Kemungkinan Tawaran Netanyahu untuk Vladimir Putin: Singkirkan Iran dari Suriah untuk Cabut Sanksi Amerika
Timur Tengah

Kemungkinan Tawaran Netanyahu untuk Putin: Singkirkan Iran dari Suriah untuk Cabut Sanksi Amerika

Netanyahu dan Putin pada bulan Januari 2018. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov)
Home » Featured » Timur Tengah » Kemungkinan Tawaran Netanyahu untuk Putin: Singkirkan Iran dari Suriah untuk Cabut Sanksi Amerika

Israel dan Saudi mendorong kesepakatan Trump-Putin, The New Yorker melaporkan. Gagasan “menukarkan Ukraina untuk Suriah”—membatalkan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan untuk penyingkiran Iran dari Suriah, didukung oleh para Menteri Luar Negeri Saudi dan Emirat. Netanyahu dapat mencoba mengajukan ide ini kepada Vladimir Putin, tetapi bisakah Moskow mewujudkannya?

Oleh: Zvi Bar’el (Haaretz)

Baca Juga: Konflik Suriah: Dapatkah Trump Yakinkan Putin untuk Lawan Iran?

Pertemuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (11/7) akan dikhususkan terutama terkait tuntutan Israel, bahwa semua pasukan Iran harus meninggalkan Suriah—permintaan yang telah dianggap sangat tidak realistis oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Rusia telah mengatakan kepada Israel pada beberapa kesempatan, bahwa mereka tidak dapat membuat Iran meninggalkan Suriah sepenuhnya; yang paling dapat dilakukan adalah mencoba untuk membuat pasukan Iran dan milisi yang berafiliasi dengan Iran—termasuk Hizbullah—untuk pindah ke tempat yang jauh dari perbatasan Suriah-Israel di Dataran Tinggi Golan. Tetapi Rusia bahkan tidak mencoba untuk menepati janjinya dengan mewujudkan penarikan diri sebagian pasukan Iran.

Menurut laporan dari Suriah, bahkan selama penaklukan tentara Suriah di distrik Daraa selama beberapa hari terakhir, para perwira dan pengamat Iran serta pejuang Hizbullah berpartisipasi bersama pasukan Suriah. Hal ini juga menunjukkan bahwa tentara Suriah—yang sekarang menguasai sebagian besar perbatasan antara Suriah dan Yordania, termasuk penyeberangan perbatasan Naseeb—memasuki wilayah yang dikuasai pemberontak, dan melanggar kesepakatan yang dicapai minggu lalu.

Jadi tidak jelas dari mana penilaian—atau keyakinan—Israel tentang kemampuan Rusia untuk mengusir Iran berasal. Namun demikian, Israel tampaknya telah mempertahankan penilaian ini setidaknya selama dua tahun terakhir, sejak sebelum Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan bahkan setelah itu.

Trump dan Bin Zayed di Sayap Barat Gedung Putih di Washington, D.C., pada tanggal 15 Mei 2017. (Foto: Bloomberg)

Trump dan Bin Zayed di Sayap Barat Gedung Putih di Washington, D.C., pada tanggal 15 Mei 2017. (Foto: Bloomberg)

Majalah Amerika The New Yorker mengungkapkan pada Selasa (10/7), bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel telah mengatakan kepada Trump bahwa Amerika menawarkan untuk membatalkan sanksi yang dikenakan pada Rusia empat tahun lalu, setelah perang Rusia di Ukraina dan pendudukan semenanjung Krimea, sebagai imbalan untuk tindakan Rusia untuk menyingkirkan pasukan Iran dari Suriah.

Reporter Adam Entous menulis bahwa sesaat sebelum Pemilu AS pada tahun 2016, Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed, bertemu dengan seorang mediator Amerika, dan mengatakan kepadanya bahwa Vladimir Putin mungkin tertarik untuk menyelesaikan krisis Suriah sebagai imbalan untuk mengakhiri sanksi terhadap Rusia.

Bin Zayed—kata wartawan itu—bukan satu-satunya yang mendorong gagasan ini. Para pejabat senior Israel dan Arab Saudi juga melakukan hal itu dalam percakapan dengan para pejabat senior Amerika.

Baca Juga: Pertemuan Amerika-Rusia: Trump Ingin Nyatakan Putin Adalah ‘Sahabat Dekatnya’

Pada April 2017, Entous melaporkan di Washington Post bahwa Kirill Dmitriev—kepala dana kekayaan kedaulatan Rusia—telah bertemu dengan Erik Prince di sebuah resor di Seychelles milik Bin Zayed. Prince adalah pendiri Blackwater—sebuah perusahaan militer swasta yang bekerja di Irak dan dicurigai melakukan kejahatan di sana—tetapi dia juga dekat dengan Steve Bannon, yang saat itu adalah penasihat terdekat Trump.

Pertemuan itu dilaksanakan untuk membahas apakah Rusia akan bersedia untuk membatasi hubungannya dengan Iran, termasuk kerja samanya dengan Iran di Suriah, dengan imbalan untuk kesepakatan Amerika terkait sanksi. Kemudian, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek-proyek di Suriah untuk mendorong Vladimir Putin untuk memutuskan hubungan dengan Iran.

Entous mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah proposal itu berasal dari Vladimir Putin sendiri, salah satu ajudannya, atau Putra Mahkota UEA.

Setelah pemilihan Trump, selama masa transisi sebelum ia menjabat, Duta Besar Israel untuk AS Ron Dermer mengatakan selama pertemuan pribadi, bahwa Israel mendorong kerja sama antara Trump dan Vladimir Putin dengan harapan meyakinkan Rusia untuk mengusir Iran keluar dari Suriah, ujar seseorang yang hadir di pertemuan itu kepada Entous.

“Israel percaya bahwa sangat mungkin untuk mendapatkan perjanjian AS-Rusia di Suriah, yang akan mendorong Iran keluar,” kata seorang pejabat senior Israel kepada Entous, dan menambahkan bahwa hal itu “bisa menjadi awal dari peningkatan hubungan AS-Rusia di atas semuanya.”

Seorang pejabat Amerika yang berbicara dengan seorang menteri Israel yang dekat dengan Netanyahu mengatakan kepada The New Yorker, bahwa menteri tersebut telah mencoba memberikan gagasan “menukarkan Ukraina untuk Suriah”—membatalkan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan untuk penyingkiran Iran dari Suriah. Para Menteri Luar Negeri Saudi dan Emirat juga mendukung gagasan ini.

Pada jamuan makan malam pribadi dengan para pejabat senior Amerika, dua Menteri Luar Negeri tersebut bertanya mengapa Amerika tidak membatalkan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan atas pengusiran Iran. “Ini bukan percobaan kebijakan. Mereka mencoba untuk mensosialisasikan gagasan itu,”seseorang yang hadir saat makan malam mengatakan kepada Entous.

Akankah Trump bersedia menyetujui kesepakatan semacam itu? Menurut sumber-sumber Entous, kalaupun dia setuju, Rusia tidak mampu mewujudkannya. Selain itu, di saat Trump sedang diselidiki karena hubungannya dengan Rusia sebelum pemilu, dan meloloskan ide itu dapat merusak pembelaannya.

Tidak dapat dibayangkan bahwa Netanyahu akan mencoba menawarkan ide ini kepada Vladimir Putin. Mungkin ide itu bahkan akan muncul di pertemuan puncak Vladimir Putin dengan Trump pada tanggal 16 Juli. Tetapi sebelum ada yang merayakan gagasan kampanye persuasi internasional, ada baiknya mempertimbangkan apa yang Iran sendiri ingin lakukan.

Secara diplomatik dapat dikatakan bahwa Iran akan berkeinginan untuk membuat kesepakatan di Suriah sebagai imbalan pembatalan sanksi baru yang dikenakan Amerika terhadapnya, dan pemulihan kembali kesepakatan nuklir yang dibatalkan oleh Trump. Tapi logika ini bertentangan dengan posisi keras Trump, Netanyahu, Arab Saudi, dan UEA terkait kesepakatan nuklir.

Iran sendiri telah sangat jelas tentang minatnya untuk tetap berada di Suriah, dan bersikeras bahwa kesepakatan nuklir Iran tidak dapat dinegosiasi ulang. Jadi pada tahap ini, harapan terbesar Israel adalah terwujudnya rencana Rusia untuk memungkinkan rezim Suriah mendapatkan kembali kendali atas Golan, tanpa pasukan Suriah memasuki daerah itu, bersama koordinasi Rusia dengan Israel terkait status quo setelah perang berakhir.

Keterangan foto utama: Netanyahu dan Vladimir Putin pada bulan Januari 2018. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov)

Kemungkinan Tawaran Netanyahu untuk Putin: Singkirkan Iran dari Suriah untuk Cabut Sanksi Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top