Ketegangan Perbatasan China-India Timbulkan Kekhawatiran di Bhutan
Asia

Ketegangan Perbatasan China-India Timbulkan Kekhawatiran di Bhutan

Wangchulo Dzong yang penuh warna di Haa Valley. (Foto: Aswin Anand)
Ketegangan Perbatasan China-India Timbulkan Kekhawatiran di Bhutan

Oleh: Fan Lingzhi (Global Times)

Ketegangan perbatasan China-India telah memasuki bulan kedua, dan warga Bhutan semakin khawatir ketegangan tersebut akan memanas dan menjadi konflik militer. Warga Bhutan takut negara kecil mereka akan dihancurkan oleh perang, dan ekonomi memburuk karena terputusnya perdagangan.

Seorang tentara India yang bertugas di distrik Haa membaca sebuah buku catatan

Seorang tentara India yang bertugas di distrik Haa membaca sebuah buku catatan. (Foto: GT/Cui Meng)

Pada senja hari menuju suatu malam di bulan Agustus, suhu di Lembah Haa di Bhutan barat turun hingga mencapai 10 derajat celcius, namun para pengunjung Risum Resort seperti tidak menyadarinya, dan tetap menikmati bir lokal dan lada keju tradisional Bhutan.

Merusak ketenangan di lembah tersebut, sekitar 30 kilometer arah barat dari resor itu, ketegangan antara China dan India telah memasuki dua bulan, setelah pasukan India melanggar batas teritori China “untuk mewakili Bhutan”.

Kehadiran militer India telah berada di kota paling barat Butan, Haa, selama setengah abad. Ketegangan Doklam yang terbaru ini pun telah berdampak kepada kehidupan penduduk lokal Bhutan yang merasa khawatir.

Lembah Haa secara kasar terbagi menjadi dua wilayah, perkotaan sebelah atas kota Haa, dan zona militer di bagian bawah.

Penduduk lokal mengatakan kepada The Global Times bahwa membutuhkan waktu dua hari untuk berjalan dari Lembah Haa menuju wilayah otonomi Tibet China ketika ketegangan terjadi, karena militer Bhutan mulai membangun barikade di sepanjang jalan.

Seorang penduduk lokal mengatakan bahwa ia telah menyaksikan beberapa truk militer India yang mengirimkan pasukan tentara ke arah barat.

Kehadiran militer India di Haa—dengan adanya Tim Pelatihan Militer India (IMTRAT) dan Sekolah Kemiliteran Wangchuk Lo Dzong—tidak dapat diabaikan.

Chablop PaSsu, seorang sarjana Bhutan, menulis pada tahun 2014 di dalam sebuah blog, bahwa “selama masa pemerintahan Perdana Menteri Jigme Palden Dorji, Dzong menyediakan kependudukan sementara bagi IMTRAT, sebagai langkah sementara untuk menjawab permasalahan yang ada di Haa.”

Dzong merupakan bangunan yang menyerupai benteng yang banyak terdapat di Bhutan, dan Dzong yang berada di Haa diberikan kepada IMTRAT pada tahun 1962, menurut situs Militer India.

Di gerbang Sekolah Militer Wangchuk Lo Dzong, sebuah plakat besi bertuliskan bahwa sekolah militer tersebut memperkuat persahabatan antara kedua negara.

Pada pukul 7 pagi, enam siswa bersenjata penuh di Bhutan, memasuki sekolah tersebut dari perkemahan terdekat, dan diikuti oleh seorang petugas India yang mengenakan seragam instruktur. Tidak lama, teriakan slogan-slogan mulai terdengar dari sekolah tersebut.

Seorang siswa remaja mengatakan kepada The Global Times bahwa terdapat sekitar 500 tentara India dan petugas layanan masyarakat di Haa. Ketika ditanya mengenai pendapatnya akan kehadiran mereka, remaja tersebut mengatakan bahwa ia merasa khawatir.

“Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika perang benar-benar dimulai,” ujarnya.

Wangchulo Dzong yang penuh warna di Haa Valley

Wangchulo Dzong yang penuh warna di Haa Valley. (Foto: Aswin Anand)

Pemutusan Perdagangan

Dibandingkan dengan zona militernya, perkotaan di Haa jauh lebih kecil. Kota tersebut hanya memiliki empat jalan dengan lebar sekitar 500 meter, dan populasi hanya beberapa ribu jiwa, menurut para penduduk lokal.

Selain tanaman yang kerap dipanen, banyak penduduk lokal yang juga terlibat di dalam aktivitas bisnis. Sebelum tahun 1957, Haa Dzongkhag digunakan sebagai pusat perdagangan antara Bhutan dan Tibet. Namun saat ini, jalur perdagangannya sebagian besar telah diputus.

Pemilik toko lokal bernama Namgyal mengatakan kepada The Global Times bahwa banyak produk-produknya—yang memiliki logo China—tiba melalui Nepal. Ia mengatakan bahwa tiga tahun lalu, ia kerap menyelundupkan jamur Bhutan ke China yang dikirimkan melalui orang-orang yang mau menyelundupkan jamur tersebut.

“Saya biasanya pergi pada malam hari untuk diam-diam melewati perbatasan,” ujar Namgyal.

Namun tahun ini, karena adanya kebuntuan antara China dan India, jalan menuju Tibet telah ditutup, dan begitu pula salah satu pemasukan bagi Namgyal. “Sejauh ini, ketegangan in belum berdampak parah bagi kehidupan saya, namun saya khawatir terhadap kemungkinan terjadinya perang. Kami adalah negara kecil, dan perang dapat menghancurkan segalanya yang saya miliki.”

Banyak masyarakat Bhutan yang juga merasakan hal yang sama dengan Namgyal. Mereka menunjukkan keengganannya untuk menjawab pertanyaan, atau memihak manapun, ketika ditanya terkait ketegangan tersebut.

Seorang pemandu turis mengatakan—saat sedang setengah mabuk—bahwa pemerintahnya tidak ingin rakyat Bhutan membicarakan mengenai hal ini.

Seorang pria Bhutan yang pernah belajar di China adalah pengecualian. Ia mengatakan bahwa kunjungannya ke banyak kota di China, telah membuatnya percaya bahwa New Delhi bukanlah lawan Beijing.

“India berbohong tentang akan ‘melindungi Bhutan.’ Jika perang pecah, China akan menang,” katanya.

Ketegangan Perbatasan China-India Timbulkan Kekhawatiran di Bhutan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top