Kekerasan Gaza-Israel: Netanyahu dan Erdogan Perang Mulut
Timur Tengah

Kekerasan Gaza-Israel: Netanyahu dan Erdogan Perang Mulut

Berita Internasional >> Kekerasan Gaza-Israel: Netanyahu dan Erdogan Perang Mulut

Terkait bentrok mematikan di perbatasan Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terlibat dalam perang mulut. Presiden Erdogan menuduh Netanyahu sebagai “teroris” dan “penjajah”, serta mengatakan bahwa tanggapan Israel pada Jumat (30/3) adalah “serangan yang tidak manusiawi”. Sementara Netanyahu telah memanggil Erdogan seseorang yang “mengebom warga desa Kurdi”, yang merujuk pada operasi militer Turki di daerah Afrin Suriah.

Oleh: BBC

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah terlibat perang mulut atas bentrokan mematikan di perbatasan Gaza.

Enam belas warga Palestina tewas pada Jumat (30/3), setelah tentara Israel menembaki beberapa demonstran kekerasan.

Presiden Erdogan menuduh Netanyahu sebagai “teroris” pada Minggu (1/4).

    Baca Juga : 16 Orang Tewas, Palestina Adakan Hari Berkabung

Itu terjadi setelah Netanyahu menolak “pelajaran moral” dari Ankara, dan menuduh Turki mengebom tanpa pandang bulu warga sipil dalam tindakannya di luar negeri.

“Tentara paling bermoral di dunia tidak akan diberi ceramah tentang moralitas dari seseorang yang selama bertahun-tahun telah mengebom penduduk sipil tanpa pandang bulu,” kata pemimpin Israel itu di Twitter.

“Rupanya ini adalah bagaimana mereka menandai 1 April di Ankara,” tambahnya, mengacu pada April Mop.

Dia sebelumnya telah memanggil Erdogan seseorang yang “mengebom warga desa Kurdi”, yang merujuk pada operasi militer Turki di daerah Afrin Suriah.

Erdogan sebelumnya juga menyebut tanggapan Israel pada Jumat (30/3) sebagai “serangan yang tidak manusiawi”.

“Hei Netanyahu! Anda penjajah. Dan Anda sebagai penjajah yang ada di tanah itu. Pada saat yang sama, Anda adalah seorang teroris,” kata Erdogan dalam sebuah pidato televisi pada Minggu (1/4).

Perang kata-kata yang meningkat terjadi di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap tanggapan militer Israel.

Apa yang terjadi pada hari Jumat?

Bentrokan pecah setelah ribuan warga Palestina berbaris menuju perbatasan, pada awal protes selama enam minggu, yang dijuluki ‘The Great March of Return’.

Demonstrasi itu terjadi menjelang ulang tahun ke-70 berdirinya Israel, dan eksodus oleh banyak masyarakat Arab—yang oleh masyarakat Palestina disebut sebagai “Nakba” (Bencana).

Kekerasan Gaza-Israel: Netanyahu dan Erdogan Perang Mulut

Para pelayat difoto saat pemakaman Hamdan Abu Amsha pada Minggu (1/4), saat upacara berlangsung untuk mereka yang meninggal. (Foto: AFP)

Meskipun sebagian besar demonstran tinggal di perkemahan, namun beberapa kelompok pemuda mengabaikan panggilan penyelenggara untuk menjauh dari pagar dan menuju ke posisi Israel.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa pasukan mereka menembak “ke arah penghasut utama” selama kerusuhan tersebut, di mana bom bensin dan batu dilemparkan.

Palestina menuduh Israel menggunakan kekuatan yang tidak pandang bulu dalam tanggapan mereka, di mana pemimpin Mahmoud Abbas mengatakan bahwa Israel “bertanggung jawab penuh” atas pertumpahan darah itu.

    Baca Juga : Protes di Perbatasan: Apa Sebenarnya yang Terjadi di Gaza?

Dengan 16 korban jiwa, Jumat (30/3) adalah hari paling mematikan dalam konflik Israel-Palestina sejak perang Gaza tahun 2014.

PBB mengatakan bahwa ratusan lainnya terluka.

Jenderal Militer Israel Ronen Manelis mengatakan kepada para wartawan pada Sabtu (31/3), bahwa Hamas—kelompok militan yang menguasai Gaza—menggunakan protes tersebut sebagai penutup untuk meluncurkan serangan terhadap Israel.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, juga menyalahkan pertumpahan darah itu pada kelompok militan.

Israel telah menolak panggilan dari para pemimpin internasional—termasuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres—untuk diadakannya penyelidikan independen terhadap kekerasan tersebut.

Keterangan foto utama: Kedua pemimpin tersebut memiliki sejarah saling tidak suka. (Foto: Reuters/EPA)

Kekerasan Gaza-Israel: Netanyahu dan Erdogan Perang Mulut

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top