Khamenei: ‘Dukung Israel dan Amerika, Arab Saudi Khianati 1,6 Miliar Muslim’
Timur Tengah

Khamenei: ‘Dukung Israel dan Amerika, Arab Saudi Khianati 1,6 Miliar Muslim’

Warga Palestina mencari perlindungan dari asap granat, saat bentrokan dengan pasukan keamanan Israel, setelah demonstrasi untuk mendukung tahanan Palestina pada tanggal 13 Januari 2018, di desa Nabi Saleh, Tepi Barat. Masyarakat Palestina baru-baru ini turun ke jalan, untuk melakukan protes terhadap keputusan AS untuk memindahkan Kedutaan Besar Washington ke Yerusalem, dan berpotensi memotong bantuan penting ke badan PBB yang bertugas membantu pengungsi Palestina. (Foto: AFP/Getty Images/Abbas Momani)

Ayatollah Ali Khamenei menyebut Arab Saudi telah mengkhianati seluruh umat Muslim di dunia dengan memihak Amerika Serikat dan Israel dalam urusan regional. Dia juga meminta negara-negara Muslim untuk bersatu melawan AS dan pengakuan Israel atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Walau Arab Saudi tidak secara resmi mengakui Israel, kerajaan Muslim Sunni konservatif dan negara mayoritas Yahudi tersebut sejalan dalam dukungan mereka terhadap AS, dan sama-sama bertentangan dengan Iran yang semakin berpengaruh. 

Oleh: Tom O’connor (Newsweek)

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah menuduh Arab Saudi berkhianat kepada rakyat Palestina dan mengkhianati 1,6 miliar Muslim, dengan berpihak pada Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait urusan regional.

Terlepas dari perang proxy Iran dan Arab Saudi selama berpuluh-puluh tahun di Timur Tengah, ulama Muslim Syiah revolusioner Khamenei mengatakan pada Selasa (16/1), bahwa negaranya “siap untuk bertindak dengan rasa persaudaraan, bahkan dengan orang-orang Muslim yang pernah secara terbuka memusuhi Iran.”

Dia meminta negara-negara Muslim untuk bersatu melawan AS dan pengakuan Israel atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel—yang menjadi sebuah goncangan diplomatik yang mengabaikan klaim Palestina atas kota tersebut, dan membalikkan konsensus internasional mengenai status Yerusalem.

“Saya percaya bahwa perjuangan melawan rezim Zionis akan membuahkan hasil, sama seperti perlawanan yang telah semakin berkembang pada hari ini. Terdapat saat-saat ketika Zionis meneriakkan ‘Dari Sungai Nil sampai Efrat’, hari ini mereka membangun tembok di sekitar mereka sendiri, sehingga mereka dapat melindungi diri mereka sendiri di wilayah yang diduduki itu,” kata Khamenei kepada Uni Parlemen Organisasi Kerjasama Islam, dalam sebuah konferensi di Teheran.

Tapi dia juga menggunakan kesempatan ini untuk mengkritik negara-negara Muslim yang mendukung AS dan Israel, “Seperti apa yang dilakukan Arab Saudi. Ini tentu pengkhianatan terhadap umat Islam dan negara-negara Muslim.”

Demonstran pro-pemerintah memegang poster pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (kanan), dan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini

Demonstran pro-pemerintah memegang poster pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (kanan), dan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, sementara mereka meneriakkan slogan-slogan, dalam sebuah demonstrasi setelah shalat Jumat di Teheran pada tanggal 5 Januari 2018. Baik Iran dan Arab Saudi telah berkompetisi untuk mendominasi Timur Tengah dan negara-negara Muslim. (Foto: AFP/Getty Images/Atta Kenare)

Walau Arab Saudi tidak secara resmi mengakui Israel, kerajaan Muslim Sunni konservatif dan negara mayoritas Yahudi tersebut sejalan dalam dukungan mereka terhadap AS, dan sama-sama bertentangan dengan Iran yang semakin berpengaruh. Iran telah berhasil memperluas jejaknya di Timur Tengah, setelah para militan Muslim Syiah yang didanai Iran, membantu mengalahkan kelompok militan ISIS dan Al-Qaeda di Irak, Lebanon, dan Suriah.

Iran meningkatkan ancamannya terhadap Arab Saudi, setelah serangkaian kejadian yang menimbulkan kekacauan pada November lalu, dan sebuah deklarasi pada bulan Desember oleh Presiden Donald Trump, yang akan menimbulkan konsekuensi di seluruh wilayah tersebut. Trump mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan menghadapi kecaman yang hampir menyeluruh dari masyarakat internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Langkah kontroversial ini disambut oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, namun ditanggapi dengan demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia. Hal ini juga menempatkan sekutu-sekutu AS di Arab, seperti Yordania dan Arab Saudi, berada dalam posisi yang sulit. Keduanya akhirnya memilih untuk bergabung dengan 126 negara lain yang mengecam Washington dalam sebuah resolusi Majelis Umum PBB. Namun, keduanya tidak mengambil langkah konkret untuk mengurangi kerja sama militer atau politik dengan AS.

Presiden Iran Hassan Rouhani—yang dipandang sebagai sosok moderat yang telah mendukung kesepakatan nuklir tahun 2015, yang saat ini terancam dibubarkan karena perlawanan Trump terhadapnya—juga mengecam kebijakan AS dan Israel di Timur Tengah. Dia mengatakan kepada para peserta konferensi pada Selasa (16/1), bahwa saat ini ISIS telah dikalahkan, dan negara-negara Muslim dapat fokus untuk mendukung negara Palestina yang merdeka.

“Saya yakin bahwa umat Islam dan pemerintah tidak akan pernah melupakan Quds (Yerusalem), sebagai kiblat pertama umat Islam, dan akan bertindak berdasarkan kesatuan tujuan, menghindari perpecahan, dan upaya bersama untuk mengembalikan semua warga Palestina ke tanah air mereka, dan melipatgandakan usaha mereka untuk mewujudkan sebuah negara Palestina merdeka yang mencakup seluruh wilayah Palestina, dengan Quds Suci sebagai ibu kotanya,” kata Rouhani, menurut Kantor Berita Tasnim Iran.

Pidato Khamenei dan Rouhani disampaikan sekitar dua minggu setelah negaranya dilanda serangkaian demonstrasi selama seminggu, pada akhir bulan lalu dan awal bulan ini.

Khamenei dan para pemimpin Iran lainnya menyalahkan Israel, Arab Saudi, dan AS, karena menghasut konspirasi untuk menggulingkan pemerintah Iran melalui demonstrasi besar-besaran, dan beberapa di antaranya berubah menjadi bentrokan mematikan dengan pasukan keamanan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh Israel, Arab Saudi, dan AS memberlakukan sebuah strategi yang dapat “membawa kita pada perang” dengan Iran.

Menanggapi kritik Trump di media sosial terhadap pemerintah Iran, Khamenei mengunggah serangkaian tweet sendiri pada minggu lalu, dan menyebut Trump “orang yang sangat tidak stabil” yang memiliki “kisah yang ekstrem dan gila.”

Keterangan foto utama: Warga Palestina mencari perlindungan dari asap granat, saat bentrokan dengan pasukan keamanan Israel, setelah demonstrasi untuk mendukung tahanan Palestina pada tanggal 13 Januari 2018, di desa Nabi Saleh, Tepi Barat. Masyarakat Palestina baru-baru ini turun ke jalan, untuk melakukan protes terhadap keputusan AS untuk memindahkan Kedutaan Besar Washington ke Yerusalem, dan berpotensi memotong bantuan penting ke badan PBB yang bertugas membantu pengungsi Palestina. (Foto: AFP/Getty Images/Abbas Momani)

Khamenei: ‘Dukung Israel dan Amerika, Arab Saudi Khianati 1,6 Miliar Muslim’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top