Jakarta, Kota Termacet di Dunia Akhirnya Tunjukkan Perbaikan
Berita Politik Indonesia

Jakarta, Kota Termacet di Dunia Akhirnya Tunjukkan Perbaikan

Berita Internasional >> Jakarta, Kota Termacet di Dunia Akhirnya Tunjukkan Perbaikan

Setelah dinobatkan kota paling padat dan paling macet di dunia, kondisi di Jakarta mungkin akan segera berubah. Kehadiran transportasi massal yang cepat dan serta ojek online kini membantu penduduk Jakarta yang mencapai 20 juta jiwa untuk bernavigasi di kota yang semrawut itu. Jika pembangunan transportasi publik ini berhasil, Jakarta akan bisa jadi contoh kota-kota padat lain.

Oleh: Nithin Coca (OZY)

Baca Juga: Cepat Jadi Hits, Akankah Railink Jadi Solusi Kemacetan Jalur Bandara?

Anda bisa menyebut Jakarta, ibu kota Indonesia, sebagai Los Angeles yang lebih parah. Lebih banyak orang, lebih sedikit jalan, dan lebih sedikit angkutan umum, menyebabkan kemacetan parah. Wilayah metropolitan ini adalah rumah bagi lebih dari 20 juta jiwa, dan walau Jakarta dirancang untuk menampung hanya sebagian kecil dari itu, tapi jumlahnya masih terus bertambah.

Pembangunan yang berlebihan telah membuatnya rentan terhadap banjir, dan kekurangan trotoar dan ruang hijau. Kota itu—dengan jaringan jalan yang tersumbat—diperingkatkan sebagai kota paling padat di dunia tahun lalu oleh indeks Stop-Start Castrol, yang menggunakan satelit GPS untuk melacak berapa kali kendaraan harus berhenti. Tapi sekarang mungkin itu berubah.

Setelah bertahun-tahun dipenuhi masalah, kota ini siap meresmikan sistem angkutan cepat massal (MRT) berbasis rel, yang pada akhirnya akan membentang melintasi 67 mil dari wilayah metropolitan itu, dan mengangkut lebih dari satu juta orang setiap hari.

Pada bulan Oktober, Jepang berkomitmen untuk mendanai $619 juta untuk tahap kedua MRT, yang memungkinkan pembangunan untuk berlangsung. Pada akhir tahun 2018, kota ini juga meluncurkan sistem light rail (LRT) untuk menghubungkan pusat kota ke pinggiran kota Jakarta, yang diperkirakan menelan biaya $4 miliar.

LRT diharapkan membantu 12 juta orang setiap minggunya untuk menghindari jalan-jalan di Jakarta yang macet. Sistem bus rapid transit (BRT) kota tersebut—yang diluncurkan pada tahun 2004 hanya dengan satu jalur—juga berkembang, dengan dua jalur baru diharapkan akan terbuka di samping MRT dan LRT.

Para perencana dan analis kota mengandalkan proyek-proyek besar ini terkait dengan inisiatif sektor swasta yang telah berjalan. Aplikasi GO-JEK yang diluncurkan pada tahun 2010, telah diunduh oleh lebih dari 11 juta orang di kota tersebut. Ojek online ini dapat meliuk-liuk melewati kemacetan lalu lintas atau jalan setapak yang terlalu kecil untuk mobil, menjadikannya cara yang lebih cepat untuk berkeliling kota.

Secara kolektif, solusi transportasi ini akhirnya memberi banyak orang harapan bahwa Jakarta dapat mengubah sudut pandang, dari bertahun-tahun pembangunan yang salah arah dan tidak terencana. Jika strategi Jakarta berhasil, itu juga bisa berfungsi sebagai contoh untuk kota-kota yang sama padatnya yang berjuang dengan transportasi perkotaan, dari Dhaka hingga Lagos hingga Kairo.

Kemacetan di Jakarta. (Foto: Getty Images)

“Saya sangat senang proyek ini selesai,” kata Raska Soemantoro, seorang mahasiswa dan penduduk asli Jakarta, tentang proyek MRT dan LRT. “Saya telah menunggu selama bertahun-tahun sampai Jakarta akhirnya menjadi kota kelas dunia yang layak, dan sekarang, saya berharap hal itu mungkin terjadi.”

Sebelum impian “kota kelas dunia” terwujud, Jakarta membutuhkan solusi transportasi ini, untuk menjaga ibu kota ekonomi terbesar kelima di Asia tersebut—setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan—berjalan, banyak ahli berpendapat. Lalu lintas dan kemacetan memiliki biaya yang sangat besar, dan ekonomi Indonesia terbebani oleh kekurangan ini dan kekurangan infrastruktur lainnya yang mengurangi daya tariknya bagi para investor.

“Ada efek langsung pada kemudahan melakukan bisnis yang disebabkan oleh masalah seperti pemadaman listrik dan kemacetan di pelabuhan, jalan, dan bandara,” kata Julian Smith, pemimpin tim penasihat Capital Projects & Infrastructure di PricewaterhouseCoopers Indonesia. “Biaya logistik termasuk yang tertinggi di dunia, yang membuatnya sulit untuk mengirimkan barang kepada konsumen dan sulit untuk mendapatkan barang di negara ini.”

Mengubah kota yang macet dan padat penduduk menjadi kota yang berkelanjutan tidak akan mudah. Tetapi krisis seringkali memicu inovasi, dan Jakarta terbukti seperti itu. Coba lihat saja aplikasi GO-JEK, atau pesaing utamanya Grab—aplikasi transportasi populer lainnya yang menganggap Indonesia sebagai pasar terbesarnya.

Secara teori, layanan transportasi ini dapat berfungsi sebagai pendorong yang melengkapi sistem transportasi massal yang direncanakan untuk perjalanan jarak pendek, kata Yoga Adiwinarto, Direktur Institut Kebijakan Transportasi & Pembangunan (ITDP) untuk Indonesia, yang bermarkas di New York.

Tetapi saat ini, tidak ada rencana untuk mengintegrasikan tarif atau sistem pembayaran bahkan di berbagai sistem transportasi massal—MRT, LRT, dan BRT—apalagi di antara layanan yang lebih kecil. Koneksi antara MRT dan BRT tidak ada, artinya orang harus melintasi jalan yang sibuk untuk berpindah antar-mode transportasi ini.

“Akan ada masalah besar ketika penumpang ingin mengubah mode transportasi,” kata Adiwinarto. “(Saya) belum melihat rencana atau komitmen dari pemerintah atau perusahaan manajemen transit untuk mengintegrasikan mode.”

Baca Juga: Membersihkan Sungai Terkotor di Dunia Sekarang Jadi Tugas Militer Indonesia

Pengemudi Gojek menunggu penumpang di Jakarta. (Foto: Shutterstock)

Agar upaya memperbaiki masalah transportasi benar-benar efektif, Jakarta perlu melangkah lebih jauh dan menyinkronkan sistem transportasi massal yang akan segera diluncurkan, dengan aplikasi transportasi yang banyak digunakan saat ini, saran Adiwinarto. “Kami membutuhkan lebih banyak integrasi antara angkutan umum dan ojek,” katanya.

Kemampuan untuk berjalan adalah tantangan besar lainnya. Di luar beberapa jalan utama, Jakarta tidak memiliki trotoar dan jembatan penyeberangan. Jangan repot-repot memikirkan jalur sepeda. Ojek yang pada satu titik merupakan bagian dari solusi untuk krisis lalu lintas Jakarta, juga bisa menjadi bagian dari masalah: Mereka sering naik ke trotoar, membuat mereka terlalu berbahaya bagi pejalan kaki.

Tetapi jika Jakarta ingin mewujudkan impian untuk muncul sebagai pusat investasi global—sebuah visi yang telah berulang kali diutarakan oleh wali kotanya—kota ini tidak memiliki pilihan selain menggabungkan upaya transportasi massal dengan aplikasi transportasi.

“Jalan-jalan yang macet di Jakarta adalah masalah terbesar” bagi penduduk kota, banyak dari mereka “terjebak berjam-jam di bus, mobil, dan sepeda motor setiap hari,” kata Julius Galih, seorang penulis yang tinggal di Jakarta.

Skala tantangan di Jakarta juga menjadi alasan mengapa keberhasilan atau kegagalannya akan diawasi dengan ketat oleh para pakar transportasi perkotaan dan oleh kota-kota dengan tantangan serupa di seluruh Asia dan sekitarnya. Jika kota dengan lalu lintas terburuk di dunia dapat melakukannya, perbaikan mungkin terjadi di mana saja.

Keterangan foto utama: Jakarta adalah kota yang paling macet di dunia. (Foto ilustrasi: Ozy)

Jakarta, Kota Termacet di Dunia Akhirnya Tunjukkan Perbaikan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top