Wajib Militer
Asia

Kematian Aktor Singapura Soroti Risiko Wajib Militer

Berita Internasional >> Kematian Aktor Singapura Soroti Risiko Wajib Militer

Kematian seorang aktor kembali menyoroti wajib militer yang diberlakukan di Singapura. Kematian Aloysius Pang, 28 tahun, adalah kematian akibat wajib militer ke-empat sejak akhir 2017. Komite independen dibentuk oleh militer Singapura untuk menyelidiki kematian Pang.

Baca juga: Latihan Angkatan Udara Sorot Hubungan Pertahanan Indonesia-Singapura

Oleh: Annabelle Liang (TIME)

Pada hari Minggu (27/1), sebuah upacara pemakaman diadakan untuk seorang aktor dan tentara Singapura yang meninggal karena kecelakaan saat latihan militer, sebuah kasus yang telah memperbaharui pengawasan terhadap sistem wajib militer Singapura.

Serdadu Aloysius Pang, 28 tahun, ikut serta dalam pelatihan militer di Selandia Baru akhir pekan lalu ketika ia terjepit ketika sedang memperbaiki kendaraan artileri. Dia meninggal pada Kamis (24/1) setelah beberapa operasi.

Dengan populasi hanya 5,6 juta orang, Singapura melihat wajib militer sebagai elemen kunci dari strategi keamanan nasionalnya. Ini mengharuskan sebagian besar pria dari usia 18 tahun untuk mengikuti wajib militer penuh waktu di angkatan bersenjata, pasukan polisi, atau pasukan pertahanan sipil selama dua tahun dan setelah itu mengikuti dalam pelatihan wajib selama 10 tahun lagi.

Mereka yang menghindari wajib militer akan ditangkap dan dipenjara.

Pang adalah peserta wajib militer keempat yang meninggal karena pelatihan sejak akhir tahun 2017, yang mengarah pada tuntutan untuk penyediaan perlindungan yang lebih aman bagi tentara dan akuntabilitas yang lebih besar dari pihak militer.

Christina Goh sedang mengantri untuk memberi penghormatannya pada hari Sabtu (26/1) di sebuah upacara pemakaman yang dihadiri oleh anggota keluarga Pang, politisi, dan puluhan selebriti sebelum dibuka untuk ribuan anggota masyarakat.

Dia mengatakan, kasus Pang membuat dia khawatir tentang putranya yang berusia 21 tahun, yang telah selesai menjalani wajib militer penuh waktu tetapi masih akan dipanggil untuk menjadi serdadu.

“Beberapa tentara telah menghadapi masalah ini. Mereka akan mengatakan kami akan berhati-hati, kami akan mengambil tindakan,” katanya tentang militer. “Sudah terlambat.”

Sebuah upacara pemakaman untuk Pang disiarkan secara online pada hari Minggu (27/1), yang ditonton ratusan ribu pemirsa, dan pemakaman militer serta kremasi akan dilangsungkan pada hari berikutnya.

Pang telah menyelesaikan wajib militer penuh waktunya dan merupakan teknisi persenjataan yang pangkatnya adalah kelas satu kopral. Dia dikenal publik karena perannya dalam drama televisi berbahasa Mandarin dan dia telah memenangkan beberapa penghargaan lokal.

Kematian Pang membawa kembali kenangan menyakitkan yang menimpa Jasmine Yeo, yang putranya yang berusia 19 tahun, Dave Lee, meninggal setelah pingsan karena kepanasan selama pawai April lalu.

“Satu demi satu, ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak ingin saya lihat. Beristirahatlah dengan tenang, putra Singapura!” tulisnya di Facebook.

Sebuah komite independen yang dibentuk oleh militer mengungkapkan bahwa mereka yang mengawasi Lee tidak berupaya lebih banyak untuk mendinginkannya. Mereka juga lambat mengirimnya ke pusat medis kamp.

Ia juga menemukan peleton Lee tidak mendapat tujuh jam waktu istirahat standar pada malam sebelumnya, karena ia menerima hukuman yang tidak sah dari atasan, yang meliputi merangkak, push-up, dan sprint.

Kapten Lee telah didakwa karena menyebabkan kematian dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Jika terbukti bersalah, ia akan menghadapi hukuman maksimum lima tahun penjara dan denda. Sidang berikutnya akan dilangsungkan pada bulan Februari. Enam prajurit lainnya juga menghadapi penyelidikan militer.

Yeo mengatakan dia masih belum bisa merelakan kepergian putranya.

“Saya tidak yakin ada orang tua yang bisa benar-benar rela kehilangan seorang putra,” katanya kepada The Associated Press.

Pada bulan September 2017, seorang peserta wajib militer penuh waktu meninggal setelah kecelakaan kendaraan di area pelatihan di Australia. Penyelidikan mengungkapkan adanya penyimpangan keamanan tetapi tidak ada kelalaian atau kesalahan. Kematian peserta wajib militer penuh waktu lain dalam kecelakaan kendaraan selama pelatihan November lalu masih diselidiki penyebabnya.

Kementerian Pertahanan Singapura mengadakan konferensi pers mengenai kematian yang terjadi baru-baru ini pada hari Kamis (24/1).

Dalam briefing itu, kepala pasukan pertahanan Melvyn Ong mengatakan bahwa angkatan bersenjata memiliki “sistem yang baik” dan telah sepenuhnya menerapkan rekomendasi untuk meningkatkan keselamatan “baik itu di bidang cedera panas atau di bidang keselamatan kendaraan.”

“Saya pikir kami tidak menghindari hal ini dan kami selalu ingin menjadi lebih baik,” katanya, seraya menambahkan bahwa segalanya telah membaik dari “beberapa insiden terakhir.”

Baca juga: Malaysia Kirimkan Nota Protes Sengketa Udara dan Maritim ke Singapura

Menteri Pertahanan Ng Eng Hen mengatakan bahwa militer “sepenuhnya membantu” keluarga Pang.

“Tetapi saya tahu bahwa tidak ada kata-kata atau perbuatan yang dapat meringankan kesedihan mereka atau menggantikan kehilangan mereka. Saya berharap dan berdoa agar waktu akan menyembuhkan luka kesedihan mereka,” tambahnya, dalam sebuah unggahan di Facebook.

Komite independen dibentuk oleh militer untuk menyelidiki kematian Pang. Militer juga akan mengurangi panjang, intensitas, dan frekuensi program pelatihannya di minggu-minggu mendatang.

Ketika dia terjepit, Pang bekerja dengan dua orang lainnya di Singapore Self-Propelled Howitzer, sebuah artileri bermotor yang terlihat mirip seperti tank kecil. Temuan awal menunjukkan bahwa laras senapan Howitzer secara otomatis diturunkan untuk membiarkan mereka mendiagnosis kesalahan. Proses ini memakan waktu kurang dari 10 detik.

“Tampaknya dari temuan awal bahwa Aloysius tidak dapat keluar saat laras senapan diturunkan sebagai bagian dari tugas ini,” kata Kepala Angkatan Darat Goh Si Hou kepada wartawan, Kamis (24/1).

 

Keterangan foto utama: Orang-orang yang direkrut dari National Service mendemonstrasikan gerakan tempur tanpa senjata sebagai bagian dari pelatihan dasar dua bulan mereka di Pulau Tekong, Singapura pada 7 Februari 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Toh Ting Wei)

Kematian Aktor Singapura Soroti Risiko Wajib Militer

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top