isis
Timur Tengah

Keluarga Dibantai ISIS, Pemuda Sweida Suriah Angkat Senjata untuk Membela Desa

Berita Internasional >> Keluarga Dibantai ISIS, Pemuda Sweida Suriah Angkat Senjata untuk Membela Desa

Tanggal 30 Juni 2018 lalu, militan ISIS menyerang desa-desa di provinsi Sweida, menewaskan lebih dari 200 orang dan menculik 30 sandera, semuanya wanita dan anak-anak. Kini para pemuda dari desa-desa tersebut mengangkat senjata, mereka bersiap mempertahankan rumah mereka seandainya ISIS kembali menyerang. Serangan tersebut adalah serangan tunggal terbesar yang terjadi dalam Perang Suriah yang telah berlangsung selama tujuh tahun. 

Baca Juga: Analisis: Perjuangan untuk Rebut Wilayah Terakhir ISIS Dimulai

Oleh: Zeina Karam (Associated Press)

Mata Maysoun Saab dipenuhi air mata ketika dia ingat saat menemukan orang tuanya berdarah-darah hingga meninggal dunia di tanah di luar rumah mereka, beberapa menit setelah mereka ditembak oleh militan ISIS pada pembantaian besar-besaran di satu desa yang tenang yang ISIS infiltrasi di sudut tenggara Suriah.

Dalam waktu satu jam, Saab kehilangan ibu, ayah, saudara laki-lakinya, dan 34 anggota lain dari keluarga besarnya. Secara keseluruhan, lebih dari 200 orang tewas dan 30 sandera diculik dalam serangan terkoordinasi tanggal 25 Juli 2018 di provinsi Sweida.

Itu adalah salah satu pembantaian tunggal terbesar dari perang saudara Suriah dan pertumpahan darah terburuk yang melanda provinsi itu sejak konflik dimulai pada tahun 2011, menggarisbawahi ancaman keras yang ditimbulkan oleh kelompok ISIS, yang telah banyak ditaklukkan tetapi mempertahankan kantong wilayah di Suriah selatan dan timur.

Lebih dari dua bulan setelah serangan itu, ketegangan atas para sandera yang hilang, semuanya wanita dan anak-anak, terus merebak di Sweida, daerah pegunungan yang merupakan pusat bagi kelompok minoritas agama Druze. Kemarahan terus memuncak, dan para pria muda memutuskan untuk mengangkat senjata.

Pekan ini, militan menembak mati salah satu wanita, Tharwat Abu Ammar, 25 tahun, memicu orang-orang duduk di luar kantor Gubernur Sweida sebagai aksi protes oleh kerabat yang marah atas kurangnya kemajuan dalam negosiasi untuk membebaskan mereka.

Ini adalah perubahan besar untuk provinsi yang biasanya damai, yang telah berhasil bertahan di sela-sela perang Suriah selama tujuh tahun, dan di mana sebagian besar penduduk desa bekerja menggembalakan ternak di bukit-bukit di sekitarnya.

“Kami masih belum benar-benar memahami apa yang terjadi pada kami. Ini seperti mimpi buruk yang Anda tidak bisa bangun,” kata Saab, seorang wanita ramping dengan kepangan rambut panjang yang terlihat di balik selendang putih yang menutupi kepalanya.

Selama kunjungan langka ke desa Sweida oleh tim Associated Press, pemuda dan remaja bersenjata, beberapa berusia 14 tahun, berpatroli di jalan-jalan. Beberapa dari mereka mengenakan seragam militer, yang lain memakai celana baggy hitam tradisional dan topi putih khas yang dikenakan oleh penduduk desa Druze. Mereka mengatakan tentara Suriah memberi mereka senjata, membentuk patroli sipil untuk mempertahankan kota dan desa mereka.

Baca Juga: Senjata Baru Rusia Buat Israel Waspada, Berpotensi Picu Krisis Suriah Lainnya

Para warga mengenang suatu hari di musim panas tersebut sebagai teror murni yang dimulai dengan tembakan dan teriakan “Allahu Akbar!” yang terdengar pada pukul 4 pagi. Para militan yang telah menyelinap ke desa-desa di bawah kegelapan mengetuk pintu, kadang-kadang memanggil nama warga untuk mengelabui mereka agar membuka pintu.

Mereka yang membuka pintu kemudian segera ditembak mati. Orang-orang lainnya ditembak di tempat tidur mereka. Perempuan dan anak-anak diseret sambil menjerit-jerit dari rumah mereka.

Berita tentang serangan itu menyebar di desa-desa Shbiki, Shreihi, dan Rami ketika para tetangga saling menelepon untuk memperingatkan tentang serangan para militan. Serangkaian pengeboman bunuh diri terjadi secara bersamaan di ibu kota provinsi terdekat, Sweida.

Di Shreihi, sebuah desa pertanian kecil di rumah semen, Maysoun dan suaminya tertidur di satu kamar, sedangkan anak-anak mereka Bayar, 16 tahun, dan Habib, 13 tahun, berada di kamar yang lain ketika dia mendengar rentetan tembakan pertama.

Dari jendelanya, ia melihat siluet tetangganya, Lotfi Saab dan istrinya di rumah mereka. Lalu dia melihat orang-orang bersenjata mendorong pintu, menunjuk senapan ke arah mereka dan menembak. Maysoon menjerit, suaranya bergema melalui jendela yang terbuka. Para militan melemparkan granat ke arahnya.

Suaminya memanjat ke atap rumah mereka dan mengarahkan senapan berburu kepada para pria, sementara dia berbaris di bawah dengan anak-anak. Setidaknya dua dari para pria meledakkan diri di dekatnya.

Saat fajar, Maysoun mendengar tetangga lain berteriak, “Abu Khaled telah ditembak!” merujuk kepada ayah Maysoun. Mengabaikan perintah suaminya untuk tinggal di dalam rumah, Maysoun berlari melewati jalan berbatu menuju rumah orang tuanya, dan melihat tubuh ayahnya yang berlumuran darah di tanah dekat teras depan. Dia berteriak memanggil ibunya dan menemukan dia tergeletak di dekatnya, ditembak di kakinya, darah di mana-mana.

“Tidak ada tragedi yang lebih besar daripada melihat orang tuamu seperti ini, tergeletak di tanah di depan matamu. Kami bersama-sama pada malam sebelumnya, begadang bersama dan mengobrol. Mereka telah merenggutnya dari kami,” katanya, sambil menahan air mata.

Sementara itu, saudara laki-laki Maysoun, Khaled, terperangkap bersama istri dan putrinya di rumah mereka, dengan ketakutan menyaksikan para pejuang ISIS dari jendela tertutup mereka. Saudaranya yang lain, yang bergegas membantu mereka, dibunuh di luar rumah Khaled.

Kurang dari satu jam kemudian, Maysoun menelepon untuk memberi tahu Khaled bahwa kedua orang tua mereka telah meninggal.

Ketika dia dapat meninggalkan rumahnya, Khaled mengatakan dia dan tetangga lainnya bertempur dan membunuh sebanyak mungkin militan ISIS yang mereka bisa. Dia menderita dua luka tembak di pahanya. Tetapi tidak ada waktu untuk berduka.

“Kami tidak memiliki kesempatan untuk menangis atau merasakan apapun, bahkan jika ayah, ibu, tetangga, teman, semua orang telah meninggal. Tetapi pada saat itu tidak ada waktu untuk menangis bagi siapapun,” kata sopir truk berusia 42 tahun tersebut.

Penduduk mengatakan orang-orang desa bertempur dengan senjata apapun yang mereka bisa pegang di tangan mereka, senapan berburu, pistol, bahkan tongkat, melawan senjata ISIS yang jauh lebih unggul.

Kelompok ISIS, yang pernah memegang sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak, sebagian besar telah dikalahkan. Ibukota de facto Raqqa, di Suriah timur, ditaklukkan setahun yang lalu di bulan ini. Tetapi kelompok itu bertempur di kantong-kantong timur seperti Deir el-Zour dan provinsi Sweida.

Baca Juga: ISIS Telah Dikalahkan: Apa Artinya?

Beberapa orang di sini khawatir bahwa ketika para militan melarikan diri dari pasukan pemerintah Suriah yang merangsek maju, mereka akan mencoba untuk berkumpul kembali di kantong-kantong wilayah terpencil seperti sudut Suriah yang sepi sekali tersebut. Mereka takut serangan lain atau lebih banyak masalah karena ketegangan yang terus menggelegak di tengah sekumpulan orang yang masih disandera.

Pada hari Selasa (6/10), sebuah video yang dipasang di internet dimaksudkan untuk menunjukkan militan ISIS menembak Abu Ammar di belakang kepalanya saat mereka mengancam akan membunuh lebih banyak sandera jika pemerintah Suriah dan sekutu Rusianya tidak memenuhi tuntutan mereka, yang termasuk membebaskan pejuang ISIS dan anggota keluarga mereka di tempat lain di Suriah.

Di desa Rami, di mana 20 warga sipil dari keluarga Maqlad terbunuh dalam serangan bulan Juli 2018, Nathem Maqlad menunjuk ke lubang peluru dan noda darah di tanah, bekas pertempuran dengan ISIS.

“Saya siap siaga untuk mempertahankan tanah dan martabat kami lagi jika saya harus,” katanya, berjalan dengan sekelompok pria muda dengan senapan bersandar di atas bahu mereka.

Keterangan foto utama: Pemuda-pemuda Druze, membawa senjata untuk mempertahankan desa mereka dari serangan ISIS. Mereka berpatroli di desa Rami, di selatan provinsi Swedia, Suriah. Tiga bulan setelah serangan ISIS yang mengejutkan, yang membunuh lebih dari 200 orang dan menculi 30 wanita dan anak-anak, membuat tensi mendidih, dan pemuda-pemuda mengambil senjata. Kondisi ini kontras dengan keadaan sebelumnya, saat Sweida berhasil bertahan di tepi Perang Suriah yang telah berlangsung selama tujuh tahun. (Foto: Ap/Hassan Ammar)

Keluarga Dibantai ISIS, Pemuda Sweida Suriah Angkat Senjata untuk Membela Desa

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top