Ketegangan Meningkat, Para Pendukung Kremlin Peringatkan Ancaman Perang Rusia-Amerika
Eropa

Ketegangan Meningkat, Para Pendukung Kremlin Peringatkan Ancaman Perang Rusia-Amerika

Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: The Washington Post/Sarah Parnass/Anton Troianovski)
Home » Featured » Eropa » Ketegangan Meningkat, Para Pendukung Kremlin Peringatkan Ancaman Perang Rusia-Amerika

Ancaman perang Rusia-Amerika terus meningkat, karena Rusia memiliki informasi bahwa Amerika berencana untuk memalsukan serangan kimia di Suriah dan menggunakannya sebagai dalih untuk menyerang Assad. Jika serangan semacam itu membahayakan kehidupan warga Rusia, mereka akan merespon dengan menembak rudal dan peluncurnya.

    Baca juga: Analisis: Tiga Pilihan Buruk Amerika Di Suriah

Oleh: Anton Troianovski (The Washington Post)

Dalam laporan Kremlin, Rusia adalah negara yang dikepung.

Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan serangan terhadap sekutu Rusia Bashar al-Assad di Suriah, yang memicu spekulasi di antara orang-orang yang dekat dengan Kremlin bahwa tindakan seperti itu dapat memicu ancaman perang yang lebih luas. Seorang sarjana yang menasihati Kementerian Pertahanan Rusia bahkan mengangkat momok “Perang Dunia III.”

Di saat yang sama, sanksi AS terhadap eksekutif bisnis Rusia atas menghilangkan miliaran dolar dari nilai pasar saham Rusia minggu ini, yang memicu kekhawatiran bahwa ekonomi negara yang sudah stagnan dapat terjerumus kembali ke dalam resesi.

Seolah-olah efektif, sebuah artikel baru dari ajudan tinggi Kremlin menyatakan bahwa Rusia harus mempersiapkan satu abad “kesendirian geopolitik” dan bahwa “perjalanan epiknya menuju Barat” berakhir.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pendukungnya selama bertahun-tahun telah menyatukan negara mereka dan bersatu dengan pemimpinnya untuk menghadapi Barat yang semakin agresif.

Narasi “benteng yang terkepung” itu sekarang telah kembali ke garis depan dengan cara yang tidak pernah terlihat sejak puncak krisis Ukraina pada tahun 2014 dan pencaplokan Krimea oleh Rusia.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Rusia merespon—baik terhadap sanksi maupun terhadap serangan AS di Suriah, di mana pemerintah Rusia memiliki kekuatan militer yang mendukung rezim Assad.

Putin telah mengatakan sedikit tentang kedua topik tersebut dalam beberapa hari terakhir. Dia mengunjungi ilmuwan Rusia hari Selasa (10/4) dan berterima kasih kepada mereka atas peran mereka dalam membantu mengembangkan senjata nuklir Rusia yang baru.

“Ini semua memperkuat isolasionis, memperkuat logika sebuah benteng yang terkepung,” Andrei Kolesnikov, spesialis kebijakan domestik di Carnegie Moscow Centre, mengatakan tentang sanksi dan perkembangan Suriah. “Rezim itu tidak akan jatuh. Hanya akan menjadi lebih isolasionis dan agresif terhadap Barat.”

Penurunan di pasar saham Rusia minggu ini menunjukkan bahwa sanksi AS pada hari Jumat (6/4) adalah tindakan pemerintah Trump yang paling merusak terhadap pemerintahan Rusia sejauh ini.

Nilai tukar mata uang rubel Rusia turun menjadi 63 terhadap dolar AS, level terendah mata uang Rusia sejak Desember 2016, dan pejabat pemerintah mengatakan mereka bersiap untuk mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan bisnis Rusia yang terpengaruh.

“Pukulan untuk kelompok perusahaan apapun” yang dipengaruhi oleh sanksi “adalah pukulan bagi perekonomian secara keseluruhan,” kata Deputi Perdana Menteri Arkady Dvorkovich pada hari Selasa (10/4).

Perusahaan pengusaha yang terkena sanksi Oleg Deripaska, Rusal, raksasa aluminium yang mempekerjakan 62.000 orang di seluruh dunia, telah kehilangan lebih dari setengah nilai pasar sahamnya sejak sanksi diumumkan. Sberbank, bank terbesar Rusia, telah kehilangan sekitar 15 persen di pasar saham minggu ini meskipun tidak mendapat sanksi.

Penurunan pada hari Senin (9/4) lebih dari delapan persen dalam patokan Indeks MOEX Rusia adalah yang terburuk sejak Maret 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea, meskipun indeks memulihkan sebagian dari kerugian tersebut pada hari Selasa (10/4).

“Jika sanksi rezim yang sangat kuat menyebar ke sektor lain, ini dapat menyebabkan krisis keuangan dan tentu saja akan masuk ke dalam resesi baru,” kata ekonom Alexandre Abramov, seorang ahli pasar keuangan di Sekolah Tinggi Ekonomi Moskow. Risikonya, katanya, adalah bahwa investor akan menghindari semua saham perusahaan Rusia, takut akan kemungkinan diberlakukan sanksi lebih lanjut.

Bahkan ketika Rusia terhuyung-huyung karena hantaman ekonomi, krisis lain semakin mendalam di Suriah.

Serangan kimia yang dicurigai di Douma yang dikuasai pemberontak menimbulkan ramalan buruk bagi Rusia, bahwa bencana dapat terjadi jika Amerika meluncurkan serangan udara sebagai tanggapan. Rusia membantah bahwa sekutu Suriahnya menggunakan klorin atau racun lain dalam serangan hari Sabtu (7/4), yang merenggut puluhan nyawa.

Barat mengatakan banyak bukti yang menunjuk pasukan Assad, beserta pendukung mereka, Rusia dan Iran, bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Igor Korotchenko, seorang sarjana militer Rusia dan anggota dewan penasihat publik Departemen Pertahanan, mengatakan serangan AS yang menewaskan orang-orang Rusia di Suriah akan memicu ancaman perang dari militer Rusia, kemungkinan terhadap pesawat atau kapal AS. Hal itu bisa membawa rantai peristiwa yang sama berbahayanya dengan krisis rudal Kuba pada tahun 1962, kata Korotchenko, dan berpotensi untuk “memprovokasi Perang Dunia III.”

“Trump harus memahami bahwa kita akan berbicara tentang kemungkinan eskalasi nuklir jika terjadi bentrokan militer AS dan Rusia,” kata Korotchenko. “Semuanya bisa terjadi dengan sangat cepat, dan situasi dapat berubah keluar dari kendali para politisi.”

Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov mengatakan bulan lalu bahwa Rusia memiliki informasi bahwa Amerika Serikat sebelumnya berencana untuk memalsukan serangan kimia di Suriah dan menggunakannya sebagai dalih untuk menyerang Assad, sehingga meningkatkan ancaman perang antara Amerika dan Rusia. Jika serangan semacam itu membahayakan kehidupan warga Rusia, dia memperingatkan pada saat itu, Rusia akan merespon dengan menembak rudal dan peluncur mereka.

Rusia telah mengatakan bahwa dugaan serangan bahan kimia di Douma memang palsu—sebagian dipicu untuk mengalihkan perhatian dari episode lain yang juga Rusia sebut sebagai tuduhan palsu terhadap Rusia: kasus keracunan bekas mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Inggris bulan lalu.

“AS telah menyatakan perang ekonomi terhadap kami, mereka juga menyatakan perang diplomatik, dan sekarang menunjukkan bahwa mereka ingin menguji kekuatan bersenjata kami dalam konflik lokal,” kata anggota parlemen Igor Morozov pada acara TV negara hari Senin (9/4).

Di kesempatan lain yang serupa, koresponden perang Yevgeny Poddubny memperingatkan, “Rusia memiliki kekuatan dan sarana untuk menghentikan kelompok Amerika—pertanyaannya adalah, seberapa jauh ancaman perang ini, konflik ini, konfrontasi ini, akan terjadi.”

Perwakilan dari Bulan Sabit Merah Suriah, serta spesialis racun Rusia, telah mengunjungi lokasi insiden Douma “dan tidak menemukan jejak penggunaan senjata kimia,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Selasa (10/4).

    Baca juga: Trump Ancam Rusia dan Assad, Namun Apakah Ia Berpeluang Raih Kemenangan di Suriah?

Dia mengatakan Rusia akan mengusulkan resolusi Dewan Keamanan PBB pada Selasa (10/4) malam yang akan meminta pakar internasional dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) untuk mengunjungi lokasi tersebut, atas undangan pemerintah Suriah.

Suriah dan Rusia, katanya, akan siap menjamin keamanan para inspektur.

Jika Barat menolak proposal Rusia, Lavrov mengatakan, ancaman perang akan menjadi bukti lebih lanjut dari “anti-Suriah dan Russofobia” mereka.

Di tengah perkembangan yang bergerak cepat, arsitek senior pemerintahan Putin, ajudan Kremlin Vladislav Surkov, minggu ini menerbitkan sebuah artikel di jurnal Russia Global Affairs yang menyajikan landasan teoritis kerenggangan antara Rusia dan Barat.

Sekarang menjadi jelas, ia menulis, bahwa tahun 2014—tahun krisis Ukraina—Rusia menandai “akhir dari berbagai upaya dan tak berbuah untuk menjadi bagian dari peradaban Barat.”

“Periode baru yang tidak diketahui sampai kapan ini sekarang terbentang di depan kita, era ’14 + ‘, di mana kita menghadapi seratus (dua ratus? tiga ratus?) tahun kesendirian geopolitik,” tulis Surkov.

Anton Troianovski adalah kepala biro Olimpiade Washington Post. Dia sebelumnya di Wall Street Journal selama sembilan tahun, terakhir sebagai koresponden Berlin. Ikuti Twitternya @antontroian.

Keterangan foto utama: Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: The Washington Post/Sarah Parnass/Anton Troianovski)

Ketegangan Meningkat, Para Pendukung Kremlin Peringatkan Ancaman Perang Rusia-Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top