upaya denuklirisasi korea utara
Amerika

John Bolton: Kim Jong Un Harus Serahkan Nuklirnya kepada Amerika

Mantan duta besar AS untuk PBB John Bolton tiba di Trump Tower di New York pada Desember 2016. (Foto: Pool/Abaca/TNS File Photo)
Home » Featured » Amerika » John Bolton: Kim Jong Un Harus Serahkan Nuklirnya kepada Amerika

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton telah mendesak model denuklirisasi Libya untuk diterapkan atas Korea Utara, di mana almarhum pemimpin Libya Muammar Gaddafi menyerahkan senjata pemusnah massal milik negaranya sebagai prasyarat untuk bantuan keringanan sanksi dalam perjanjian tahun 2003.

Oleh: Sarah Kim (Korea JoongAng Daily)

John Bolton, penasihat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengatakan pada hari Minggu (13/5) bahwa denuklirisasi Korea Utara mengharuskan pembongkaran senjata nuklirnya dan mengantarkan senjata tersebut ke fasilitas penelitian nuklir Amerika di Oak Ridge, Tennessee.

“Kami ingin melihat bahwa proses denuklirisasi benar-benar berlangsung dan bahwa proses itu tidak dapat diubah,” kata Bolton dalam wawancara dengan ABC News Sunday, sebelum Korea Utara dapat menuai berbagai manfaat.

“Pelaksanaan keputusan itu berarti menyingkirkan semua senjata nuklir, membongkarnya, membawa mereka ke Oak Ridge, Tennessee,” kata Bolton, saat ia mengungkapkan rincian proses yang mungkin diminta pemerintahan Trump dalam denuklirisasi Korea Utara.

Proses ini juga termasuk “menyingkirkan pengayaan uranium dan kemampuan pemrosesan ulang plutonium,” kata Bolton. Juga untuk program rudal balistik Korea Utara, katanya, serta senjata kimia dan biologisnya.

Bolton mengatakan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memiliki “peran,” tetapi “dekonstruksi sebenarnya” dari senjata nuklir “akan dilakukan oleh Amerika Serikat, mungkin dengan bantuan dari yang lainnya.” AS, katanya, berharap untuk “melakukannya dengan sangat cepat.”

Oak Ridge adalah tempat di mana sentrifugal Libya dan peralatan pengembangan senjata nuklir dikirim selama pemerintahan George W. Bush pada tahun 2004 setelah para ahli senjata Inggris dan AS terlibat dalam pembongkaran, penghancuran dan penghapusan teknologi persenjataan Libya. Tempat itu pernah menjadi markas dari Proyek Manhattan rahasia selama Perang Dunia II untuk membuat bom atom pertama di dunia.

Korea Utara pada hari Sabtu (12/5) mengumumkan bahwa mereka akan membongkar tempat uji coba nuklir Punggye-ri antara tanggal 23 dan 25 Mei dan mengundang wartawan internasional—dari China, Rusia, Amerika Serikat, Inggris dan Korea Selatan—untuk meliput upacara pembongkaran dengan tujuan “memastikan adanya transparansi.” Langkah ini dilakukan menjelang pertemuan bersejarah antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang dijadwalkan akan dilangsungkan pada 12 Juni di Singapura.

Bolton sebelumnya telah mendesak model denuklirisasi Libya, di mana almarhum pemimpin Libya Muammar Gaddafi menyerahkan senjata pemusnah massal milik negaranya sebagai prasyarat untuk bantuan sanksi dalam perjanjian tahun 2003. Jatuhnya Khaddafi dari kekuasaan dan kematiannya di tangan pemberontak pada tahun 2011, delapan tahun setelah ia menandatangani perjanjian perlucutan senjata, telah dilihat oleh para pemimpin Korea Utara sebagai alasan untuk mempertahankan senjata nuklir mereka untuk memastikan kelangsungan hidup rezim tersebut.

Bolton menggarisbawahi dalam wawancara ABC News bahwa denuklirisasi permanen, yang dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah, atau PVID, di Semenanjung Korea adalah “sesuatu yang harus terjadi sebelum … manfaat mulai diambil,” dan bahwa “tujuan untuk Korea Utara adalah berharap mereka ingin menjadi bangsa yang normal.”

Trump “sangat optimis karena dia melihat peluang untuk melakukan terobosan,” katanya, tetapi juga tetap realistis dan tidak “idealis.”

Bolton melanjutkan, “Saya pikir apa yang perlu kita harapkan dari Kim Jong Un adalah bahwa dia dan seluruh rezim Korea Utara telah membuat keputusan strategis bahwa mereka akan lebih baik tanpa senjata pemusnah massal.”

Dia mengatakan bahwa “satu keuntungan” dari mengadakan KTT AS-Korea Utara secepatnya “tanpa persiapan selama berbulan-bulan” adalah bahwa Trump akan dapat “menilai Kim Jong-un dan melihat apakah komitmen itu nyata.”

Perundingan Perdamaian Korea: Apakah Kim Jong-Un Bersungguh-sungguh?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada KTT Antar-Korea pada Jumat (27/4) di Panmunjom. (Foto: Pool/Getty Images)

Bolton menunjukkan bahwa menandatangani “berakhirnya program nuklir secara lengkap dalam satu hari” tidak mungkin terjadi, tetapi menambahkan bahwa Amerika Serikat “sangat tertarik dalam mengoperasionalkan komitmen ini secepat mungkin—dan itu untuk kebaikan Korea Utara.

“Senjata nuklir tidak membuat Korea Utara lebih aman, senjata itu tidak membuatnya lebih makmur,” kata Bolton, mengindikasikan janji keamanan dan bantuan ekonomi.

Dia mengatakan bahwa jika Korea Utara ingin “menjadi negara yang normal seperti Korea Selatan, semakin cepat mereka denuklirisasi, semakin cepat mereka menjadi negara normal.”

Jika Kim mengambil pilihan untuk melepaskan kekuatan nuklirnya, Bolton mengatakan Amerika Serikat “siap dan terbuka untuk perdagangan dan investasi dengan Korea Utara secepat yang kami bisa.”

Dia menegaskan tawaran yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bahwa Amerika Serikat siap untuk bekerja sama dengan Korea Utara untuk mencapai kemakmuran ekonomi jika mereka mengambil tindakan tegas untuk denuklirisasi dengan cepat.

“Saya pikir pertemuan pertama ini akan membahas isu kritis terutama denuklirisasi,” kata Bolton, tetapi masalah lain yang dapat dibahas meliputi korban penculikan warga Jepang, tahanan Korea Selatan dan masalah hak asasi manusia lainnya.

“Dan saya pikir itu akan menjadi satu faktor untuk bisnis Amerika, bisnis asing lainnya, mengenai apakah mereka akan terlibat dalam investasi di Korea Utara jika situasi tidak berubah.”

Pada hari yang sama, Bolton mengatakan pada CNN “State of the Union” bahwa Amerika Serikat masih mengharapkan “denuklirisasi lengkap, dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah,” atau CVID, menjelang negosiasi dengan Korea Utara, dan itu mencakup “semua aspek di program nuklir mereka.”

Mengacu pada perjanjian denuklirisasi Korea Utara-Korea Selatan tahun 1992, ia menambahkan Korea Utara sudah “berkomitmen untuk menyerahkan baik bagian depan dan belakang dari siklus bahan bakar nuklir, baik pengayaan uranium dan pengolahan ulang plutonium.”

Dia mengklarifikasi lagi bahwa program rudal balistik yang digunakan untuk mengirimkan hulu ledak nuklir “harus dihilangkan.”

Ketika ditanya apa yang AS siapkan untuk ditawarkan pada Korea Utara, karena Trump telah mengindikasikan bahwa pengurangan pasukan AS di Korea Selatan tidak diungkit lagi, Bolton tidak memberikan jawaban spesifik, tetapi menjawab, “Prospek untuk Korea Utara luar biasa kuat, jika mereka berkomitmen untuk denuklirisasi… Itulah yang akan dikatakan oleh presiden.”

Ketika ditanya Senin (14/5) apakah denuklirisasi Semenanjung Korea termasuk payung nuklir AS dan penyebaran aset strategis Amerika, seorang pejabat tinggi Gedung Biru mengatakan kepada wartawan bahwa “masalah akan dibahas antara Korea Utara dan Amerika Serikat.”

Namun pejabat yang sama menarik kembali perkataannya dan kemudian mengklarifikasi, “Saya tidak punya kapasitas untuk mengetahui isi KTT Amerika Utara dan tidak tahu apakah payung nuklir dan penyebaran aset strategis akan dibahas antara Korea Utara dan Amerika Serikat.”

Keterangan foto utama: Mantan duta besar AS untuk PBB John Bolton tiba di Trump Tower di New York pada Desember 2016. (Foto: Pool/Abaca/TNS File Photo)

John Bolton: Kim Jong Un Harus Serahkan Nuklirnya kepada Amerika
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top