ISIS di Irak
Timur Tengah

Kembalinya ISIS di Irak: Kini dengan Taktik Perang Gerilya

Beberapa bocah Irak memegang potret ayah mereka yang telah terbunuh oleh para militan ISIS di jalan raya Kirkuk, Karbala, Irak, tanggal 5 Juli 2018. (Foto: Reuters)
Berita Internasional >> Kembalinya ISIS di Irak: Kini dengan Taktik Perang Gerilya

Kembalinya ISIS di Irak dilakukan melalui serangan gerilya yang ditujukan untuk mengacaukan pemerintahan Irak. Kekacauan dan kejahatan yang meningkat di Irak menunjukkan bahwa pemerintah akan berada di bawah tekanan baru dari kelompok yang pernah menduduki sepertiga wilayah Irak selama tiga tahun rezim penuh teror.

Oleh: The Straits Times/Reuters

Baca Juga: Militan ISIS Bantai Sebuah Keluarga di Irak

Beberapa bulan setelah Irak menyatakan kemenangan atas ISIS, para militant kembali lewat kampanye bersenjata berupa penculikan dan pembunuhan. Dengan matinya impian kekhilafahan di Timur Tengah, ISIS telah beralih ke serangan gerilya yang ditujukan untuk mengacaukan pemerintahan Irak, menurut militer, intelijen, dan petinggi pemerintah yang diwawancarai oleh Reuters.

ISIS telah menyatukan organisasinya kembali dalam waktu beberapa bulan sebelum pemerintah Irak mengumumkan pada bulan Desember 2017 bahwa mereka telah mengalahkan kelompok teroris tersebut, menurut para pejabat intelijen yang mengatakan akan mengadopsi taktik gerilya ketika tak lagi bisa menguasai wilayah.

Irak kini telah mengalami peningkatan penculikan dan pembunuhan, terutama di provinsi Kirkuk, Diyala, dan Salahuddin, sejak mengadakan pemilihan pada bulan Mei 2018, yang menunjukkan bahwa pemerintah akan berada di bawah tekanan baru dari kelompok yang pernah menduduki sepertiga wilayah Irak selama tiga tahun rezim penuh teror.

Bulan lalu terjadi setidaknya 83 kasus penculikan, pembunuhan, maupun keduanya di tiga provinsi. Sebagian besar terjadi di jalan raya yang menghubungkan Baghdad ke provinsi Kirkuk. Pada bulan Mei 2018, terdapat 30 insiden yang terjadi di akwasan tersebut, peningkatan drastis dari 7 insiden yang terjadi di bulan Maret 2018, menurut Hisham al-Hashimi, seorang pakar ISIS yang menjadi penasehat bagi pemerintah Irak.

Dalam sebuah insiden pada tanggal 17 Juni 2018, tiga pria Syiah diculik oleh militan ISIS yang menyamar sebagai polisi di pos pemeriksaan di sebuah jalan raya. Sepuluh hari kemudian, mayat mereka yang telah dimutilasi ditemukan, yang disertai dengan bahan peledak yang bertujuan untuk membunuh siapa pun yang menemukan mayat mereka.

Saat membicarakan kota suci kaum Syiah, Karbala, dikelilingi oleh anak-anak yang mengalungkan foto para ayah mereka di leher, Bassem Khudair, salah seorang kerabat, mengatakan bahwa pasukan keamanan tidak bersikap kooperatif. Khudair memohon kepada para prajurit yang menemukan mobil para pria yang bertabur sisa peluru untuk mengejar para penculik, namun permintaan tersebut justru ditolak.

“Kami justru pergi sendiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri, karena tiga orang dari kami telah diambil dan kami tidak bisa hanya menonton begitu saja,” katanya. “Enam dari kami, seluruhnya merupakan warga sipil, harus berjalan sepanjang 10 atau 12 kilometer. Kami menemukan kartu identitas mereka terserak di tanah selama kami berjalan.”

Keesokan harinya, Khudair menerima panggilan telepon dari saudaranya. Ketiganya ternyata masih hidup tetapi sedang disandera oleh ISIS. Salah satu penculik mengatakan mereka akan dieksekusi apabila pemerintah tidak membebaskan semua tahanan perempuan Sunni. Penculik tersebut kemudian menelepon Khudair setiap hari. Khudair memberi tahu pemerintah tetapi tidak ada badan intelijen Irak yang menawarkan untuk melacak lokasi penelepon, katanya. Sepuluh hari kemudian, penculik memberi tahu Khudair bahwa mereka telah tewas. Komandan militer di provinsi Diyala dan Salahuddin menghindar dari tanggung jawab untuk mengambil jenazah mereka.

Ketua Dewan Provinsi Diyala Ali al-Dani mengatakan bahwa keuntungan saat ini berada di pihak ISIS. “Para teroris sekarang bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang sulit dilacak, sehingga dibutuhkan kinerja badan intelijen,” katanya. “Situasinya membingungkan karena adanya kekacauan di dalam pasukan keamanan. Tidak ada satu pun komandan yang memimpin penjagaan keamanan di provinsi. Hal ini tentu saja menguntungkan bagi Daesh,” kata ketua Dewan Provinsi Salahuddin Ahmed al-Kareem, merujuk pada istilah peyoratif bagi ISIS.

Kekacauan semacam itu di antara pasukan keamanan telah memungkinkan ISIS untuk kembali melakukan serangan, demikian menurut pihak militer, polisi, intelijen, dan pejabat pemimpin daerah. Mereka mengatakan bahwa buruknya koordinasi, sedikitnya dukungan dari pemerintah pusat, dan tradisi buruk berupa menghindar dari tanggung jawab telah menghalangi upaya untuk menahan serangan ISIS, yang terus melancarkan serangan tingkat rendah secara terus-menerus di samping terjadinya peningkatan insiden penculikan dan pembunuhan.

Baca Juga: Cegah Pejuang ISIS, Irak Bangun Tembok di Perbatasan Suriah

Seorang juru bicara militer tidak menanggapi panggilan telepon dan permintaan tertulis untuk memberikan komentar. Koalisi pasukan yang memerangi ISIS dan dipimpin oleh AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “tidak memiliki tempat berlindung yang aman di Irak.”

Taktik Gerilya

Para militan telah berkumpul kembali di pegunungan Hemrin di timur laut, yang membentang dari Diyala, di perbatasan dengan Iran, melintasi Salahuddin utara dan Kirkuk selatan, lalu mengarah ke jalan raya utama Irak. Para pejabat pemerintah menggambarkan daerah itu sebagai “segitiga kematian.” Para pejabat militer dan intelijen memberikan berbagai perkiraan berapa banyak pejuang ISIS yang tetap aktif di Irak. Hashimi menyebutkan bahwa jumlahnya lebih dari seribu orang, dengan sekitar lima ratus orang di antaranya tersebar di daerah gurun, sedangkan sisanya bersembunyi di pegunungan.

Al Qaeda pernah menguasai sebagian besar wilayah Sunni Irak, sebelum dikalahkan oleh pasukan AS dan Irak dan sekutu antar suku mereka selama serangan dadakan pada tahun 2006-2007. Sisa-sisanya bersembunyi di padang pasir antara Suriah dan Irak, kemudian berubah menjadi ISIS. Beberapa pejabat pemerintah khawatir bahwa kelompok teroris yang lebih radikal dapat muncul sewaktu-waktu apabila terdapat celah dalam penjagaan keamanan.

Seorang petugas intelijen di Tikrit, ibukota provinsi Salahuddin menyebut para militant ISIS sebagai hewan liar yang berkeliaran di gurun demi mencari sebongkah roti.” Para prajurit ISIS kini menggunakan taktik Al Qaeda, yakni melakukan serangan cepat kemudian segera mundur kembali ke padang pasir.

Meski mereka memiliki senapan mesin, senjata anti-tank, hingga ranjau, para militan ISIS tidak dapat menembus kota karena mereka tidak lagi mendapatkan dukungan dari warga Sunni yang dulu bersimpati dengan mereka, kata Eid Khalaf, wakil kepala polisi Salahuddin. “Mereka tak lagi mendapatkan bantuan makanan atau senjata dari warga,” katanya, “Operasi mereka kini berlangsung primitif. Mereka tak lagi bisa mengirimkan bom mobil ke tengah kota.”

Setiap sel ISIS berisi sekitar tiga atau lima pejuang, kata Komandan Operasi Diyala, Letnan Jenderal Muzher al-Azawi. Dia mengatakan bahwa terdapat tidak lebih dari 75 pejuang di provinsi itu. “Mereka bersembunyi di gunung sehingga sulit untuk ditemukan. Mereka menanam bahan peledak serta menggunakan taktik gerilya dan memanfaatkan penembak jitu. Mereka mendirikan pos-pos pemeriksaan palsu sebagai kedok aksi penculikan,” ujar al-Azawi.

“Kota-kota akan Tumbang”

Sejumlah upaya untuk melacak dan membunuh pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi telah gagal, sedangkan para pejuang ISIS masih aktif di negara-negara Arab lainnya. Di Suriah, ISIS masih menguasai beberapa wilayah tetapi telah mengalami kekalahan signifikan secara militer. Di Mesir, ISIS terkonsentrasi di gurun Sinai utara yang berpenduduk jarang penduduknya. ISIS tidak benar-benar menguasai wilayah tertentu namun tetap bisa melakukan serangan gerilya.

ISIS telah mencoba membangun kembali pendudukannya di Libya melalui unit-unit bergerak di gurun dan sel-sel tidur di kota-kota utara. Kelompok tersebut mengeksploitasi perpecahan etnis dan sektarian di Irak. Pasukan Irak dan Kurdi bertempur bersama melawan ISIS. Saat ini, ketegangan berada atas tawaran Kurdi untuk memperoleh kemerdekaan tahun lalu yang ditahan oleh pemerintah Irak. Kurangnya koordinasi telah menyebabkan kekosongan keamanan di wilayah sengketa, yang tadinya dikuasai Kurdi namun telah dipukul mundur oleh pasukan Irak mencabut Kurdi, sehingga menciptakan peluang bagi ISIS.

“Apakah mereka mengharapkan kami untuk pergi ke Diyala dan membantu mereka membersihkan kawasan tersebut, sebelum kembali mundur? Kita tidak berada di sana karena mereka telah mengusir kami,” kata seorang pejabat keamanan Kurdi. Kelompok Sunni membantu pasukan AS dan Irak dalam perang melawan al-Qaeda. Suku-suku lokal kini mengatakan bahwa mereka membutuhkan bantuan saat ISIS tengah mengupayakan untuk kembali berkuasa. “Kami memahami daerah-daerah ini lebih baik daripada pasukan keamanan dan setidaknya 280 orang dari kami telah diculik atau dibunuh,” kata kepala suku Shammar Ali Nawaf.

Bulan lalu, militan bermobil berkendara ke sebuah desa yang dihuni oleh suku Shammar dan menculik 30 pria. Keesokan harinya, delapan mayat ditemukan dalam kondisi terikat dan ditutup matanya. Nawaf mengatakan bahwa pihaknya memiliki 1.400 orang yang siap untuk berperang tetapi mereka membutuhkan bantuan dari pemerintah Irak di Baghdad.

“Pilihan saat ini ialah apakah pemerintah akan mengirimkan lebih banyak pasukan atau kami justru mengibarkan bendera ISIS. mengangkat bendera-bendera Daesh. Jika tidak, seluruh wilayah kota tak lama lagi akan jatuh,” kata Nawaf.

Keterangan foto utama: Beberapa bocah Irak memegang potret ayah mereka yang telah terbunuh oleh para militan ISIS di jalan raya Kirkuk, Karbala, Irak, tanggal 5 Juli 2018. (Foto: Reuters)

Kembalinya ISIS di Irak: Kini dengan Taktik Perang Gerilya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top