Keluhan Amerika terhadap China Buat Kesepakatan Semakin Sulit Dibayangkan
Amerika

Keluhan Amerika terhadap China Buat Kesepakatan Semakin Sulit Dibayangkan

Home » Featured » Amerika » Keluhan Amerika terhadap China Buat Kesepakatan Semakin Sulit Dibayangkan

Keluhan Amerika terhadap China, membuatnya semakin sulit kesepakatan untuk dibayangkan. Inti dari perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan China adalah kebijakan industri China. Amerika mencurigai pemerintah China menarik perusahaan Amerika dengan janji pasar konsumen yang luas, hanya untuk menjadikan mereka korban pencurian kekayaan intelektual, dengan memaksa mereka menjadi perusahaan gabungan. China memata-matai rencana untuk melemahkan dan akhirnya melampaui industri Amerika.

    Baca juga: Xi Jinping vs Donald Trump: Siapa yang Lebih Hebat Tangani Perang Dagang?

Oleh: The Economist

Setelah berminggu-minggu waktu dihabiskan untuk keluhan Amerika dengan memberikan ancaman tarif pada impor China yang semakin besar, Presiden Donald Trump tampaknya berada dalam suasana hati yang lebih damai. Pada tanggal 10 April, sebuah pidato oleh presiden China Xi Jinping, mendorongnya untuk menulis tweet prediksi: “Kami akan membuat kemajuan besar bersama!”

Banyak selain Trump yang memiliki harapan itu. Jika China menawarkan kepadanya kesepakatan yang bersedia dia tanda tangani, perang dagang mungkin masih bisa dihindarkan. Atau akal sehat mungkin akan menang, seperti yang terjadi pada bulan lalu, ketika sekutu Amerika Serikat seperti Kanada dan Meksiko dibebaskan dari tarif pada baja dan aluminium. Namun, optimisme seperti itu menjadi naif. Para penyerang China di pemerintahan Amerika telah lama merindukan aspek hubungan dengan China yang tanpa cuitan Twitter Trump. Masalah-masalah itu mendahului masa kepresidenan Trump. Dan masalah-masalah itu tidak terlihat mudah untuk diselesaikan.

Sistem perdagangan internasional berbasis aturan, berfungsi paling baik untuk masalah yang jelas, dan mudah untuk menilai keberhasilan atau kegagalan suatu upaya hukum. Tarif, dan undang-undang yang mendiskriminasi perusahaan asing, adalah contoh klasik dari keluhan Amerika. Beberapa keluhan Amerika dibawah kepemimpinan pemerintah Trump terhadap China—yang diterbitkan dalam sebuah laporan dengan 182 halaman pada tanggal 22 Maret—termasuk dalam kategori ini. (Laporan ini adalah hasil dari investigasi terhadap praktik perdagangan China di bawah Bagian 301 dari Undang-Undang Perdagangan 1974, yang memberikan hak untuk mengancam tarif jika terdapat praktik yang tidak adil yang terungkap.)

Misalnya, keluhan Amerika ditunjukkan dengan Trump yang mengklaim bahwa undang-undang China mendiskriminasikan perusahaan-perusahaan Amerika dengan merusak kebebasan kontrak mereka dalam beberapa cara. Perusahaan-perusahaan China dapat bernegosiasi dengan satu sama lain mengenai syarat-syarat perjanjian lisensi teknologi, tetapi para pemegang lisensi asing harus menanggung semua risiko bahwa orang lain bisa menuntut atas pelanggaran kekayaan intelektual. Usaha gabungan harus memberikan hak kepada mitra China untuk menggunakan teknologi mitra asing bahkan setelah perjanjian mereka berakhir. Keluhan seperti ini akan dipertimbangkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan dinilai berdasarkan komitmen yang dibuat China ketika bergabung pada tahun 2001.

Tetapi menyelesaikan keluhan lain Amerika akan lebih sulit—baik di WTO maupun sebagai bagian dari kesepakatan bilateral. Beberapa keluhan tidak ada dalam undang-undang tertulis China, tetapi dengan aturan tidak tertulis dan prosedur tidak resmi. Setelah bergabung dengan WTO (dan delapan kali sejak tahun 2010), pemerintah China berjanji tidak akan menjadikan teknologi sebagai syarat menuju akses pasar. Tetapi Amerika mengatakan bahwa para pejabat China terus menekan perusahaan-perusahaan untuk melakukannya.

Klaim semacam itu sulit dibuktikan—terlebih lagi, karena tidak terlihatnya proses pengaturan China. Dan pengalaman menunjukkan bahwa kesepakatan apa pun akan sulit untuk ditegakkan. Pihak berwenang China dapat mengatakan bahwa kontrak yang melibatkan transfer teknologi ditandatangani secara sukarela. Mereka dapat membuat hidup sulit bagi perusahaan asing yang berani mengatakan sebaliknya. Robert Atkinson dari Information Technology and Innovation Foundation—sebuah wadah pemikir Amerika—menuduh China melakukan serangan jebakan, yang membuat pemerintah Amerika mengeluh, walau akhirnya sia-sia. Atkinson berpikir bahwa Amerika harus menyerah pada aturan dan fokus pada hasil, misalnya dengan mengatur perusahaan-perusahaan Amerika untuk menginformasikan “catatan yang tidak tercatat” terkait pelanggaran China. Tetapi pengaturan yang fleksibel dan tidak jelas seperti itu akan ditentang keras oleh China.

Pesan Jelas dari Trump: Era Pencurian Hak Intelektual oleh China Telah Usai

Donald Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping ketika Trump dan Ibu Negara Melania Trump tiba untuk makan malam kenegaraan di Aula Besar Rakyat di Beijing, pada tanggal 9 November 2017. (Foto: AFP/Getty Images)

Setengah dari laporan Bagian 301, menyangkut investasi China di Amerika. Amerika mengangkat masalah dengan akuisisi perusahaan China terhadap perusahaan Amerika, seperti Lexmark—sebuah perusahaan percetakan—pada tahun 2016, dan Mattson Technology, yang memproduksi peralatan untuk membuat semikonduktor, pada tahun 2015. Dalam kedua kasus tersebut, harga pembelian jauh di atas nilai pasar. China berpendapat bahwa ini adalah transaksi yang adil di pasar bebas; Amerika menduga bahwa kedua kasus tersebut diarahkan dan didukung oleh pemerintah China dalam upaya untuk mendominasi sektor-sektor strategis. Kesepakatan bersama untuk mengekang pembelian semacam itu harus menguraikan peran yang sah bagi negara. Tetapi model kapitalisme terarah negara tersebut membuat sulit untuk membedakan antara urusan publik dan pribadi.

Inti dari perselisihan ini adalah kebijakan industri China. Amerika mencurigai pemerintah China menarik perusahaan Amerika dengan janji pasar konsumen yang luas, hanya untuk menggunakan tekanan regulasi untuk menyingkirkan perusahaan Amerika dari kekuatan tawar-menawar mereka, dan menjadikan mereka korban pencurian kekayaan intelektual, dengan memaksa mereka menjadi perusahaan gabungan. China memata-matai rencana untuk melemahkan dan akhirnya melampaui industri Amerika.

    Baca juga: Latihan Militer Besar-besaran China: Bentuk Dukungan untuk Rusia di Suriah?

Inti dari perselisihan ini adalah kebijakan industri China. Amerika mencurigai pemerintah China menarik perusahaan mereka dengan janji pasar konsumen yang luas, hanya untuk menggunakan tekanan peraturan untuk menghapus mereka dari kekuatan tawar-menawar mereka dan mengekspos mereka ke pencurian kekayaan intelektual dengan memaksa mereka menjadi perusahaan patungan. Mereka memata-matai rencana untuk melemahkan dan akhirnya melampaui industri Amerika.

Laporan Bagian 301 memaparkan kisah SolarWorld, pembuat panel surya yang mengklaim bahwa rahasia dagangnya dicuri. Akibatnya adalah pesaing China yang murah membanjiri pasar, menghabiskan lebih dari $120 juta dalam penjualan dan pendapatan. Amerika khawatir bahwa jika pemerintah China tidak mengubah arahnya, industri Amerika lainnya juga akan kalah dari China.

Tapi apa yang dilihat tidak adil oleh Amerika, dilihat oleh China sebagai jalan menuju pembangunan. Dari sudut pandang mereka, menarik perusahaan-perusahaan Amerika adalah suara kesuksesan. Sebuah studi yang menganalisis usaha gabungan di China pada tahun 1998-2007, menemukan bahwa China meningkatkan mitra-mitra China dan industri di mana perusahaan tersebut aktif. Usaha-usaha dengan perusahaan-perusahaan Amerika lebih berbuah hasil daripada perusahaan-perusahaan dari Hong Kong atau Jepang.

Dalam pidatonya minggu ini, Xi mengulang kembali janji lamanya untuk memotong tarif dan melonggarkan pembatasan investasi di beberapa sektor. Visi Amerika adalah perubahan yang lebih luas. Menurut Bloomberg—sebuah layanan berita—perundingan bilateral rahasia gagal, setelah pihak Amerika menuntut diakhirinya subsidi China terhadap industri teknologi tinggi. Sulit membayangkan kesepakatan yang menyatukan perbedaan mendasar ini. Itu menyisakan pilihan—antara perjanjian yang dangkal dan rapuh, atau konflik.

Artikel ini muncul di bagian Keuangan dan Ekonomi edisi cetak dengan judul “Menggambar garis pertempuran”.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. (Foto: AFP/Getty Images/Jim Watson)

Keluhan Amerika terhadap China Buat Kesepakatan Semakin Sulit Dibayangkan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top