kesepakatan itu ke Kementerian Luar Negeri Brazil.

Menanggapi pertanyaan tentang laporan, Kementerian Luar Negeri Brazil mengatakan bahwa presiden telah “mengonfirmasi sendiri di akun Twitternya.”

Badan migrasi PBB, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM/International Organization for Migration), menolak untuk berkomentar.

‘Agenda pertama Brazil’

Brazil adalah salah satu dari beberapa negara Amerika Latin yang saat ini menerima migran yang melarikan diri dari negara tetangganya, Venezuela, yang terganggu oleh keruntuhan ekonomi yang menyebabkan kekurangan makanan dan obat-obatan. Lebih dari 150.000 warga Venezuela telah memasuki Brazil sejak tahun 2015 melalui negara bagian Roraima di perbatasan utara yang terpencil, menurut IOM, dengan lebih dari 65.000 orang di antaranya telah meminta suaka hingga saat ini.

Thiago de Aragao, seorang direktur di konsultasi politik yang berbasis di Brasilia Arko Advice, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penarikan Brazil dari pakta migrasi akan memungkinkan pemerintah Bolsonaro untuk “mengklaim bahwa mereka tidak perlu menanggapi seperti yang diharapkan terhadap masalah-masalah tertentu di perbatasan dengan Venezuela.”

“Ini akan menjadi narasi yang akan dipertahankan untuk sementara waktu, niat pemerintah adalah untuk mempersulit warga Venezuela untuk memasuki negara itu,” kata de Aragao.

Komentar Bolsonaro pada hari Rabu (9/1) juga melambangkan awal dari agenda “Brazil first” yang diusung presiden baru, tambahnya.

“Ini menunjukkan perubahan dalam kebijakan luar negeri Brazil karena sebelumnya selalu sangat mengarah pada multilateralisme,” kata de Aragao.

Roberto Simon, direktur senior kebijakan di Council of the Americas yang bermarkas di New York, menambahkan bahwa langkah Bolsonaro untuk menarik diri dari GCM “tidak mungkin menjadi satu-satunya korban Bolsonaro di PBB.”

“Keputusannya [Bolsonaro] adalah bagian dari perombakan kebijakan luar negeri yang jauh lebih besar, berusaha untuk menempatkan Brazil bersama Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, Hungaria, Polandia, Italia, dan negara-negara lain yang terlibat dalam perang melawan apa yang disebut dengan ‘globalisme’,” kata Simon kepada Al Jazeera.

Trump menarik Amerika Serikat keluar dari GCM pada bulan Desember 2018. Saat mengumumkan keputusan Amerika untuk mundur, mantan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan bahwa perjanjian migrasi PBB “tidak sesuai dengan kedaulatan AS.”

Terdapat hampir 260 juta migran internasional pada tahun 2017, naik hampir 50 persen dari tahun 2000, menurut PBB. Menyusun 3,4 persen dari populasi dunia, populasi migran dunia sekarang meningkat lebih cepat daripada populasi global pada umumnya.

Baca Juga: Warga Brazil Inginkan Perubahan dan Mereka telah Mendapatkannya, Lantas Apa?

Keterangan foto utama: Presiden Brazil Jair Bolsonaro mulai menjabat pada tanggal 1 Januari 2019. (Foto: Reuters/ Adriano Machado)

Jair Bolsonaro Ancam akan Menarik Brazil dari Pakta Migrasi PBB

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top