Kerusuhan Zimbabwe Berujung Serangan Senjata
Afrika

Kerusuhan Pemilu Zimbabwe Berujung Serangan Senjata

Seorang tentara melepaskan tembakan ke arah para demonstran. (Foto: AFP/Getty Images/Zinyange Auntony)
Berita Internasional >> Kerusuhan Pemilu Zimbabwe Berujung Serangan Senjata

Pemilu Zimbabwe pada Senin (30/7) memicu kerusuhan dan berujung pada serangan senjata oleh pasukan keamanan terhadap para demonstran. Awal kerusuhan Zimbabwe terjadi pada Rabu (1/8) di luar markas Komisi Pemilihan Zimbabwe (ZEC), yang dituduh memiliki kecenderungan sebagai pendukung pihak oposisi, kemudian kekacauan menyebar dengan cepat.

Oleh: Jason Burke (The Guardian)

Baca Juga: Pemilu Zimbabwe: Mantan Presiden Mugabe Tolak Dukung Penerusnya Mnangagwa

Tiga orang tewas di Harare ketika tentara dan polisi melakukan serangan terhadap ratusan pengunjuk rasa, menembakkan peluru tajam, gas air mata, dan meriam air di tengah meningkatnya ketegangan menyusul pemilihan presiden Zimbabwe. Tentara dikerahkan di ibu kota Zimbabwe, Harare, pada Rabu (1/8), setelah polisi terbukti tidak dapat meredakan kerusuhan para demonstran yang mengklaim bahwa pemilihan bersejarah Zimbabwe pada Senin (30/87 tengah diliputi kecurangan.

Dalam konferensi pers larut malam, Menteri Dalam Negeri Zimbabwe Obert Mpofu memperingatkan bahwa pemerintah “tidak akan mentoleransi tindakan apa pun yang disaksikan hari ini.”

“Pihak oposisi mungkin telah menafsirkan pemahaman kami sebagai pandangan yang lemah. Saya pikir mereka sedang menguji tekad kami, dan saya pikir mereka telah membuat kesalahan besar,”katanya.

Menjelang sore, sebagian besar pusat kota mirip dengan zona perang, di mana helikopter militer beterbangan di atas kota, kendaraan pengangkut berlapis baja bergerak melalui puing-puing terbakar, dan patroli tentara mengejar para demonstran yang melemparkan batu di jalan-jalan sempit. Asap membumbung tinggi memenuhi langit. Di trotoar yang retak, terlihat pecahan kaca dan bahkan noda darah.

Para pejalan kaki yang ketakutan berlindung di balik pintu-pintu toko atau di belakang tembok yang masih tertutup poster-poster yang memuat potret para kandidat pemilu, ketika tembakan-tembakan berdesing berderak, dan batu-batu berterbangan di udara. Para saksi melaporkan melihat tentara menyerang orang-orang dengan tongkat pemukul.

Kerusuhan Pemilu Zimbabwe Berujung Serangan Senjata

Seorang tentara bersenjata berpatroli di jalanan Harare selama protes. (Foto: AP/Mujahis Safodien)

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meminta para pemimpin politik Zimbabwe dan orang-orang untuk menahan diri, serta mengecam segala bentuk kekerasan. Guterres bergabung dengan Menteri Luar Negeri Inggris Harriett Baldwin, yang mengatakan dirinya “sangat prihatin” atas aksi kekerasan tersebut, dan meminta para pemimpin politik Zimbabwe untuk “bertanggung jawab memastikan ketenangan dan menahan diri pada saat kritis ini.”

Amnesti Internasional mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan secara “cepat dan efektif terhadap tindakan penumpasan yang mematikan oleh militer.”

“Masyarakat Zimbabwe harus dijamin haknya untuk melakukan protes,” kata Colm O Cuanachain, Sekretaris Jenderal Amnesti Internasional. Para pendukung oposisi telah menyatakan ketidaksabaran yang kian besar atas keterlambatan dalam merilis hasil pemungutan suara bersejarah di Zimbabwe, yang pertama kali sejak Robert Mugabe digulingkan setelah empat dekade berkuasa.

Adegan kekerasan tersebut secara dramatis terlihat kontras dengan kegembiraan dan sukacita di jalan-jalan yang sama, yang menyambut akhir pemerintahan Mugabe pada bulan November 2017. Tentara pada waktu itu dipandang sebagai pahlawan patriotik. Pada Rabu (1/8) sore, setidaknya di kubu oposisi Harare, para tentara sekali lagi terlihat sebagai pembela yang gusar dari partai Zanu-PF yang berkuasa.

Bentrokan awal terjadi di luar markas Komisi Pemilihan Zimbabwe (ZEC), yang dituduh memiliki kecenderungan sebagai pendukung pihak oposisi, kemudian kekacauan menyebar dengan cepat.

“Kami mendukung (pemimpin oposisi Nelson) Chamisa dan kami ingin dia menjadi presiden kami. Komisi pemilihan telah bersikap tidak adil. Pemilihan kami telah dicurangi,” kata seorang mahasiswa berusia 19 tahun di antara para demonstran.

Sebagian dari mereka berteriak, “Ini adalah perang,” sementara yang lain meneriakkan slogan yang menyerukan agar Presiden Emmerson Mnangagwa mundur.

“Ini semua kesalahan pemerintah,” kata Abigail Nganlo, seorang perawat berusia 29 tahun, kepada The Guardian saat dia berlindung dari bentrokan di gang sempit. “Kami menderita dalam kesulitan ekonomi saat ini. Orang-orang sangat marah. Angka (pemilihan) yang mereka hasilkan itu palsu. Ketika terdapat 500 orang di tempat pemungutan suara, mereka mengatakan angka 5 ribu.”

Baca Juga:  Represi Muslim di China: Mengapa Etnis Uighur ‘Dididik-ulang’ di Kamp-kamp Penahanan Massal

Alex Kamasa (30 tahun,) seorang lulusan sarjana yang menganggur, berkata, “Mereka putus asa. Ini adalah pencurian besar-besaran. Setidaknya Mugabe telah dicurangi otaknya. Orang-orang ini melakukan kecurangan seperti anak sekolah. Mereka telah menghina kami.”

Chamisa (40 tahun), mengatakan bahwa hasil pemilihan presiden itu palsu. “Kami telah memenangkan pemilu kali ini bersama-sama. Tidak ada jumlah manipulasi hasil yang akan mengubah keinginan Anda,” tulisnya dalam akun Twitternya sebelum para tentara dikerahkan.

Priscilla Chigumba—Ketua Komisi Pemilihan Umum Zimbabwe dan hakim pengadilan tinggi—telah membantah tuduhan-tuduhan bias dan tuduhan adanya kecurangan yang kini diperdebatkan.

Menteri Kehakiman Zimbabwe, Ziyambi Ziyambi, mengatakan bahwa para tentara telah dikerahkan untuk membubarkan kerumunan yang penuh kekerasan dan memulihkan “kedamaian dan ketenangan.”

“Kehadiran tentara bukan untuk mengintimidasi orang-orang, tetapi untuk memastikan bahwa hukum dan ketertiban dapat ditegakkan. Mereka ada di sana untuk membantu polisi,” kata Ziyambi dalam wawancara yang disiarkan di televisi eNCA. “Mereka ada di sana sebagai tentara rakyat, untuk memastikan bahwa perdamaian dan keamanan dapat tetap dipertahankan.

Pihak berwenang berada di bawah tekanan yang meningkat untuk merilis hasil jajak pendapat yang berlangsung pada Senin (30/7) antara Chamisa—seorang pengacara berusia 40 tahun, sekaligus pendeta dan pemimpin partai oposisi utama Gerakan untuk Perubahan Demokratis—melawan Mnangagwa, 75 tahun, asisten jangka panjang Mugabe dan Pemimpin Partai Zanu-PF.

Para penguasa Zimbabwe tahu persis persepsi yang tersebar luas di luar negeri, yakni bahwa kecurangan pemilu akan menghalangi reintegrasi Zimbabwe ke dalam komunitas Internasional, dan menghambat bantuan finansial asing yang sangat dibutuhkan untuk menghindari kehancuran ekonomi Zimbabwe. Begitu juga adegan-adegan seperti yang terlihat di Harare pada Rabu (1/8) sore. Gambar-gambar tentara yang menembaki para pengunjuk rasa sipil mengingatkan kepada hari-hari tergelap dari kekuasaan Mugabe, dan merupakan kemunduran serius bagi upaya Zanu-PF untuk meningkatkan citranya di luar negeri.

Kedutaan Besar AS mengatakan bahwa pihaknya “sangat prihatin dengan peristiwa yang berlangsung di Harare,” dan menyerukan kepada para pemimpin dari semua pihak untuk menyerukan semua orang agar dapat bersikap tenang, dan mendesak militer untuk “menggunakan batasan dalam mengurai para pengunjuk rasa.”

Kerusuhan Pemilu Zimbabwe Berujung Serangan Senjata

Para tentara menyerang para demonstran di luar markas Partai Gerakan untuk Perubahan Demokratis di Harare. (Foto: Reuters/Mike Hutchings)

Kurang dari satu jam sebelum kekerasan terjadi, pemantau pemilu menyerukan agar suara dihitung secara terbuka dan tepat waktu. Zanu-PF telah memenangkan mayoritas besar suara di parlemen, setelah menyapu konstituensi pedesaan dengan margin kemenangan yang signifikan, menurut hasil resmi, tetapi hasil parlemen tidak selalu menunjukkan kepala negara terpilih. Di bawah undang-undang pemilihan Zimbabwe, hasil pemilihan presiden harus diumumkan pada tanggal 4 Agustus 2018.

Elmar Brok—kepala pemantau Uni Eropa pertama yang diizinkan masuk ke Zimbabwe setelah 16 tahun—memuji “pembukaan ruang politik” sebelum pemungutan suara, tetapi mengatakan bahwa pemerintah Zimbabwe telah gagal memastikan tidak ada kecurangan dan menuduh ZEC memiliki bias. Brok meminta ZEC untuk menyajikan hasil rinci di hadapan publik untuk memastikan kredibilitas pemilihan yang telah memiliki kekurangan sebelumnya. Pemantau lain juga menyatakan keprihatinan mereka ketika proses perhitungan suara memasuki hari ketiga.

“Hari pemungutan suara hanyalah potret dari proses pemilihan yang panjang,” kata anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Karen Bass, salah satu pengawas pemilu yang dikerahkan bersama oleh Institut Republikan Internasional dan Institut Demokrasi Nasional AS. “Sangatlah penting untuk melihat proses pemilu hingga akhir, sehingga saat ini masih terlalu dini untuk membuat penilaian tentang situasi pemilihan kali ini.”

Apabila tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari separuh suara dalam pemilihan presiden, maka putaran kedua akan dilaksanakan dalam lima pekan ke depan. Negosiasi untuk membentuk pemerintahan koalisi adalah kemungkinan lain yang dapat diambil. Kedua kandidat presiden mewakili ideologi dan gaya politik serta generasi yang berbeda secara dramatis. Jajak pendapat pra-pemilu menunjukkan bahwa Mnangagwa—seorang mantan kepala mata-mata yang dikenal sebagai “buaya” karena reputasinya atas sifat cerdik nan kejam—menang tipis atas Chamisa, orator yang brilian meski terkadang sulit diprediksi.

Keterangan foto utama: Seorang tentara melepaskan tembakan ke arah para demonstran. (Foto: AFP/Getty Images/Zinyange Auntony)

Kerusuhan Pemilu Zimbabwe Berujung Serangan Senjata

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top