Kamala Harris
Opini

Kamala Harris Jadi Kandidat Presiden Amerika 2020, Trump Hilang Kesempatan

Berita Internasional >> Kamala Harris Jadi Kandidat Presiden Amerika 2020, Trump Hilang Kesempatan

Gedung Putih memiliki kecenderungan untuk memilih seseorang yang 180 derajat dari pendahulunya. Dari sisi itu, Kamala Harris memiliki keuntungan yang sangat besar. Senator dari California ini baru sangat mengumumkan ia akan maju sebagai calon kandidat presiden danri Partai Demokrat. Dan anak dari imigran India dan Jamaica ini adalah segalanya yang bukan Donald Trump.

Baca juga: Hillary Clinton Akan Maju Jadi Presiden Lagi di 2020

Oleh: Julie Allen (Independent)

Kamala Harris baru saja menghancurkan hari Donald Trump. Dengan deklarasinya yang telah dinanti-nantikan hari ini, dia tiba-tiba mencalonkan dirinya sebagai yang terdepan mewakili Demokrat dalam balapan untuk menurunkan presiden di tahun 2020.

“Mari kita lakukan ini bersama-sama: Untuk diri kita sendiri, untuk anak-anak kita, dan untuk negara kita,” katanya. Dan dengan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu, peluang Trump untuk terpilih kembali semakin kecil. Kamala Harris benar-benar sosok yang sangat berbeda dari Donald Trump.

Dalam pemilu AS, Gedung Putih sering kali bertolak belakang dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Dan mengenai gender, ras, usia, atau cita-cita, Harris mewakili pandangan yang sangat bertolak belakang dari pemegang jabatan presiden saat ini. Dia, dalam banyak hal, adalah “Obama versi perempuan”. Simbolisme politis seorang wanita kulit berwarna yang menyatakan pencalonannya di hari peringatan Martin Luther King Jr diapresiasi oleh hampir semua orang.

Tapi tentu saja tidak oleh Trump, yang akan mencoba menciptakan julukan yang meremehkan untuk Harris. Taktik bully seperti itu tidak mungkin berhasil. Wanita dari ayah kelahiran Jamaika dan ibu kelahiran India ini adalah kandidat substansi. Dia akan menghabiskan tahun depannya dengan menekan Trump mengenai rekam jejak diskriminasi rasnya, khususnya komentarnya setelah kerusuhan neo-Nazi di Charlottesville. Dan para pemilih akan segera mengetahui kisah tentang bagaimana, ketika Harris masih balita, ia dibawa ke pawai hak sipil oleh orang tuanya dan berteriak, “Fweedom!” dari kereta dorongnya.

Di dalam partainya sendiri, Harris juga mematahkan status quo. Joe Biden dan Bernie Sanders diperkirakan akan mencalonkan diri dalam beberapa minggu mendatang. Namun keduanya adalah pria kulit putih yang berumur tujuh puluhan. Beto O’Rourke, dengan kredensial progresifnya, adalah seorang pengusaha internet dan jutawan. Pria-pria ini tidak mewakili Partai Demokrat saat ini.

Dalam analisis interaksi media sosial akhir-akhir ini, Harris menjadi yang kedua setelah Alexandria Ocasio-Cortez, wanita muda anggota kongres, dalam hal banyaknya orang yang membahas daripada para politisi Demokrat lainnya. Dia berhubungan dengan baik dengan para pemuda di partai itu. Di usia 54 tahun, dia dua dekade lebih muda dari Biden dan Sanders. Video-video tentang pertanyaannya terhadap Brett Kavanaugh, pilihan kontroversial Trump untuk Mahkamah Agung AS, menjadi viral, seperti halnya episode-episode lain dari zamannya di Komite Kehakiman Senat. Dan meskipun dia baru terpilih menjadi anggota Senat pada tahun 2016, kurangnya pengalaman sepertinya tidak akan menjadi argumen yang akan diterimanya dari lawan-lawannya.

Kampanye kepresidenannya telah direncanakan sejak dia tiba di Senat. Ia mengumpulkan dukungan dari donor dan profesional kampanye sepanjang tahun lalu. Awal bulan ini dia menerbitkan buku, jalan yang dilalui para kandidat untuk membuat kisah hidup mereka diketahui. Kisah buku itu adalah kisah imigran, tentang impian Amerika yang dikejar oleh keluarga Harris, dan itu akan beresonansi secara luas di saat imigrasi merupakan masalah yang kontroversial saat ini.

Saat mengumumkan pencalonannya, Harris menggunakan salah satu platform terbesar, acara “Good Morning America”, sebuah pertanda bahwa jaringan TV AS tahu bahwa dia adalah sosok yang penting. Pengumuman itu seperti pengumuman langsung biasa, dan Harris berusaha mengatasi beberapa kekhawatiran yang lebih mungkin dimiliki oleh pemilih Demokrat yang berfokus pada keamanan nasional.

Dia menekankan pengalaman 20 tahunnya sebagai penuntut di California, dan komitmennya untuk “menjaga keamanan Amerika”. Menjabarkan bidang-bidang di mana dia akan berhadapan dengan Trump, dia berjanji akan memulihkan “otoritas moral Amerika di dunia”, bekerja sama dengan sekutu yang telah dia cemooh.

Yang terpenting, dia berjanji untuk “bertahan dan bertarung”. Dan itulah yang paling ingin didengar oleh pemilih Demokrat.

Tidak ada keraguan lagi, bahkan di antara lawan-lawannya, tentang kekuatan karakternya, keinginannya untuk sukses, dan kemampuannya untuk bertarung. Satu-satunya pertanyaan untuknya sekarang adalah bisakah dia menyiapkan kerumunan orang, memicu semangat seperti yang dilakukan Sanders di pemilu pendahuluan tahun 2016? Sejauh ini dia terbukti hampir bisa melakukan itu. Dia telah memiliki pesan yang jelas, CV untuk pekerjaan itu, dan faktor-X yang tidak dimiliki Hillary Clinton.

Harris, yang nama depannya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanaman teratai, tidak diragukan lagi akan menghadapi berbagai tantangan dalam jalannya menuju ke Gedung Putih. Namun untungnya, dia memiliki keuntungan bahwa jadwal pemungutan suara untuk California, negara bagian asalnya, telah dimajukan dari Juni hingga Maret di musim primer 2020. Ini bisa memberinya dorongan besar dalam perebutan nominasi. Namun, Dianne Feinstein, senator lain dari California, telah mendukung Biden.

Baca juga: Akankah Joe Biden Maju Melawan Trump pada Pemilu 2020?

Harris juga akan ditantang pada beberapa aspek rekam jejaknya sebagai pengacara di California. Dia menyebut dirinya sebagai “jaksa progresif”. Tetapi sesaat sebelum dia mengumumkan pemilu Gedung Putihnya, dia dihantam di New York Times oleh Lara Bazelon, seorang profesor hukum asosiasi Universitas San Francisco.

Bazelon berpendapat bahwa, sebagai seorang jaksa penuntut, Harris “berjuang mati-matian untuk menegakkan hukuman yang salah” yang telah diperoleh melalui “perusakan bukti, kesaksian palsu, dan penindasan informan penting oleh jaksa penuntut”. Penasihat Harris mengatakan bahwa rekam jejaknya solid dan mereka akan dapat bertahan menghadapi setiap serangan semacam itu. Mengingat skandal email Clinton, dan berbagai skandal seputar Trump selama pemilu 2016, serangan semacam itu bukanlah apa-apa.

Kamala Harris, energik, karismatik, sangat bisa dipilih, menarik bagi banyak orang di Amerika, dan bebas dari skandal adalah kandidat impian Demokrat.

Keterangan foto utama: Senator Kamala Harris, calon kandidat presiden dari Partai Demokrat. (Foto: Roll Call Inc./Bill Clark)

Kamala Harris Jadi Kandidat Presiden Amerika 2020, Trump Hilang Kesempatan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top