Uighur
Asia

Kedutaan Besar China di Selandia Baru Bantah Klaim Hilangnya Uighur

Kedutaan Besar China mengatakan bahwa "lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan" tersebut didirikan di Xinjiang untuk membantu orang-orang yang "dicuci otaknya" oleh para teroris. (Foto: RNZ/Johnny Blades)
Berita Internasional >> Kedutaan Besar China di Selandia Baru Bantah Klaim Hilangnya Uighur

Kedutaan Besar China di Selandia Baru membantah klaim hilangnya masyarakat Uighur di China, setelah kerabat Uighur yang tinggal di Selandia baru melayangkan tuduhan. Kedutaan Besar China mengatakan bahwa “lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan” didirikan untuk membantu orang-orang yang “dicuci otak oleh ekstremisme untuk menyingkirkan ideologi ekstremis, sehingga mereka dapat kembali ke komunitas secepat mungkin.”

Baca juga: Rakyat Indonesia Serukan untuk Selamatkan Uighur dari Penindasan China

Oleh: Sara Vui-Talitu (RNZ)

Kedutaan Besar China di Selandia Baru memperdebatkan tuduhan yang dilayangkan oleh masyarakat Uighur yang tinggal di Selandia Baru, bahwa banyak dari teman dan keluarga mereka menghilang dari tanah air mereka, di wilayah Xinjiang, China.

China mengatur kehidupan kelompok etnis Muslim di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR).

Pada bulan November, podcast RNZ mewawancarai Adil (bukan nama sebenarnya), seorang Uighur yang tinggal di Selandia Baru. Dia mengklaim bahwa sejak China memulai tindakan kerasnya di wilayah Xinjiang, banyak anggota keluarganya telah lenyap, dan masyarakat Uighur dipaksa untuk meninggalkan budaya, identitas, dan agama mereka.

Terdapat banyak laporan tentang berbagai pelanggaran hak asasi manusia dalam tindakan keras China terhadap Uighur.

Sebuah panel hak asasi manusia PBB mengatakan pada bulan Agustus, bahwa mereka memiliki laporan yang kredibel tentang setidaknya satu juta etnis Uighur yang ditahan dalam apa yang menyerupai ‘kamp interniran masif yang diselimuti kerahasiaan.’

Pemerintah China mengatakan bahwa kamp-kamp itu sebenarnya ditujukan untuk pendidikan ulang bagi para penduduk Uighur, untuk mengajari mereka tentang bahasa, cara, dan budaya China.

Dalam sebuah pernyataan kepada RNZ, Kedutaan Besar China menanggapi klaim Adil. Mereka mengatakan bahwa “lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan” itu didirikan untuk membantu orang-orang yang “dicuci otak oleh ekstremisme untuk menyingkirkan ideologi ekstremis, sehingga mereka dapat kembali ke komunitas secepat mungkin.”

“Lebih baik mencegah mereka menjadi pelaku atau korban terorisme daripada menindak mereka setelah mereka menjadi teroris yang mengancam masyarakat lokal,” kata Kedutaan Besar China.

Kedutaan Besar China mengklaim bahwa Xinjiang pada umumnya stabil sekarang, dengan situasi yang membaik. Dikatakan dalam 21 bulan terakhir, tidak ada serangan kekerasan yang terjadi, dan keamanan serta stabilitas sosial yang lebih baik membawa ledakan ekonomi dan pariwisata ke wilayah tersebut.

Adil (bukan nama sebenarnya) di Selandia Baru. (Foto: RNZ)

Namun, Adil sebelumnya mengklaim bahwa China membuat pemberitaan yang tak sesuai kenyataan di media, untuk menggambarkan penduduk Uighur sebagai teroris dan pengebom, ketika kekerasan itu benar-benar dilakukan oleh Han China.

Dia mengatakan bahwa dia beruntung bisa keluar dari China, tetapi kasus penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia telah mengikutinya dan masyarakat Uighur lainnya hingga ke Selandia Baru. Adil yakin bahwa dia berada di bawah pengawasan konstan di sini oleh para pejabat Kedutaan China.

Masyarakat minoritas yang diduga telah melarikan diri dari ‘lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan’ tersebut, telah menceritakan kisah-kisah penyiksaan, diberikan sedikit makanan untuk dimakan, dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan yang jelas.

Beberapa orang mengklaim bahwa para pejabat China ditempatkan di rumah-rumah keluarga Uighur untuk memata-matai mereka, dan perempuan etnis tersebut dipaksa untuk menikah dan memiliki keturunan dengan etnis Han Cina.

Baca juga: Pemerintah Indonesia Tegas Tolak Penindasan Muslim Uighur di China

Manajer komunitas Selandia Baru Amnesty International, Margaret Taylor, mengatakan kepada RNZ, bahwa sumber-sumber yang dapat dipercaya telah mengindikasikan bahwa mungkin ada lebih banyak Uighur yang ditahan bertentangan dengan keinginan mereka.

“Ini sangat menakutkan.”

XUAR (adalah) rumah bagi sekitar 22 juta Muslim, dan hingga satu juta dari orang-orang tersebut ditahan di pusat ‘transformasi melalui pendidikan’, tetapi sebenarnya itu adalah pusat penahanan.

Dia mengatakan bahwa itu mengkhawatirkan “karena mereka akan dicuci otak, disiksa, dan ada pula kemungkinan nyata kematian, dan mereka hidup dalam ketakutan, bahkan di Selandia Baru.”

“China mengklaim bahwa dinasti Han Barat telah mempertahankan perlindungan di wilayah barat Xinjiang sejak setidaknya 60 SM, dan telah melaksanakan yurisdiksi di sana sejak itu. XUAR didirikan pada 1 Oktober 1955 dan merupakan rumah bagi 47 kelompok etnis yang berbeda, termasuk Turki Uighur.”

China mengklaim bahwa kebijakan etnis dan religiusnya telah memenangkan dukungan dari 47 kelompok.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kedutaan Besar China mengatakan bahwa “lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan” tersebut didirikan di Xinjiang untuk membantu orang-orang yang “dicuci otaknya” oleh para teroris. (Foto: RNZ/Johnny Blades)

Kedutaan Besar China di Selandia Baru Bantah Klaim Hilangnya Uighur

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top