Pelecehan Seksual
Berita Politik Indonesia

#JojoBukaBaju: Aksi yang Picu Perdebatan Bisakah Pria Jadi Korban Pelecehan Seksual

Berita Internasional >> #JojoBukaBaju: Aksi yang Picu Perdebatan Bisakah Pria Jadi Korban Pelecehan Seksual

Sejak bintang bulutangkis Jonatan Christie melepas kaosnya di pertandingan Asian Games 2018, penggemar dan akademisi telah mencoba untuk mencari tahu apakah dia merupakan korban seksisme. Penggemar wanita melemparkan berbagai komentar bernada seksual dan eksplisit, menggagumi tubuh bintang bulutangkis tersebut. Jojo, panggilan akrabnya, sendiri mengatakan, dia melepas bajunya karena sepertinya hal itu membuat penggemarnya bahagia.

Baca juga: Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Oleh: Nazvi Careem (South China Morning Post)

Para penggemar Indonesia di arena bulutangkis Asia Games 2018 Jakarta memberikan dukungan yang riuh rendah. Tapi ketika pahlawan lokal Jonatan Christie menampilkan tubuhnya yang bidang saat mengganti kaosnya yang basah kuyup di antara set melawan Vincent Vong dari Hong Kong, mereka entah bagaimana mengeluarkan teriakan dukungan yang jauh lebih keras.

Jeritan penuh gairah dari sebagian besar penggemar wanita diiringi oleh suara gemuruh hampir 4.000 orang yang memukul-mukul balon sorak mereka. Christie menyadari teriakan para penonton yang ditujukan, dan setelah mengalahkan Wong di babak perempat final, dia melangkah lebih jauh setelah kemenangan semifinalnya dengan melemparkan kaosnya ke arah ke penonton.

Dia juga kian digemari setelah memenangkan medali emas dan “Jojo” menjadi sosok pujaan baru di Indonesia. Media sosial Indonesia dihebohkan dengan ratusan penggemar wanita yang menulis komentar kekaguman di berbagai kanal media sosial, beberapa di antaranya cukup eksplisit.

Beberapa komentar berbunyi: “Ovarium saya meledak,” “Dia bermain sangat bagus di jaring bulutangkis, pasti lebih jago di ranjang,” “Oh, bajunya dilemparkan kepada penonton. Saya ingin protes, mengapa hanya baju Anda?” dan “Saya mual. Mungkin saya telah dihamili secara online. Bertanggung jawablah, Jo.”

Atlet bulutangkis Jonatan Christie dari Indonesia merayakan setelah memenangkan medali emas di final bulutangkis tunggal putra. (Foto: EPA)

Bahkan terdapat tagar Twitter yang dibuat dengan nama #jojobukabaju. Obrolan di dunia maya tersebut dengan cepat berevolusi dari komentar tentang tubuhnya menjadi perdebatan tentang apakah hal itu adalah bentuk pelecehan seksual.

Blogger wanita, Vita Kartika Cahyarani, lulusan Sarjana Komunikasi, menulis bahwa pria memang bisa menjadi korban seksisme, tetapi dalam kasus Jojo, hal itu tidak sama dengan seksisme, sebagian karena dia tidak merasa keberatan melakukan aksi tersebut.

Dia menulis: “Pertama-tama, seksisme adalah keyakinan bahwa laki-laki lebih tinggi dari perempuan, yang kemudian membenarkan tindakan prasangka, stereotype, dan diskriminasi. Keyakinan seperti itu dapat lahir dari ketidaktahuan atau kedengkian, sadar atau tidak sadar, disengaja atau tidak disengaja, tetapi hal itu tidak membuatnya kurang seksis.”

“Sekarang, pertanyaannya adalah: Dapatkah seorang laki-laki menjadi korban diskriminasi dan prasangka berbasis gender? Ya, mereka bisa. Namun, ini bukan seksisme terbalik atau seksisme secara umum.”

“Bagian seksisme yang penting tetapi sering diabaikan adalah hubungan kekuasaan antara jenis kelamin. Jojo adalah seorang atlet bintang dengan kekuatan lebih besar dari para penggemar wanita. Keputusannya yang sadar untuk merayakan kemenangannya dengan bertelanjang dada selama semi final dan sekali lagi setelah final membuktikan bahwa dia tidak merasa buruk melakukannya.”

“Perempuan telah menjadi orang-orang yang dihakimi secara lebih kejam oleh polisi moral misoginis berdasarkan perilaku dan penampilan mereka. Seksisme dapat ditemukan di mana-mana dan itu adalah sesuatu yang dialami wanita setiap hari. Dalam hal ini, Jojo memiliki otoritas penuh atas tubuhnya dan cara penyajiannya, sementara sayangnya wanita tidak.”

Cahyarani melanjutkan dengan mengklarifikasi bahwa pelecehan seksual tidak tergantung pada apakah korban merasa dilecehkan dan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan besar antara seksisme dan prasangka berbasis gender.

Joevarian Hudiyana, seorang mahasiswa PhD di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengamati apakah komentar tentang Jojo dapat dianggap sebagai pelecehan seksual atau menyoroti pembebasan perempuan dalam mengekspresikan diri di depan umum.

“Laki-laki cenderung mengaku pernah mengalami pelecehan seksual, karena mungkin hal itu menunjukkan bahwa mereka terlalu lemah,” tulisnya. “Tekanan teman sebaya juga dapat berkontribusi pada jumlah minimal laporan oleh laki-laki. Pria lain mungkin tidak melihat pelecehan seksual yang dilakukan oleh wanita sebagai ancaman. Terlepas dari reaksi Jojo, pelecehan seksual ketika pria menjadi korban itu benar-benar ada dan tidak boleh diremehkan. Komentar-komentar yang dilemparkan pada Jojo (oleh pria atau wanita) dapat mempengaruhi dia sama dengan bagaimana mereka mempengaruhi korban pelecehan seksual.”

Dia menambahkan bahwa konsep perempuan yang mampu melepaskan diri dari masyarakat patriarkal dan mengekspresikan diri di depan umum adalah masalah yang berbeda dan tidak berlaku dalam kasus Jojo.

Baca juga: ‘RKUHP Dirancang untuk Lindungi Moral dan Rakyat, Juga Perempuan dan Anak’

“Melihat fenomena Jojo semata-mata sebagai masalah pembebasan perempuan tidak hanya merupakan pandangan yang menyesatkan, tetapi juga berbahaya,” tulisnya. “Hal ini menghilangkan pengalaman subjek yang ditargetkan, yaitu Jojo sendiri. Pengalaman subjektif korban harus menjadi prioritas utama.”

“Dengan mengabaikan korban dan berfokus pada masalah yang sama sekali berbeda (yakni pembebasan wanita), kita berisiko menghilangkan potensi pelecehan seksual dari fenomena ini sepenuhnya. Perempuan harus selalu mendapatkan hak istimewa yang biasanya dimiliki oleh laki-laki, seperti kebebasan berekspresi. Namun, terdapat garis yang jelas dan tebal yang memisahkan kebebasan berekspresi dengan tindakan pelecehan.”

Adapun Jojo sendiri, alasannya untuk melepas bajunya jauh lebih sederhana. “Saya tidak tahu mengapa, tapi karena itu membuat orang bahagia, saya melakukannya begitu saja. Itu tindakan spontan,” katanya.

Keterangan foto utama: Atlet bulutangkis Jonatan Christie dari Indonesia memberi hormat kepada penonton setelah memenangkan medali di pertandingan Asian Games. (Foto: EPA)

#JojoBukaBaju: Aksi yang Picu Perdebatan Bisakah Pria Jadi Korban Pelecehan Seksual

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top