Kapal Perang Iran
Timur Tengah

Ketegangan Meningkat, Iran Kirimkan Kapal Perang ke Perairan AS

Berita Internasional >> Ketegangan Meningkat, Iran Kirimkan Kapal Perang ke Perairan AS

Iran akan mengirimkan kapal-kapal perang ke Samudera Atlantik. Pengiriman kapal perang Iran itu sebagai tanggapan atas kehadiran pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat di area Teluk. Ketegangan diplomatik kedua negara terus meningkat, dan tidak terlihat akan segera mereda.

Baca juga: Iran Menyalahkan Kehadiran Amerika di Suriah Sejak Awal

Oleh: Nick Allen (The Telegraph)

Ketengan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat pada hari Jumat, seiring Tehran mengumumkan mereka akan mengirimkan kapal-kapal perang ke perairan Amerika dalam bulan-bulan ini.

Angkatan Laut Iran mengatakan, mereka akan meluncurkan kapal-kapal ke Samudera Atlantik mulai dari bulan Maret. Pengiriman kapal perang Iran di perairan AS itu adalah bentuk timbal-balik dari kehadiran pesawat-pesawat tempur Amerika yang berada di Teluk.

Laksamana Iran Touraj Hassani mengatakan, mereka akan memiliki “kehadiran berkelanjutan di perairan internasional,” yang memiliki tujuan untuk “mengibarkan bendera Republik Islam Iran” dan “mengamankan rute pelayaran.”

Armada itu akan termasuk Sahand, kapal penghancur baru yang dilengkapi dengan helikopter, misil antar permukaan, senjata anti-pesawat tempur, dan perlengkapan perang elektronik.

Hal itu adalah pergerakan angkatan laut terbaru oleh rezim Iran, yang juga telah mengirimkan kapal-kapal ke Samudera Hindia dan Teluk Aden untuk melindungi kapal-kapal Iran dari bajak laut Somalia.

Bulan lalu, angkatan laut Iran mengatakan, mereka mengirimkan dua atau tiga kapal dalam satu misi ke Venezuela.

Friksi dengan Washington telah melonjak sejak Donald Trump menjabat.

Pada bulan Mei, Trump mengumumkan ia akan menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian tahun 2015 yang mengatur ambisi nuklir Iran, dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap sektor energi dan perbankan Iran.

Iran sejak saat itu telah mengancam untuk memblokade Selat Hormuz, yang dilalui sepertiga perdagangan minyak mentah di lautan.

Pergerakan kelautan terakhir Iran ini terjadi satu hari setelah Mike Pompoe, Menteri Luar Negeri AS, memperingatkan rezim itu untuk tidak melanjutkan rencana mereka untuk meluncurkan beberapa satelit.

Pompeo mengatakan, tiga peluncuran yang direncakan akan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB atas penggunaan teknologi misil balistik.

Ia mengatakan, roket yang terlibat termasuk teknologi “yang secara virtual identik” dengan yang ada pada misil balistik antarbenua, dan AS “tidak akan tinggal diam” jika hal itu diluncurkan.

Komentar itu sepertinya disiapkan untuk membangun kasus legal baru untuk memajukan aksi AS menghentikan program misil Iran.

Baca juga: PBB: Dua Peluncur Rudal di Yaman Diduga Berasal dari Iran

Tehran membantah misilnya dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir, dan menolak tuduhan bahwa peluncuran ruang angkasa itu melanggar resolusi PBB.

Pompeo akan mengunjungi Timur Tengah minggu depan sebagai upaya untuk menggalang dukungan dari sekutu AS di tengah meningkatnya ketegangan di area tersebut.

Hal itu akan menjadi kunjungan pertama Pompeo sejak Trump memutuskan untuk menarik pasukan AS dari Suriah.

Pompeo akan mengunjungi delapan negara, termasuk Arab Saudi dan Mesir.

Juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, di Riyadh, dia akan meminta laporan perkembangan terbaru tentang penyelidikan Arab Saudi atas pembunuhan Jamal Khashoggi.

Pompeo juga akan mengunjungi Yordania, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, dan Kuwait.

Keterangan foto utama: Kapan Iran di Selat Hormuz. (Foto: AFP)

Ketegangan Meningkat, Iran Kirimkan Kapal Perang ke Perairan AS

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top