asia bibi
Asia

Kasus Penistaan Agama Pakistan: Bebas dari Penjara, Nyawa Asia Bibi dalam Bahaya

Kasus Penistaan Agama Pakistan: Bebas dari Penjara, Nyawa Asia Bibi dalam Bahaya

Asia Bibi telah dibebaskan dari penjara setelah ditahan selama delapan tahun menunggu hukuman mati atas kasus penistaan agama. Namun kini nyawa buruh Kristen itu berada dalam bahaya. Kasus ini telah menewaskan dua politisi yang mendukung Bibi, dan kini ancaman pembunuhan dilayangkan pada Bibi dan keluarganya.

Baca Juga: Pengadilan Eropa: Penistaan Agama Bukan Kebebasan Berbicara

Oleh: Harriet Sherwood (The Guardian)

Asia Bibi, seorang buruh beragama Kristen yang kasus penistaan agama-nya telah memicu kerusuhan dan pembunuhan di Pakistan, telah dibebaskan dari penjara. Namun, Bibi tetap harus berada dalam kawalan perlindungan, satu minggu setelah Mahkamah Agung Pakistan membatalkan hukumannya.

Pihak berwenang mengatakan, dia meninggalkan fasilitas tahanan di provinsi Punjab, di tengah pengalawan ketat pada hari Rabu dan diterbangkan ke Islamabad, di mana ia tinggal di lokasi yang aman karena ada ancaman terhadap nyawanya.

“Dia telah dibebaskan. Saya telah diberi tahu bahwa dia sudah naik pesawat tapi tidak ada yang tahu dimana dia akan mendarat,” pengacaranya Saif-ul-Malook mengatakan lewat pesan teks kepada AFP.

Bibi, yang telah menghabiskan delapan tahun menunggu vonis mati, berada dalam kondisi tidak jelas setelah pemerintah membuat kesepkatan dengan kelompok religius konservatif untuk mengakhiri protes. Protes itu meledak setelah vonis pembebasan Bibi.

Suami dan anak-anak Bibi telah tinggal di tempat yang dirahasiakan di Pakistan karena khawatir akan nyawa mereka. Suami Bibi juga telah membuat permohonan berulang-ulang kepada komunitas internasional untuk membantu menjamin keamanan keluarga itu.

“Bantu kami keluar dari Pakistan. Kami benar-benar khawatir hidup kami berada dalam bahaya. Kami tidak lagi memiliki sesuatu untuk dimakan, karena kami tidak bisa meninggalkan rumah untuk membeli makanan,” Ashiq Masih, suami BIbi, mengatakan pada Aid to the Church in Need, yang berkampanye untuk kebebasan beragama.

Dia mengatakan pada BBC World dia belum bertemu dengan Bibi lagi sejak pembebasannya, dan bahwa keluarga mengkhawatirkan keselamatan BIbi. Kelompok ekstremis religius telah mengancam akan membunuh Bibi.

Pemerintah saat ini mengatakan Bibi tidak bisa meninggalkan Pakistan karena petisi untuk meninjau ulang keputusan pengadilan telah dilayangkan oleh seorang pengacara Islamis radikal, meminta agar pembebasan itu dibatalkan. Pengadilan Pakistan biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk memutuskan kasus-kasus seperti itu.

Pengacara Bibi, Saiful Mulook, kabur dari Pakistan pada akhir pekan ini setelah menerima ancaman pembunuhan, dan sedang mencari suaka di Belanda.

Kanada, Prancis, dan Spanyol dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk memberikan suaka bagi Bibi dan keluarganya. Suaminya juga telah memohon kepada Britania Raya dan Amerika Serikat untuk memberikan suaka.

Di Italia, Matteo Salvini, menteri dalam negeri anti-migran garis keras, megnatakan dia akan melakukan “segalanya yang mungkin” untuk memastikan Bibi dan keluarganya selamat, baik di Italia maupun tempat lain.

Bibi divonis menistakan agama setelah pertikaian dengan sekelompok wanita Muslim di desanya. Dua politisi Pakistan telah terbunuh karena memberikan dukungan kepada Bibi secara terbuka dan mengkritik hukum penistaan negara itu.

Keputusan mahkamah agung minggu lalu untuk membalikkan vonis mati berujung pada protes dan kerusuhan di penjuru Pakistan dan mendatangkan seruan agar para hakim dalam persidangan itu dibunuh.

Asia Bibi di penjara di Sheikhupura di dekat Lahore, Pakistan. (Foto: AP)

Imran Khan, perdana menteri Pakistan yang menjabat sejak bulan Juli, telah dikritik karena tunduk pada pada ekstremis dalam kasus ini.

“Khan meraih kekuasan awal tahun ini dengan janji-janji akan mengembalikan aturan hukum, untuk mendukung mereka yang teropresi dan termajinalkan dan untuk memberikan keadilan. Lagipula partainya disebut Gerakan untuk Keadilan (Movement for Justice),” ujar Omar Waraich dari Amnesty International.

Baca Juga: Bagaimana Keluhan Tentang Suara Masjid Berakhir dengan Hukuman Penistaan Agama?

“Namun apa artinya hal itu ketika, dalam waktu hanya dua hari, dia berubah dari memperingatkan massa agar tidak menggunakan kekerasan, menjadi tunduk pada permintaan mereka?”

Mantan istri Khan, Jemima Goldsmith, menuduhnya lewat Twiiter tunduk kepada “permintaan ekstremis untuk melarang #AsiaBibi pergi [dari Pakistan], setelah ia dibebaskan dari tuduhan penistaan—sama saja dengan menandatangani vonis matinya”.

Komisi Kebebasan Beragama, koalisi dari beberapa organisasi yang berkampanye melawan persekusi Kristen, telah menghimbau Khan agar mengizinkan Bibi untuk meninggalkan negara.

“Mengikuti penahanannya yang tidak adil dan pembebasannya yang telah lama ditunggu-tunggu, jelas bahwa hidup Asia berada dalam bahaya di Pakistan … Seiring orang-orang lain yang terlibat dalam kasus ini meninggalkan Pakistan, kami menekankan bahwa keselamatan Asia sekarang berada dalam tanggung jawab perdana menteri Khan,” ujar kelompok itu.

Keterangan foto utama: Seorang demonstran memang foto Asia Bibi di Islamabad. Suami dan anak-anaknya tinggal di alamat rahasia karena khawatir akan nyawa mereka. (Foto: Aamir Qureshi/AFP/Getty Images)

Kasus Penistaan Agama Pakistan: Bebas dari Penjara, Nyawa Asia Bibi dalam Bahaya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top