Kelompok Alawit di Suriah: Para Keluarga yang Setia, Lalu Berbalik Menyerang Assad
Timur Tengah

Kelompok Syiah Alawiyyah di Suriah: Keluarga yang Setia, Lalu Berbalik Menyerang Assad

Berita Internasional >> Kelompok Syiah Alawiyyah di Suriah: Keluarga yang Setia, Lalu Berbalik Menyerang Assad

Terdapat para keluarga yang setia dan mau mengorbankan segalanya untuk Bashar Al Assad. Komunitas Alawit di Suriah telah menjadi sumber utama dukungan bagi rezim Suriah. Tetapi bahkan mereka kemudian berbalik menyerangnya.

    Baca juga: Apa Kata Assad Soal Serangan Rudal Amerika ke Suriah?

Oleh: Sam Dagher (The Atlantic)

BEIRUT—Sejak pasukan rezim Suriah dituduh melakukan serangan senjata kimia pada Sabtu (7/4) di Douma—kota pemberontak terbesar di dekat Damaskus—agar menyerah, dunia telah menunggu dengan cemas tanggapan Amerika Serikat (AS). Sebagai buntut dari dugaan serangan tersebut, Presiden Donald Trump berbicara tentang pembalasan yang akan segera terjadi dan mengeluarkan kata-kata keras untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan pelindungnya Rusia; Sejak itu Trump telah mengatakan bahwa serangan bisa datang “segera atau tidak secepat itu!” Namun, terakhir kali serangan kimia skala besar seperti itu dicurigai terjadi di Suriah, Trump mengikuti ancamannya, meskipun dengan tanggapan terbatas.

Mengingat konsekuensi yang berpotensi lebih besar yang akan dihadapi Assad dan sekutunya, tidak jelas mengapa ia akan mengambil risiko menggunakan senjata kimia, terutama ketika rezimnya telah menyatakan kemenangan dalam serangan yang didukung Rusia di Ghouta Timur—daerah pemberontak besar terakhir di dekat Damaskus, yang juga mencakup Douma. Banyak teori yang telah ditawarkan, termasuk keharusan Assad untuk lebih meneror penduduknya agar tunduk, serta keinginan untuk berani dan mempermalukan Barat yang tidak berdaya.

Satu penjelasan yang penting dan terlewatkan adalah tekanan yang ia hadapi dari kaum Alawit, anggota sekte minoritas yang terkait dengan Syiah tempat Assad berada. Banyak orang Alawit percaya bahwa kelompok pemberontak utama Douma, Jaysh al-Islam atau Tentara Islam, telah menahan hingga 7.500 tahanan Alawit di dalam dan di sekitar kota—termasuk jenderal militer, tentara, dan warga sipil—yang diculik atau ditawan oleh pemberontak tersebut selama bertahun-tahun, untuk mencoba memperoleh kesepakatan dari rezim. Meskipun Alawit mencakup sebagian kecil dari negara tersebut secara keseluruhan, namun mereka memegang kunci dari posisi rezim, mendominasi polisi, dan memasok pasukan tempur utama yang telah mempertahankan rezim tersebut sejak tahun 2011. Banyak dari para keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai, yang tidak bisa dibebaskan Assad, bahkan walau Assad mengatakan kepada mereka bahwa dia masih ingin agar putra-putra mereka untuk terus bertarung.

Kemampuan Assad untuk mendapatkan mereka kembali sangat penting untuk menjaga legitimasinya di mata para pendukung penting ini—sebuah fakta yang juga diakui oleh para pendukungnya, Iran dan Rusia. “Kami tidak akan menyerah pada orang yang hilang atau diculik, dan kami akan melakukan apa saja untuk membebaskannya jika dia masih hidup,” kata Assad saat pertemuan dengan keluarga Alawit pada Selasa (10/4). Bagi Assad, menunjukkan solidaritas dengan komunitasnya sendiri mungkin menjadi perhatian yang lebih besar daripada dampak dari penggunaan senjata kimia. Mengingat rekam jejak yang tidak merata di Barat dalam menanggapi serangan-serangan seperti itu sebelumnya, tekad rekan-rekan Assad untuk melindunginya, dan kesediaannya sendiri untuk membenarkan kekejaman apa pun atau berbohong tentangnya tanpa dihukum, terdapat logika brutal dalam pemikirannya—rezimnya tampaknya dibangun untuk bertahan, terutama karena kebingungan yang tumbuh tentang bagaimana jika terdapat tanggapan Amerika. Namun, menjelang dugaan serangan senjata kimia Douma, menjadi jelas bahwa Assad perlu menunjukkan kepada komunitasnya sendiri yang lelah akan perang, seberapa jauh ia bersedia membebaskan tahanan mereka. Ini adalah seorang diktator yang secara naluri memahami betapa cepatnya hal-hal yang bisa runtuh jika Alawit berbalik menyerangnya.

Apa Kata Assad Soal Serangan Rudal Amerika ke Suriah?

Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan para tentara Suriah di Ghouta timur, Suriah, 18 Maret 2018. (Foto: Sana/Handout via Reuters)

Selama perang tujuh tahun Suriah, saya telah berbicara dengan banyak orang Alawit yang merasa telah mengorbankan segalanya untuk mempertahankan hampir lima dekade pemerintahan keluarga Assad. Hampir setiap rumah di benteng Alawite di Suriah barat telah dipengaruhi oleh perang, yang diyakini oleh banyak anggota masyarakat sama pentingnya untuk menyelamatkan Assad seperti mempertahankan keberadaan mereka. Narasi rezim Suriah mengklaim bahwa mayoritas Muslim Sunni—dari mana para pemberontak berasal—ingin membasmi komunitas mereka. Dan seiring para jajaran hancur karena pembelotan, kelompok Alawit bergegas bergabung dengan milisi sektarian yang baru dibentuk. Tapi Assad selalu tampak lebih peduli pada milisi Syiah Iran, termasuk pejuang Hizbullah, yang juga membanjiri medan perang untuk menyelamatkannya.

Serangan baru-baru ini di Ghouta Timur—yang mencakup dua bulan kampanye pembumihangusan yang didukung Rusia terhadap para pemberontak—tampaknya ditakdirkan untuk mengubah itu, terutama ketika Iran dan milisi-milisinya ikut mendukung. Alawit dan banyak orang di dalam rezim Suriah menyerukan agar Assad menimbulkan rasa sakit maksimum pada oposisi untuk menjamin pembebasan tahanan.

    Baca juga: Opini: Logika Kebrutalan Assad

Sepanjang Maret, puluhan ribu pejuang pemberontak dan warga sipil muncul dari Ghouta Timur dan menerima perjalanan yang aman ke Idlib—sebuah provinsi yang didominasi oposisi di utara. Pembebasan mereka telah diatur dalam negosiasi antara Rusia dan kelompok-kelompok bersenjata. Ketika orang-orang Alawit memperhatikan mereka pergi, mereka menjadi cemas dan marah: Mereka belum menerima banyak informasi tentang saudara-saudara mereka yang masih ditahan oleh Jaysh al-Islam. Tetapi kemudian negosiasi yang dipimpin Rusia dengan kelompok itu runtuh, dengan nasib para tahanan Alawit yang masih belum terselesaikan. Dan Assad rupanya memutuskan bahwa sudah waktunya untuk tindakan ekstrem. Pada Jumat (6/4), rezim Suriah melanjutkan pengeboman besar-besaran terhadap Douma, dan mengeluarkan ultimatum kepada para pemberontak: Akan terjadi kematian dan kekacauan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, kecuali jika semua tahanan Alawit dipertanggungjawabkan atau dibebaskan. Kemudian terjadilah dugaan serangan senjata kimia pada Sabtu (7/4) di Douma, yang melibatkan kemungkinan campuran agen saraf dan klorin. Jaysh al-Islam segera kembali ke meja perundingan untuk membahas tentang menyerahnya Douma, dengan nasib para tahanan Alawit dan orang-orang yang hilang menjadi daftar pertama dalam agenda—sebuah perkembangan yang memberikan kepuasan sesaat kepada para keluarga tersebut.

Segera setelah itu, para ibu, istri, dan orang tua Alawit yang bersedih bergegas ke Damaskus dari kota-kota dan desa-desa mereka di Suriah barat, yang mengharapkan untuk dipersatukan kembali dengan orang-orang yang mereka cintai. Tapi harapan dapat dengan cepat memberi jalan untuk amarah dan rasa putus asa ketika, pada Senin (9/4) malam, hanya sekitar 200 tahanan Alawit yang muncul dari Douma. Emosi merebak ketika media resmi rezim Suriah mengumumkan bahwa 200 adalah jumlah tahanan terakhir yang keluar dari Douma. Angka 7.500 itu adalah “berita palsu” yang disebarkan dalam upaya untuk memeras uang dari para keluarga yang putus asa, kata mereka.

Dalam sebuah adegan yang langka dan luar biasa, ratusan masyarakat Alawit yang marah menggelar unjuk rasa dadakan di pusat kota Damaskus pada Senin (9/4), berbaris dari sebuah auditorium di sebelah Kedutaan Besar Rusia yang telah berubah menjadi tempat menunggu bagi para keluarga, menuju ke salah satu persimpangan lalu lintas tersibuk di ibu kota tersebut. Para pasukan keamanan rezim yang cemas segera menutup seluruh wilayah tersebut dan mengirim perwakilan media milik pemerintah untuk menenangkan orang-orang dan membiarkan mereka melampiaskan amarah mereka. Semua media lain disingkirkan, menurut satu reporter independen yang berbasis di Damaskus yang menyaksikan adegan itu memberi tahu saya.

“Saya membawakan anak saya celana ini agar dia bisa memakainya saat dia dibebaskan,” seorang wanita berkacamata hitam berteriak sambil melambaikan sepasang celana jins di depan kamera. Putranya, seorang prajurit yang telah hilang selama enam tahun, tidak muncul. “Saya dulu mempercayai Anda (media pemerintah), tetapi tidak lagi!” Jaafar Younis, koresponden televisi pemerintah dan sesama Alawit, mencoba menghiburnya. “Tolong tenang bibi, kita berurusan dengan kelompok bersenjata teroris”—merujuk pada Jaysh al-Islam—“yang tidak bisa dipercaya untuk menepati janji. Dan Anda semua melihat tekanan yang diberikan tentara Suriah ketika mereka mencoba mengingkari kesepakatan itu,” katanya. Koresponden lain—yang juga Alawit—mengakui bahwa masih ada ribuan orang Alawit yang diculik dan hilang di seluruh Suriah, tetapi mengatakan bahwa mereka tidak lagi berada di Ghouta. “Kami ingin daftar dengan nama-nama orang-orang yang diculik, hidup atau mati… Kami ingin suara kami didengar oleh Yang Mulia Presiden Bashar al-Assad, hanya dia,” kata satu orang bersikeras.

Menjelang senja pada Senin (9/4), para keluarga Alawit dibujuk untuk meninggalkan jalanan setelah membuat kemacetan menjadi kebuntuan. Mereka kembali ke auditorium, tetapi kemarahan mereka tidak surut. “Para perwira (rezim) adalah bajingan. Media juga bajingan dan mereka tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Kami ingin tahu nasib anak-anak kami! Berapa banyak yang Anda dapatkan dari menjual mereka? Berapa banyak yang Anda dapatkan untuk darah para martir ini? Berapa banyak?” seorang ibu menangis sambil menjerit.

Saya mendengar sentimen semacam itu dari Alawit berkali-kali, selama perjalanan dua minggu melalui pedesaan Hama dan provinsi-provinsi barat pesisir Latakia dan Tartous, pada musim panas 2014. Para ibu dan istri yang menangis mengatakan kepada saya bahwa mereka tahu orang-orang yang mereka cintai ditahan oleh para pemberontak di Douma, dan ingin agar Assad berbuat lebih banyak untuk mengeluarkan mereka. Bagi mereka, Assad tampak terlalu santai dan sibuk dengan citranya sebagai presiden untuk semua warga Suriah dan bukan sebagai pemimpin Alawit. Mohammad Jaber—seorang pemimpin milisi yang dekat dengan saudara laki-laki Assad yang tidak berbudaya dan kejam, Maher—mengatakan kepada saya pada awal tahun 2013, bahwa Assad tidak setegas seperti mendiang ayahnya, yang memerintah Suriah selama tiga dekade dan menghadapi pemberontakan serupa pada tahun 1980-an. Bashar, kata Jaber, harus “memusnahkan” para pemberontak dan keluarga mereka—terutama yang ada di sekitar Damaskus, di tempat-tempat seperti Ghouta Timur. Ini terjadi beberapa bulan sebelum serangan senjata kimia besar pertama di Ghouta pada musim panas 2013, yang menewaskan hampir 1.400 orang, dan yang Amerika Serikat dan para sekutunya salahkan pada rezim Suriah.

Meskipun Assad telah merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat lepas dari pasukan rezim dan direbut oleh para pemberontak, namun perang hampir tidak berakhir. Seiring waktu, perang tersebut telah memberdayakan banyak pemimpin milisi Alawit dan panglima perang yang menuntut ketangguhan lebih dari Assad. Setidaknya untuk saat ini, Assad membutuhkan orang-orang ini, dan tahu bahwa setiap keretakan besar dalam komunitas Alawitnya, bisa membuatnya kehilangan kekuasaan di bagian-bagian negara yang ia kendalikan, bahkan dengan dukungan penuh dari Iran dan Rusia.

Namun, Assad terobsesi untuk menggambarkan dirinya sebagai pemimpin non-sektarian bagi semua warga Suriah yang melihat gambaran besar dan dampak yang lebih luas dari perang. “Pertempuran ini lebih besar dari Suriah, Anda sekarang berperang di dunia, perjuangan global, di mana setiap peluru yang Anda tembakkan pada teroris, maka Anda mengubah keseimbangan kekuatan dunia, dan setiap pengemudi tank-tank yang maju sebanyak satu meter maka itu mengubah peta geopolitik dunia,” Assad yang tercukur bersih dan mengenakan celana panjang ketat dan blazer mengatakan kepada para tentara dan milisi selama kunjungan ke garis depan Ghouta Timur pada bulan lalu, untuk memamerkan kemenangan.

Tetapi apa arti keseimbangan kekuatan dan peta geopolitik bagi keluarga Alawit yang mengorbankan anak-anak mereka demi mempertahankan Assad tetap berkuasa? Sungguh ironis bahwa setelah perang tujuh tahun yang menewaskan lebih dari setengah juta orang, menelantarkan jutaan orang, dan melihat naik dan turunnya ISIS, serta keterlibatan kekuatan asing dan regional, ancaman terbesar terhadap kekuasaan Assad masih bisa berasal dari komunitas Alawit sendiri.

Keterangan foto utama: Warga Suriah yang tinggal di Yordania menginjak foto Presiden Suriah Bashar al-Assad dan almarhum ayahnya, Hafez al-Assad, saat unjuk rasa di Amman, pada tanggal 15 Maret 2013. (Foto: Reuters/Muhammad Hamed)

Kelompok Syiah Alawiyyah di Suriah: Keluarga yang Setia, Lalu Berbalik Menyerang Assad

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top