kecelakaan lion air
Berita Politik Indonesia

Kecelakaan Lion Air: Ada Masalah Kecepatan di Empat Penerbangan Terakhir

Kecelakaan Lion Air: Ada Masalah Kecepatan di Empat Penerbangan Terakhir

Kecelakaan pesawat komersil penumpang Lion Air JT610 yang jatuh ke laut dekat Indonesia pekan lalu memiliki masalah indikator kecepatan udara pada empat penerbangan terakhirnya, menurut para pejabat. Kerusakan perangkat, yang befungsi memberitahu pilot seberapa cepat pesawat melakukan perjalanan, terungkap setelah pemulihan perekam “kotak hitam.” Penerbangan Lion Air JT 610, yang membawa 189 orang di dalamnya, jatuh segera setelah lepas landas dari Jakarta, ibukota Indonesia.

Baca Juga: Konteks yang Lebih Luas dalam Tragedi Jatuhnya Pesawat Lion Air

Oleh: BBC

Para kerabat dan anggota keluarga penumpang menghadapi pejabat Indonesia dengan marah di sebuah konferensi pada hari Senin (5/11). Mereka ingin tahu mengapa pesawat itu diizinkan terbang. Mereka juga menuntut agar tidak ada penundaan dalam upaya evakuasi. Penyebab kecelakaan hingga kini masih belum jelas.

“Kami adalah korban di sini. Bayangkan jika Anda berada di posisi kami,” kata Najib Fuquoni, seorang kerabat korban.

Pendiri Lion Air, Rusdi Kirana, menundukkan kepalanya di hadapan kerabat penumpang yang hadir. (Foto: EPA)

Pendiri Lion Air, Rusdi Kirana, menghadiri pertemuan tersebut. Pada satu titik, keluarga menuntut agar dia berdiri. Dia tidak berbicara tetapi menangkupkan tangannya dalam posisi berdoa dan menundukkan kepalanya.

Baca Juga: Taipan Indonesia di Balik Lion Air, Pemilik JT-610 yang Jatuh

Pertanyaan yang muncul dari kesalahan yang tercatat

Kemungkinan bahwa pesawat Lion Air memiliki kerusakan indikator kecepatan udara adalah perkembangan yang signifikan. Perilaku pesawat yang tidak menentu selama penerbangan terakhirnya, dan laporan masalah selama perjalanan sebelumnya, telah memicu spekulasi bahwa hal ini bisa menjadi masalah.

Petugas forensik memeriksa puing-puing pesawat di hari-hari awal penyelidikan. (Foto: Reuters)

Kecepatan udara diukur menggunakan sensor yang disebut pitot tube, yang merekam tekanan pada sayap atau permukaan depan pesawat. Tekanan ini dibandingkan dengan pembacaan tekanan yang diperoleh dari apa yang disebut port statis di bagian lain dari pesawat. Dengan koreksi, perbedaan antara keduanya dapat digunakan untuk menghitung kecepatan udara.

Namun, pitot tube dapat terhalang, misalnya karena lapisan es. Kejadian semacam itu dapat menyebabkan pembacaan kecepatan udara yang tidak menentu, yang pada gilirannya dapat membingungkan pilot dan mempengaruhi cara pesawat diterbangkan, yang kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan.

Tahun 2009, misalnya, penerbangan Air France menukik turun di dekat lepas pantai Brazil. Pitot tube yang terblokir memicu rantai kejadian di mana pilot menjadi bingung, kehilangan arah, dan kehilangan kendali. Dalam setiap hal lainnya, pesawat itu bekerja dengan sempurna.

Ini masih merupakan hari-hari awal penyelidikan sehingga akan dibutuhkan lebih banyak informasi. Tetapi jika pembacaan kecepatan udara yang tidak dapat diandalkan merupakan salah satu faktor, pertanyaan utamanya adalah: apa penyebabnya, misalnya desain yang buruk atau prosedur pemeliharaan yang buruk, dan mengapa masalah sebelumnya tampaknya tidak diperbaiki.

Apa masalahnya dengan instrument pesawat?

Para kerabat yang putus asa menuntut jawaban pada pertemuan emosional dengan pihak berwenang Indonesia. (Foto: Getty Images)

Log yang diperoleh oleh BBC telah menunjukkan bahwa pada penerbangan kedua pesawat seri Boeing 737 Max tersebut, pembacaan kecepatan udara tidak dapat diandalkan. Namun Komite Keselamatan Transportasi Nasional Indonesia kini mengatakan bahwa juga terdapat masalah pada dua penerbangan sebelumnya, sekaligus perjalanan terakhir yang fatal.

Mereka tidak mengatakan apakah masalah itu berasal dari masalah mekanis atau pemeliharaan, atau apakah meteran yang salah itu merupakan faktor dalam kecelakaan.

Baca Juga: Viral: Benarkah Lion Air Masuk Daftar Penerbangan Tak Aman?

“Saat ini kami sedang mencari penyebab masalah,” kata peneliti Nurcahyo Utomo, dilansir dari Associated Press. “Apakah masalahnya berasal dari indikator, alat pengukur atau sensor, atau masalah dengan komputer. Hal ini yang belum kami ketahui dan kami akan menemukannya.”

Pemerintah Indonesia memerintahkan pemeriksaan kepada semua pesawat Boeing 737 Max negara setelah peristiwa kecelakaan itu.

Apa yang kita ketahui tentang penerbangan terakhir?

Pesawat Lion Air JT610 jatuh ke Laut Jawa. Belum ada korban selamat ditemukan, demikian juga dengan badan pesawat Boeing 737. Pesawat itu melakukan perjalanan satu jam ke kota Pangkal Pinang di arah barat sebelum menukik turun. Pilot telah meminta izin untuk kembali ke bandara kepada petugas kontrol lalu lintas udara, tetapi kemudian hilang kontak.

Kecelakaan penerbangan Lion Air JT610. (Foto: Fligtradar24)

Hingga kini, para kerabat korban masih menunggu untuk menerima jenazah orang-orang terkasih. Sejumlah tas berisi potongan tubuh telah dikumpulkan, tetapi sejauh ini hanya 14 individu yang telah diidentifikasi. Tim pencari juga masih berusaha menemukan perekam suara kokpit pesawat.

Keterangan foto utama: Pesawat Lion Air. (Foto: AFP/Adek Berry)

Kecelakaan Lion Air: Ada Masalah Kecepatan di Empat Penerbangan Terakhir

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top