Hoax Ratna Sarumpaet
Titik Balik

Kampanye Prabowo Disandung Hoax Ratna Sarumpaet

Home » Titik Balik » Kampanye Prabowo Disandung Hoax Ratna Sarumpaet

Kampanye Prabowo lagi-lagi tersandung oleh hoax. Ini bukan pertama kalinya Prabowo tersangkut masalah berita palsu. Pengamat mengatakan, kasus hoax Ratna Sarumpaet bisa memberikan citra negatif pada Prabowo, yang akan memaksa mereka bekerja lebih keras lagi jika ingin sukses di Pilpres 2019.

Oleh: Ainur Rohmah (Asia Sentinel)

Momentum calon presiden oposisi, Prabowo Subianto, telah diperlambat dan kampanyenya telah terbebani dengan rasa malu. Hal ini karena seorang aktris berusia 69 tahun, yang merupakan anggota kampanye pemenangan Prabowo (namun sekarang sudah mengundurkan diri), mengeluarkan klaim palsu bahwa ia telah dipukuli oleh orang-orang yang diduga merupakan sekutu Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

Dengan berlinang air mata, Ratna Sarumpaet mengaku secara terbuka bahwa dia telah “dibisikkan oleh Setan” untuk membuat cerita (palsu) bahwa dia telah dipukuli oleh dua hingga tiga pria di bandara di Bandung, Jawa Barat, mengakibatkan memar wajah, meskipun memar wajahnya sebenarnya karena operasi plastik.

“Jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita fiktif yang dibisikkan oleh Iblis kepada saya,” kata Ratna di depan puluhan wartawan di rumahnya pada 3 Oktober. Dia meminta maaf kepada Prabowo, yang jelas-jelas percaya dengan kebohongannya sampai mengadakan konferensi pers untuk menunjukkan simpatinya. “Saya tidak bisa melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya pada konferensi pers,” tambahnya.

Pemilu presiden (pilpres) dijadwalkan akan berlangsung pada 17 April 2019, dengan Prabowo, kandidat yang dikalahkan Jokowi di pilpres 2014, mencalonkan dirinya sekali lagi untuk duduk di kursi kepemimpinan negara dengan 260 juta orang penduduk ini. Sebuah survei yang diterbitkan oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pekan lalu, menunjukkan bahwa Jokowi dan pasangannya, KH Ma’ruf Amin, terus unggul dari Prabowo dan calon wakil presidennya Sandiaga Uno dengan perolehan 60,4 persen banding 29,8 persen.

Kasus Ratna telah menjadi isu besar kampanye. Amien Rais, mantan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan pendukung utama Prabowo, telah diinterogasi oleh kepolisian Jakarta sehubungan dengan kasus ini. Amien dikawal ke kantor polisi oleh ratusan Muslim dari sebuah organisasi yang dikenal sebagai Alumni 212, yang mengadakan demonstrasi menuduh mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah melakukan penistaan agama, menyebabkannya kehilangan jabatan gubernur dan kemudian dipenjara karena tuduhan tersebut.

“Ratna Sarumpaet telah menyebarkan berita palsu dan telah menciptakan gejolak di masyarakat. Dengan ditetapkannya sebagai tersangka oleh polisi, itu berarti ada dua bukti yang cukup, dan benar,” kata Mahfud M, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang mengatakan bahwa proses hukum harus dilanjutkan. “Dalam hukum pidana, pelanggarnya menghadapi negara atau masyarakat sehingga masalah itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta maaf,” katanya dalam kuliah umum di Kota Semarang.

Mahfud berpendapat bahwa Prabowo dan beberapa anggota timnya yang diduga telah menyebarkan hoax seharusnya sudah membawa masalah ini kepada pihak berwenang.

Ratna, sebagai anggota tim kampanye Prabowo, menjadi figur utama yang menuai simpati, terutama di kalangan perempuan. Dia sering menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah, menuduh pemerintahan Jokowi menyebarkan berita palsu dan hoax, mengatakan bahwa Jokowi tidak menepati janjinya selama kampanye.

“Saya minta maaf kepada semua pihak yang telah saya kritik dan kali ini kritik itu telah berbalik kepada saya,” katanya.

“Kali ini saya menjadi pencipta hoax terbaik, mengejutkan seluruh negeri.”

Bermain Sebagai Korban

Ratna telah menyebabkan kegemparan pada 2 Oktober ketika foto wajahnya yang memar mulai beredar di media sosial dan beberapa pejabat partai pendukung Prabowo menulis kecamannya di Twitter kepada pihak yang diduga di balik insiden itu.

“Bunda @RatnaSpaet memang telah dianiaya dan dipukuli oleh sekelompok orang yang tidak bermoral. Sangat kejam,” tulis wakil ketua Partai Gerindra, Fadli Zon di akun Twitternya @fadlizon pada hari Selasa (2/10).

Seorang anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, menyamakan dugaan pemukulan Ratna dengan serangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, dan pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib tahun 2004. Mardani mengatakan ia menentang kekerasan seperti itu, yang katanya hanya dipraktekkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), organisasi yang sering dikaitkan dengan Jokowi.

“Pemukulan Ratna adalah bencana Demokrasi dan Kemanusiaan, ini adalah penghinaan terhadap Pancasila, menginjak-injak pemerintahan demokratis. Munir & Noval Baswedan belum selesai, sekarang @RatnaSpaet,” kata tweet Mardani, yang kini telah ia hapus.

Beberapa tweet lain datang dari pejabat dari pendukung Prabowo lainnya, termasuk Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional. Mereka menyebarkan foto wajah Ratna yang diduga dipukul, menambahkan bahwa pemukulan itu anti-demokrasi, membungkam tokoh-tokoh vokal dan pelanggaran hak asasi manusia.

Prabowo, ditemani oleh tokoh-tokoh utama dari tim kampanyenya, mengecam tindakan pemukulan itu sebagai “tindakan pengecut.” Dia menambahkan bahwa dia tidak habis pikir siapa yang tega menganiaya seorang wanita tua. “Seorang wanita 70 tahun yang berjuang untuk orang miskin, keadilan, demokrasi, dan tindakan ini merupakan ancaman serius bagi demokrasi,” katanya.

Tapi hoax itu tidak berlangsung lama. Investigasi polisi telah menemukan bahwa dia tidak pernah dipukuli dan bahwa memar itu disebabkan karena operasi plastik di sebuah rumah sakit di Jakarta. Bukti-bukti tersebut memaksanya untuk mengaku.

Baca Juga: Hoax Ratna Sarumpaet Untungkan Kampanye Prabowo

Prabowo dan timnya kemudian buru-buru meminta maaf dan mengklaim mereka telah menjadi korban. Belakangan, anggota tim itu menuduh bahwa Ratna mungkin sengaja menyusup ke dalam kelompok mereka untuk melemahkan Prabowo.

Meskipun demikian, ini adalah ketiga kalinya Prabowo tertangkap basah menggunakan informasi yang tidak akurat dalam kampanye kali ini. Selain masalah penganiayaan terhadap Ratna, Prabowo juga menggunakan hasil jajak pendapat dari beberapa lembaga survei yang tidak kredibel untuk mengklaim bahwa dia sebenarnya pemenang pilpres 2014, bukan Jokowi. Prabowo juga menggunakan buku yang ternyata fiksi untuk menyatakan bahwa Indonesia akan pecah menjadi beberapa negara pada tahun 2030.

Ratna Ditinggalkan

Meskipun Ratna dan tim Prabowo telah meminta maaf, polisi telah menetapkannya sebagai tersangka atas tuduhan penyebaran berita palsu sehingga menciptakan kekacauan di masyarakat, dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara. Polisi kini mengintensifkan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi, terutama dari tim Prabowo.

Berusaha menahan kerusakan, Partai Gerindra melaporkan Ratna ke polisi.

“Kami terus melapor (ke polisi) meskipun kita semua tahu bahwa Ratna telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka, tapi ini adalah bentuk penegakan hukum karena Gerindra sangat dirugikan,” kata Sekretaris Advokasi Hukum Gerindra, Mohamad Taufiqurrahman.

Kebohongan dan Elektabilitas

Wakil Ketua tim kampanye Jokowi, Abdul Kadir Karding, berusaha memanfaatkan kejanggalan itu, mengatakan ia menduga Prabowo dan timnya akan semakin sulit untuk mendapatkan dukungan dari para pemilih.

“Kami orang timur pada umumnya tidak menyukai kebohongan yang ditampilkan sebagai bagian dari kampanye,” kata Karding. “Bisa jadi pendukung Pak Prabowo, terutama mereka yang keras dan setia, belum berubah. Tetapi sulit untuk meningkatkan dukungan dengan kasus tipuan Ratna Sarumpaet. ”

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting, Djayadi Hanan, mengatakan hoax Ratna telah menghasilkan citra negatif untuk Prabowo-Sandi, tetapi tidak secara otomatis mematikan kesempatan mereka untuk menang. Prabowo, katanya, memiliki pendukung kuat yang membuat elektabilitasnya stabil di sekitar 30 persen.

“Pendukung sulit untuk berubah bahkan setelah menghadapi masalah seperti hoax ini,” kata Djayadi.

Dengan pemilu akan dilangsungkan enam bulan lagi, mereka juga masih punya waktu untuk memperbaiki diri, kata Djayadi. Selain itu, ada kemungkinan Jokowi dan timnya untuk melakukan kesalahan. “Bisa jadi masalah serupa bisa menimpa kamp Jokowi. Dan itu akan membuat situasi seimbang. Pemilihan presiden masih beberapa bulan lagi,” katanya.

Meskipun demikian, ia menyimpulkan bahwa Prabowo dan timnya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dan paling tidak harus menambah 20 persen suara untuk mengamankan posisi mereka.

Baca Juga: Sebar Hoax, Ratna Sarumpaet Ditangkap Saat Hendak Tinggalkan Indonesia

Keterangan foto utama: Ratna Sarumpaet (kanan) berbohong bahwa ia diserang oleh tiga pria pada bulan lalu, yang menyebabkan lebam di wajahnya. Dia kemudian mengakui bahwa lebam itu adalah hasil dari prosedur kosmetik. Dia ditangkap di bandara Jakarta pada Kamis (4/10). (Foto: Antara)

Kampanye Prabowo Disandung Hoax Ratna Sarumpaet

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top