Jimmy Carter
Amerika

Jimmy Carter Lakukan Intervensi Vital Atas Nama Demokrasi

Berita Internasional >> Jimmy Carter Lakukan Intervensi Vital Atas Nama Demokrasi

Standar Carter, yang meminta sekretaris partisan negara bagian untuk menyingkir dari pengawasan pemilu ketika mereka adalah kandidat, sebaiknya diberlakukan di Georgia maupun di setiap negara bagian lainnya di Amerika Serikat. Surat ini datang pada saat yang sangat penting, dimana pemilihan umum paruh waktu akan segera dilaksanakan, dan para sekretaris negara bagian tanpa malu-malu menunjukkan sikap partisan mereka.

Baca juga: Mantan Presiden Amerika Jimmy Carter Bersedia Datangi Korea Utara

Oleh: John Nichols (The Nation)

Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter adalah salah satu pendukung utama untuk pemilihan yang adil di dunia. Carter Center yang didirikannya telah memimpin upaya global untuk memajukan pemilihan demokratis dan pemerintahan yang konsisten dengan hak asasi manusia universal.

Carter juga merupakan mantan senator dan gubernur negara bagian yang telah mencalonkan diri, dan menang, dalam pemilihan dengan taruhan tinggi di negara bagian asalnya Georgia dan, sebagai calon presiden, di negara bagian di seluruh penjuru Amerika.

Bagaimanapun, Jimmy Carter adalah seseorang yang memahami apa yang dia bicarakan ketika dia membahas unsur-unsur yang diperlukan untuk menjaga kepercayaan dalam pemilihan. Artinya, fakta bahwa Carter khawatir tentang peran yang dimainkan oleh sekretaris partisan negara bagian dalam pemilihan paruh waktu 2018 harus menjadi perhatian semua pihak.

Kekhawatirannya telah mendorongnya untuk melakukan intervensi melalui seruan khusus untuk aksi hanya satu minggu sebelum pemilihan negara bagian pada tanggal 6 November 2018. Dalam surat yang dirilis pada hari Senin (29/10), Carter menyatakan keprihatinan mendalam mengenai pengawasan Sekretaris Negara Bagian Georgia Brian Kemp tentang pemilihan gubernur dengan persaingan yang berlangsung ketat dan kontroversial, di mana Kemp adalah kandidat dari Partai Republikan.

Carter memperingatkan Kemp bahwa “kepercayaan populer terancam tidak hanya oleh diskriminasi rasial yang tak terbantahkan dari masa lalu dan pertanyaan serius yang diajukan oleh pengadilan federal tentang keamanan mesin pemilihan Georgia, tetapi juga karena Anda sekarang mengawasi pemilihan di mana Anda merupakan seorang kandidat.”

Dengan hal tersebut menjadi fokus pikirannya, Carter meminta Kemp untuk “menyingkir dan menyerahkan tanggung jawab pengawasan pemilihan gubernur kepada pihak berwenang netral.”

Hal ini adalah permintaan yang wajar dan perlu, mengingat apa yang telah terjadi di Georgia musim gugur 2018. Kemp berada dalam pertarungan ketat dengan legislator veteran Georgia, Stacey Abrams, yang berharap menjadi gubernur Afrika-Amerika pertama di Amerika. Lonceng peringatan berbunyi ketika, hanya beberapa pekan sebelum Hari Pemilihan, sekretaris negara bagian tersebut menahan lebih dari 53.000 aplikasi pemilih, dengan 70 persen dari mereka diperkirakan berasal dari warga Amerika-Afrika.

Kantor Kemp mengandalkan, antara lain, pada program verifikasi “pencocokan tepat” yang kontroversial milik negara bagian untuk berpotensi mencabut hak suara lebih dari cukup banyak pemilih untuk menggandakan keseimbangan pemilihan gubernur di mana Kemp turut berpartisipasi, dan di mana jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan kedua kandidat berada dalam margin popularitas tipis dan ketat.

Kemp dan para sekutunya mengklaim bahwa krisis itu “telah sengaja diproduksi.” Kelompok-kelompok hak sipil dan pendukung demokrasi veteran seperti Presiden National Urban League Marc Morial serta direktur eksekutif Koalisi Transformatif Keadilan dan komisaris (bersama penulis) Komisi Nasional tentang Keadilan Pemilih Barbara Arnwine menunjukkan sikap tidak setuju. Mereka sekarang memiliki Carter di pihak mereka sehingga menjadi hal yang sangat penting bagi para pemilik hak suara di Georgia.

Tapi ini bukan hanya tentang Georgia. Surat Carter harus menjadi berita nasional, dan dilihat sebagai seruan untuk pengaturan standar sehubungan dengan peran sekretaris negara bagian dalam pemilihan di mana mereka, atau sekutu dekat partisan mereka, turut bersaing dalam pemilu.

Hal ini memalukan, misalnya, bahwa Sekretaris Negara Bagian Kansas Kob Kobach, seorang lelaki yang telah menyebarkan kebohongan-kebohongan tentang “suara ilegal” dan yang telah bersekongkol dengan Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan kebohongan tersebut sebagai dasar untuk membatasi hak suara, tidak menyingkir dari pengawasan di awal kampanyenya tahun 2018 untuk gubernur negara bagian itu.

Hal yang sama memalukannya ialah bahwa sekretaris negara di seluruh penjuru negeri sibuk menerapkan aturan dan praktik pemilu yang kontroversial yang dapat mempengaruhi pemilihan di mana mereka dan mitra politik mereka adalah kandidat yang turut belaga dalam pemilu paruh waktu AS 2018.

Ketika para sekretaris partisan negara bagian telah terjun dalam politik tahun ini, mereka telah menciptakan krisis kepercayaan. Krisis itu meningkat ketika siklus pemilihan 2018 gagal menjelang Hari Pemilihan. (Atau dalam kasus Georgia, di mana pemilihan tahap kedua diperlukan jika tidak ada kandidat yang menyapu 50 persen suara, suatu hal yang berpotensi terjadi pada tanggal 4 Desember 2018.

Baca juga: Peringatan untuk Gedung Putih dan Partai Republik Jelang Pemilu Paruh Waktu

Prospek bahwa Kemp dan Abrams dapat saling berhadapan dua kali pada musim gugur ini hanya memperkuat argumen untuk Kemp sebaiknya menyingkir dari pengawasan pemilu.)

Intervensi Carter sangat penting. Kata-katanya, singkat dan padat, harus dipertimbangkan oleh setiap warga Amerika yang khawatir dan menginginkan adanya pemilihan yang adil:

22 Oktober 2018
Kepada Sekretaris Negara Bagian Brian Kemp:
Saya telah secara resmi mengamati sejumlah pemilihan umum yang meragukan di banyak negara, dan salah satu persyaratan utama untuk proses pemilihan yang adil dan terpercaya ialah adanya pengawasan yang tidak meremehkan proses pemilu.
Dalam pemilihan gubernur negara bagian Georgia mendatang, kepercayaan rakyat terancam tidak hanya oleh diskriminasi rasial yang tak terbantahkan dari masa lalu dan pertanyaan serius yang diajukan oleh pengadilan federal tentang keamanan mesin pemungutan suara Georgia, tetapi juga karena Anda sekarang mengawasi pemilihan di mana Anda adalah seorang kandidat. Hal ini bertentangan dengan prinsip paling mendasar dari pemilihan demokratis, bahwa proses pemilu dikelola oleh otoritas pemilihan yang independen dan tidak memihak. Sekretaris negara bagian lainnya telah mengundurkan diri ketika mencalonkan diri untuk pemilihan dalam yurisdiksi mereka, untuk memastikan bahwa para pejabat tanpa kepentingan langsung dalam proses dapat mengambil alih dan menghilangkan kekhawatiran tentang adanya konflik kepentingan.
Untuk menumbuhkan kepercayaan pemilih pada pemilu yang akan datang, yang akan sangat penting jika pemilu berlangsung dengan sangat ketat, saya mendorong Anda untuk menyingkir dan menyerahkan tanggung jawab mengawasi pemilihan gubernur kepada pihak berwenang netral. Hal ini tidak akan menangani setiap masalah, tetapi akan menjadi tanda bahwa Anda mengakui pentingnya prinsip demokrasi kunci ini dan ingin memastikan kepercayaan warga negara kita sebagai hasilnya.
Dengan tulus,
Jimmy Carter

John Nichols adalah koresponden urusan nasional di The Nation. Dia adalah penulis buku Horsemen of the Trumpocalypse: A Field Guide to the Most Dangerous People in America, dari penerbit Nation Books, dan menulis buku berjudul People Get Ready: The Fight Against a Jobless Economy and a Citizenless Democracy Bersama Robert W. McChesney.

Keterangan foto utama: Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan Kandidat Gubernur Georgia Stacey Abrams mengadakan konferensi pers pada tanggal 18 September 2018. (Foto: AP/John Bazemore)

Jimmy Carter Lakukan Intervensi Vital Atas Nama Demokrasi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top