Kematian Saleh Membunuh Harapan Akan 'Keajaiban' di Yaman
Timur Tengah

Kematian Ali Abdullah Saleh Membunuh Harapan Akan ‘Keajaiban’ di Yaman

Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh memberikan pidato di hadapan para pendukungnya dalam sebuah demonstrasi saat partai politiknya, Kongres Rakyat Umum, menandai 35 tahun Yaman sejak didirikan, di Sabaeen Square di ibukota Sanaa pada 24 Agustus. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)

Terbunuhnya mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh telah mematikan harapan rakyat Yaman yang menginginkan penderitaan karena perang dan blokade segera berakhir. Saleh yang melakukan negosiasi dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi adalah sosok yang tak tergantikan, dan merupakan harapan yang dinilai mampu membuat terobosan.

Oleh: Agence France-Presse/Daily Mail

Anggota militer Arab Saudi.

Anggota militer Arab Saudi. (Foto: AFP)

Pembunuhan mantan pemimpin Yaman Ali Abdullah Saleh, beberapa hari setelah ia mengajukan tawaran kepada koalisi yang dipimpin Arab Saudi, telah mengubur harapan akan sebuah terobosan dalam perang Yaman, kata para analis, dan risiko untuk memicu perselisihan antara Riyadh dan Teheran.

“Masa depan politik Yaman saat ini telah berubah total—Saleh adalah sebuah pondasi, dan sekarang dia pergi,” kata Maged Almadhaji, direktur Pusat Kajian Strategis Sanaa di Kairo, kepada AFP.

Pada hari Sabtu (2/12), orang kuat Yaman tersebut mematahkan tiga tahun persekutuan yang tidak nyaman dengan pemberontak Houthi yang didukung Iran, menawarkan untuk “memulai lembaran baru” dengan musuhnya, Arab Saudi, sebagai imbalan atas pencabutan blokade yang melumpuhkan dan sebuah gencatan senjata.

Dengan konflik Yaman yang terkunci dalam kebuntuan, tindakan tersebut disambut baik oleh Riyadh dan sekutu-sekutunya dan memicu harapan akan adanya perubahan besar dalam sebuah perang yang telah menewaskan lebih dari 8.750 orang sejak tahun 2015 itu.

Pertempuran pecah antara pasukan Houthi dan pasukan pendukung Saleh di jalan-jalan di ibukota Sana’a yang telah mereka kendalikan sejak tahun 2014, sementara presiden Yaman yang diasingkan tersebut—yang telah lama dikesampingkan sejak pecah perang—tampaknya akan mengerahkan pasukannya yang didukung Saudi di sebelah timur kota.

“Saleh membawa harapan besar untuk mengakhiri pemerintahan Houthi,” kata Almadhaji. “Bukannya orang mencintainya, ini adalah kesempatan untuk menghancurkan sebuah peraturan milisi yang menakutkan.”

Tapi itu tiba-tiba berakhir pada hari Senin (4/12) ketika Saleh ditembak mati oleh orang-orang Houthi dan sebuah video mengerikan yang menampilkan mayatnya yang berdarah.

“Orang-orang marah, karena ini adalah kesempatan penting dan hilang,” kata Almadhaji.

Kendaraan rusak setelah bentrokan terjadi antara Houthi dan mantan pendukung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh di Sanaa, Yaman pada tanggal 5 Desember 2017

Kendaraan rusak setelah bentrokan terjadi antara Houthi dan mantan pendukung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh di Sana’a, Yaman pada tanggal 5 Desember 2017. (Foto: Anadolu Agency/Mohammed Hamoud)

Tak ada yang menggantikan Saleh

Sebelum dia terbunuh, Saleh dianggap sebagai penyintas Yaman yang hebat.

Sebagai presiden ia mendominasi selama lebih dari tiga dekade dan, bahkan setelah massa melakukan protes yang mendorong pengunduran dirinya pada tahun 2012, ia tetap menjadi pemain kunci dalam kekacauan yang terjadi setelah pengunduran dirinya, dan bersekutu dengan Houthi yang pernah menjadi musuhnya.

Upaya untuk memancing sikap lunak Saudi, yang koalisi militernya telah memeranginya sejak tahun 2015, merupakan perubahan signifikan yang menakjubkan, dan Riyadh akan kesulitan untuk menemukan pembuat kesepakatan lainnya.

“Tidak ada tokoh politik Yaman yang sebanding dengan Saleh dalam hal pengaruh,” kata perwakilan Soufan Center yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dalam sebuah briefing.

“Hasil jangka pendek dari kematian Saleh mungkin berupa pertempuran dan perlawanan yang makin intens oleh pasukan lokal, yang pada gilirannya dapat mengintensifkan intervensi asing di kedua belah pihak, karena koalisi Saudi dan Iran akan terus melindungi dan mendukung kuasanya.”

Dalam pernyataannya yang pertama setelah kematian Saleh, Riyadh menyerukan agar Yaman bebas dari “milisi yang didukung oleh Iran,” sementara saingan regional Teheran dengan tegas bersikeras bahwa orang yang berkuasa terbunuh karena mencoba melakukan sebuah kudeta.

Di dalam koalisi tersebut, sekutu Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tampaknya berselisih mengenai dengan siapa mereka harus bekerja sama sekarang, dan para komentator mengatakan bahwa Riyadh lebih memilih partai Islam Al-Islah sementara UEA lebih menyukai putra Saleh.

Analis Randa Slim dari Middle East Institute di Washington meramalkan kematian Saleh akan mengurangi kemungkinan terjadinya dorongan untuk mengakhiri perang yang telah menyebabkan bencana kemanusiaan.

“Setiap orang, lokal dan regional, akan menginginkan agar siklus militer ini berjalan sendiri beberapa lama sebelum mereka siap untuk duduk di meja perundingan,” kata Slim kepada AFP.

Suku-suku di Yaman yang ‘mengamati dari jauh’ menunggu untuk melihat apakah penerus Saleh berhasil akan memberikan kesetiaan kepada Houthi, katanya.

“Satu hal yang pasti adalah bahwa Yaman mengarah kepada lebih banyak konflik.”

Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh memberikan pidato di hadapan para pendukungnya dalam sebuah demonstrasi saat partai politiknya, Kongres Rakyat Umum, menandai 35 tahun Yaman sejak didirikan, di Sabaeen Square di ibukota Sanaa pada 24 Agustus.

Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menyampaikan pidato di hadapan para pendukungnya dalam sebuah demonstrasi saat partai politiknya, Kongres Rakyat Umum, memperingati hari jadinya yang ke-35 tahun, di Sabaeen Square di ibukota Sanaa pada 24 Agustus. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)

‘Akhiri penderitaan mereka’

Gelombang kekerasan terakhir di Sana’a terjadi di balik situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di Yaman, di mana blokade yang dipimpin oleh Saudi telah memicu ketakutan akan kelaparan yang menghancurkan.

Sebagai pertanda meningkatnya kekhawatiran akan kejatuhan baru, Dewan Keamanan PBB meminta semua pihak untuk mendinginkan kepala dan beralih ke meja perundingan, ketika sebuah pertemuan tertutup dilakukan setelah pembunuhan Saleh.

Badan dunia itu pada hari Selasa (5/12) menuntut jeda dalam upaya mengirimkan bantuan kepada warga sipil yang terjebak di ibu kota setelah lima hari pertumpahan darah yang menewaskan lebih dari 230 orang.

“Anda telah membuat anak-anak ketakutan dan ibu hamil terjebak,” Koordinator Kemanusiaan Jamie McGoldrick mengatakan kepada AFP melalui telepon dari Sana’a.

“Dalam beberapa hari mendatang akan terjadi lebih banyak serangan udara dan lebih banyak pertempuran darat,” dia memperingatkan.

Analis Almadhaji mengatakan kematian Saleh telah membuat pihak-pihak yang bertikai terguncang‰dan perdamaian menjadi prospek yang sulit dicapai.

Bagi Arab Saudi, bernegosiasi dengan pemberontak yang didukung Iran adalah sebuah kerugian, katanya, sementara Houthi dilemahkan oleh kehilangan pasangan kunci mereka, yang membantu menangkis tuduhan kesetiaan kepada Teheran.

Pada sebuah demonstrasi di hari Selasa di Sana’a, para pemberontak berusaha memproyeksikan citra persatuan dan mengatakan bahwa mereka akan memastikan keamanan anggota partai Saleh.

Bencana Kemanusiaan Terbesar di Yaman: Arab Saudi dan Amerika Bertanggung Jawab?

Seorang ayah menggendong putrinya, yang menderita kekurangan gizi, berada di pusat logistik di Yaman, di mana blokade yang dipimpin oleh Arab Saudi telah menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia. (Foto: DPA/AP/Hani Al Ansi)

Tapi Almadhaji mengatakan frustrasi kini melanda penduduk setempat—ketika banyak orang menaruh harapan mereka kepada Saleh—melampaui kecemasan akan blokade yang dipimpin Saudi dan semakin terfokus pada kesalahan pemerintahan Houthi.

“Perdagangan telah hancur, pasar gelap berkembang. Situasi keamanan saat ini sangat mengerikan. Jalan-jalan ditutup dan ada kampanye penahanan besar-besaran,” katanya, meramalkan bahwa para loyalis Saleh akan terus bertindak.

“Orang menginginkan sebuah negara. Mereka menginginkan undang-undang. Mereka akan menyambut siapa saja yang bisa mengakhiri penderitaan mereka.”

Kematian Ali Abdullah Saleh Membunuh Harapan Akan ‘Keajaiban’ di Yaman
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top