Asia

Kebijakan Xi Jinping Picu Pertentangan Akademis di China

Home » Featured » Asia » Kebijakan Xi Jinping Picu Pertentangan Akademis di China

Partai Komunis memerintahkan tindakan keras menyusul seruan untuk ‘pendidikan patriotik’, setelah para akademisi mempertanyakan ‘jalan ke depan’ Beijing. Di saat yang sama, para akademisi juga meragukan berbagai program Presiden Xi Jinping. Mereka menuturkan, merasa ‘kehilangan dalam ketidakpastian’ tentang masa depan China.

Baca Juga: Taiwan kepada Vietnam: ‘Kami Bukan China’

Oleh: Gordon Watts (Asia Times)

Di resor tepi laut Beidaihe di Provinsi Hebei, udara terasa sejuk dengan suhu 25 derajat Celcius, pada Kamis (2/8), dengan sesekali berhembus angin dingin.

Namun di Beijing, suasananya sangat dingin karena perbedaan pendapat domestik di China bergema melalui dunia maya, dan perang dingin perdagangan dengan Washington tidak menunjukkan tanda-tanda pencairan.

Hampir 260 kilometer—atau 161 mil—dari hiruk-pikuk ibu kota China, elit Partai Komunis, termasuk Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, berkumpul untuk liburan kerja musim panas mereka.

Sejak masa kepemimpinan Mao Zedong, area indah di pesisir ini telah menjadi tempat untuk bersantai sambil berbicara tentang isu-isu utama hari ini.

Selama sisa minggu ini, akan ada banyak hal untuk dibicarakan dan dicerna, terlepas dari area mewah untuk serangkaian makan malam di sana.

Berulang kali, Partai Komunis China (CCP), akan menjadi agenda utama, setelah perbedaan pendapat dari para akademisi liberal dan para ahli ekonomi.

Bahkan yang sudah terjadi, Xinhua (kantor berita resmi pemerintah), People’s Daily (corong dari Partai Komunis yang berkuasa dan surat kabar paling berpengaruh di China), dan tabloid berbahasa Inggris Global Times, telah melepaskan tembakan peringatan kepada seluruh lembaga akademis.

‘Semangat Patriotik’

“(Partai Komunis) telah memulai kampanye untuk mempromosikan ‘semangat perjuangan patriotik’ di antara para intelektual negara,” lapor Xinhua. “Kampanye ini bertujuan untuk menggalang para intelektual luar biasa untuk ‘mengejar upaya besar Partai dan rakyat China’.”

Baca Juga: Kekaisaran China Baru: Berakhirnya Era Deng di Tangan Xi Jinping

“Kampanye ini akan fokus pada para intelektual muda dan setengah baya, dengan kegiatan seperti promosi media, sesi belajar dan diskusi, pelatihan khusus, dan promosi contoh teladan, menurut pernyataan dari Partai Komunis dan Departemen Publisitas (nama sebelum Kementerian Propaganda),” tambahnya.

Sebuah editorial halaman depan di People’s Daily bahkan melangkah lebih jauh, dengan menunjukkan bahwa tujuan utama dari “kampanye” tersebut adalah untuk “membuat sejumlah besar anggota intelektual… untuk secara pasti mengikuti partai tersebut.”

Su Wei—seorang profesor di Sekolah Partai Komite Chongqing dari Partai Komunis—juga berterus terang di Global Times. Su bersikeras bahwa “pendidikan patriotik China telah memudar dalam beberapa tahun terakhir, yang telah menyebabkan banyak fenomena abnormal,” tanpa menjelaskan pernyataan terakhirnya.

Namun tetap saja, tindakan keras itu datang di saat para akademisi terkemuka di China mulai mempertanyakan kebijakan-kebijakan domestik Xi yang menyeluruh dan proyek-proyek global terkemuka, seperti Inisiatif Sabuk dan Jalan yang kontroversial.

Xu Zhangrun—seorang Profesor Hukum Konstitusi di Universitas Tsinghua yang berpengaruh—menyebutkan fakta-fakta sesungguhnya dalam sebuah esai di situs web Unirule Institute of Economics—sebuah wadah pemikir independen di Beijing.

“Masyarakat di seluruh negeri—termasuk seluruh elit birokrasi—merasa sekali lagi kehilangan  dalam ketidakpastian tentang arah negara ini dan tentang keamanan pribadi mereka sendiri, dan kecemasan yang meningkat telah menyebar hingga mencapai tingkat kepanikan di seluruh masyarakat,” tulisnya.

Seorang rekan sejawat di Universitas Tsinghua, Profesor Sosiologi Guo Yuhua, berbicara mengenai subjek yang sama dalam sebuah wawancara yang diliput oleh Baidu—mesin pencarian online raksasa, yang merupakan bagian dari kelompok BAT, Alibaba dan Tencent.

Dia berbicara tentang bagaimana “demonisasi demokratisasi saat ini telah sangat berhasil”, dan bagaimana tidak ada “perubahan dalam sistem politik dan ideologi.”

“Sistem ekonomi telah bergeser dari ekonomi terencana ke ekonomi pasar, tetapi belum ada perubahan yang sesuai dalam sistem politik dan ideologi,” kata Guo. “Alasan untuk tidak adanya perubahan adalah resistensi yang sangat besar yang disebabkan oleh penindasan kekuasaan.”

“Ini pasti akan mengarah pada rusaknya kebesaran China, satu kaki maju dengan melangkah ke ekonomi pasar, sementara kaki lainnya berjalan mundur,” tambahnya.

Bahkan Great Firewall telah gagal untuk menahan perdebatan tentang masa depan negara tersebut, dengan internet yang bergejolak oleh sudut pandang yang berbeda.

Perang dagang

Memang, beberapa hal mungkin dibicarakan di Beidaihe pada minggu ini, seiring para pejabat senior Partai bergulat dengan perang dagang yang semakin mendalam dengan Amerika Serikat, sementara menyusun kembali perekonomian, dan mendorong maju kebijakan “Made in China 2025” yang kontroversial, serta Inisiatif Sabuk dan Jalan yang bernilai miliaran dolar.

Baca Juga: Xi Jinping Peringatkan Trump: ‘Dalam Budaya Kami, Kami Menyerang Balik’

Pada saat yang sama, perselisihan publik muncul antara Bank Rakyat China—bank sentral de facto—dan Kementerian Keuangan, tentang cara menghasilkan pertumbuhan sambil menahan utang pemerintah dan pemerintah lokal.

“China sangat terpecah belah, dengan miliaran jaringan individu yang berbeda yang dibuat oleh media sosial, dan kelas menengah fokus tanpa henti pada apa yang berhasil bagi mereka,” Kerry Brown, seorang Profesor Studi China dan Direktur Institut Lau China di King’s College di London, mengatakan dalam sebuah opini untuk Inside Story.

“Bukannya mereka dicuci otak dan dibuat patuh oleh pesan-pesan Partai Komunis—namun mereka dalam banyak hal telah bergerak melampaui keyakinan akan sesuatu yang lebih besar mengenai masyarakat di sekitar mereka. Mereka percaya pada China yang kuat, karena itu berarti keamanan dan kekayaan. Mereka suka dengan status ini,” lanjutnya di situs media yang didirikan oleh Swinburne University of Technology di Australia.

“Tetapi masyarakat China sedang bergerak ke era di mana—karena manfaat material menjadi semakin luas—masalah makna dan nilai akan muncul dan menuntut sesuatu yang lebih dari solusi ekonomi sederhana,” Brown, yang buku barunyaChina’s Dreams: The Culture of the Communist Party of China and Its Secret Sources of Power’, akan dipublikasikan bulan depan, menambahkan.

Tentu saja, bebas untuk menduga di mana poin-poin itu akan didiskusikan oleh lingkaran dalam Politbiro sambil menyantap hors d’oeuvres di pantai Beidaihe dalam beberapa hari ke depan.

Keterangan foto utama: Universitas Tsinghua adalah salah satu institusi paling berpengaruh di China. (Foto: iStock)

 

Kebijakan Xi Jinping Picu Pertentangan Akademis di China
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top