Kemunduran Proyek Infrastruktur: Pembangunan Dihentikan Setelah Terjadi Lagi Kecelakaan
Berita Politik Indonesia

Kemunduran Proyek Infrastruktur: Pembangunan Dihentikan Setelah Terjadi Lagi Kecelakaan

Tiang pancang tol Becakayu yang roboh di proyek infrastruktur di Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018. (Foto: Antara Foto/Aprilio Akbar)
Berita Internasional >> Kemunduran Proyek Infrastruktur: Pembangunan Dihentikan Setelah Terjadi Lagi Kecelakaan

Kebijakan ekonomi andalan Presiden Jokowi terbentur hambatan besar. Pengumuman penghentian pembangunan proyek infrastruktur Indonesia merepresentasikan kemunduran besar bagi Jokowi, yang meluncurkan kampanye infrastruktur yang agresif pada Oktober 2014.

Oleh: Erwida Maulia, Wataru Suzuki (Nikkei)

Pada Hari Selasa (20/2) Pemerintah Indonesia mengatakan sementara mereka akan menghentikan pembangunan jalan tol tinggi dan lintasan kereta api sambil menyelidiki rentetan kecelakaan yang terjadi dalam proses pembangunan baru-baru ini.

Pengumuman tersebut merepresentasikan kemunduran besar bagi Presiden Joko Widodo, alias Jokowi, yang meluncurkan kampanye infrastruktur yang agresif pada Oktober 2014.

     Baca juga: Ambisi Infrastruktur Tersendat, Jokowi Kembali Merayu Jepang

Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari kecelakaan yang terjadi pada Selasa pagi (20/2) pada sebuah lokasi pembangunan jalan tol di Jakarta Timur, dimana bekisting kepala tiang jembatan jatuh dan melukai tujuh orang. Hal tersebut merupakan kejadian terbaru dari dusinan kecelakaan yang terjadi di lokasi pembangunan infrastruktur yang ditangani oleh pengembang milik pemerintah selama enam bulan terakhir. Dari kesemuanya, sembilan orang telah terbunuh dan banyak lainnya yang terluka, menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas dari pembangunan.

Tiang pancang tol Becakayu yang roboh di proyek infrastruktur di Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018. (Foto: Antara Foto/Aprilio Akbar)

Tiang pancang tol Becakayu yang roboh di proyek infrastruktur di Jalan D I Panjaitan Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018. (Foto: Antara Foto/Aprilio Akbar)

“Sementara ini kita menghentikan pekerjaan bangunan berat di atas tanah—(untuk) flyover, jembatan panjang, LRT, dan MRT,” kata Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono, merujuk kepada pembangunan jaringan kereta transit ringan dan angkutan cepat massal yang sedang berlangsung di Jakarta dan Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. Dia mengatakan bahwa dalam beberapa minggu kedepan, komite baru yang telah dibuat dibawah Kementerian Pekerjaan Umum, sekaligus pembangun milik negara dan konsultan independen, akan mengivestigasi penyebab dan mengevaluasi aktivitas konstruksi untuk proyek infrastruktur secara umum.

Pembangunan MRT disokong oleh pemerintah Jepang. Proyek tersebut direncanakan untuk mulai beroperasi pada bulan Maret 2019—sebulan sebelum pemilihan presiden selanjutnya. Juru bicara MRT Jakarta mengatakan bahwa mereka belum menerima pemberitahuan resmi dari pemerintah dalam bentuk apapun mengenai pemberhentian tersebut.

“Saya memberitahu Menteri Pekerjaan Umum untuk meningkatkan pengawasan… karena ini tidak hanya terjadi di satu tempat, namun juga di banyak tempat lain,” kata Jokowi kepada wartawan pada Hari Selasa (20/2). “Pengawasan yang umum dan ketat sangat diperlukan. Kita berharap Ini akan membahas kelalaian dan komponen lainnya dalam konstruksi.”

Sebuah surat teguran telah dilayangkan kepada Waskita Karya, kontraktor milik negara yang berada di balik lebih dari setengah kecelakaan tersebut, termasuk yang terbaru yang terjadi pada hari Selasa (20/2). Hadimuljono mengatakan bahwa pihaknya telah merekomendasikan sanksi yang lebih tegas kepada Waskita, namun keputusan akhir akan ditentukan oleh Menteri BUMN.

Saham Waskita turun hingga 1,9 persen pada Hari Selasa (20/2), sebelum Hadimuljono dan pegawai kementerian lain mengumumkan secara resmi keputusan mereka di Istana Kepresidenan. Saham tersebut naik 7,2 persen pada hari Senin (19/2). Saham Jasa Marga, operator jalan tol milik negara dominan, turun 2,2 persen.

Moratorium ini menjadi sebuah kemunduran yang langka bari Jokowi, yang meluncurkan program infrastruktur ambisius setelah memenangi pemilihan presiden pada 2014. Jokowi telah berjanji untuk membangun jalanan, rel kereta, bandara, dan infrastruktur lain yang bernilai hingga $350 untuk membantu masyarakat menggunakan sarana transportasi publik. Presiden telah mengandalkan proyek ini untuk meningkatkan kualitas ekonomi di sepanjang kepulauan dan membuat pelaku bisnis lebih kompetitif.

     Baca juga: Jokowi Kejar US$150 Miliar untuk Dana Rencana Infrastruktur

Pendekatannya yang agresif tersebut, yang menyebabkan skema pendanaan di beberapa proyek di negosiasi ulang setelah pembangunan mulai dilakukan, telah menarik debat mengenai apakah proyek tersebut direncanakan dan di desain dengan baik. Bagaimanapun, dia telah membuar perkembangan yang bagus dalam pembangunan jalan tol, yang diambil alih oleh kontraktor pemerintah setelah banyak proyek yang diberikan kepada kontraktor swasta macet ditengah jalan.

Penundanaan yang memperlama waktu pembangunan kemungkinan besar akan memberikan tekanan pada pendanaan perusahaan. Waskita dan Jasa Marga telah mengalami lonjakan tingkat hutang setelah mereka mengumpulkan dana dari bank maupun pasar modal. Keterlambatan juga bisa melemahkan kredibilitas Jokowi menjelang pemilihan presiden bulan April 2019.

Jokowi, yang oleh sebagian besar diharapkan akan kembali menjabat untuk kedua kalinya, mengatakan kepada Nikkei Asian Review pada bulan Desember bahwa dia akan terus “membenahi” Indonesia meskipun hal tersebut berisiko memperpanas situasi politik.

Keterangan foto utama: Tiang pancang tol Becakayu yang roboh di proyek infrastruktur di Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018. (Foto: Antara Foto/Aprilio Akbar)

Kemunduran Proyek Infrastruktur: Pembangunan Dihentikan Setelah Terjadi Lagi Kecelakaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top