Kim Jong Un Tak Sedang Mengejar Perdamaian. Dia Hanya Mengulur Waktu
Asia

Kim Jong Un Tak Sedang Mengejar Perdamaian. Dia Hanya Mengulur Waktu

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada hari Senin mengumumkan untuk membuka dialog dengan Korea Selatan mengenai partisipasi Utara di Olimpiade Musim Dingin, yang dimulai pada 9 Februari. Kedua negara tersebut telah membuka sebuah hotline lintas batas yang telah lama ditangguhkan pada hari Rabu. (Foto: AP)
Home » Featured » Asia » Kim Jong Un Tak Sedang Mengejar Perdamaian. Dia Hanya Mengulur Waktu

Membaiknya hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan ditanggapi positif oleh banyak pihak, termasuk AS. Namun tak semua pihak setuju bahwa hal itu akan memadamkan ancaman nuklir Korea Utara. Dalam opininya, Harry J. Kazianis menganggap Kim hanya sedang mengulur waktu untuk mematangkan teknologi nuklirnya, yang dipersiapkan untuk menyerang Amerika.

Oleh: Harry J. Kazianis (The Week)

Ketika membicarakan Korea Utara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan kesulitan memilih antara menggunakan rudalnya dan kata-katanya. Bahkan saat Gedung Putih memperdebatkan apakah mereka akan menghukum ‘negara nakal’ tersebut dengan serangan udara “yang sangat menyakitkan” untuk membalas uji coba rudal dan nuklirnya, menteri luar negeri AS berbicara di depan publik bahwa dia bersedia berbicara tanpa syarat dengan rezim tersebut. Apa yang dipikirkan presiden? Sepertinya tidak ada yang tahu.

Tapi semua orang tahu apa yang pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pikirkan. Bahkan saat dia sedikit menahan diri dengan mencoba mengulur waktu, Kim jelas-jelas memiliki strategi yang sebenarnya dia coba gunakan—dan meskipun dia mencoba menutupinya, apa yang dia pikirkan sangat jelas; sejelas sinar matahari.

Anda tahu, Kim percaya satu-satunya cara untuk menjamin keamanan rezimnya adalah dengan mencapai teknologi senjata nuklir yang bisa menyerang Benua Amerika Serikat. Dan sepertinya dia bersedia menempatkan negerinya yang terkepung dalam risiko apa pun jika perlu, untuk mencapainya.

Kini setelah Gedung Putih secara serius mempertimbangkan tindakan militer terhadap Korea Utara, Kim harus menyadari bahwa dia berlebihan dalam menantang Trump tahun lalu dengan uji coba nuklir dan rudal balistiknya. Tapi Kim juga tahu bahwa dia hampir menemukan mata rantai teknologi terakhir untuk ICBM dengan hulu ledak nuklir: memastikan hulu ledaknya dapat bertahan ketika rudal meluncur masuk kembali ke atmosfir. Dia mungkin hanya mengulur waktu untuk memastikan ilmuwan gilanya bisa memberikan sentuhan akhir pada perisai perisai panas yang berfungsi penuh.

    Baca juga: Mencairnya Hubungan Korea Utara-Korea Selatan: 5 Hal yang Perlu Kita Tahu

Kim tahu bahwa pemerintahan Trump mungkin tidak akan melancarkan serangan atau meningkatkan tekanan selama Pyongyang tidak menembakkan rudal baru atau menguji setiap nuklir. Tapi dia juga menyadari kesabaran Washington tidak akan bertahan selamanya, jadi dia perlu mengulur waktu sebanyak yang dia bisa.

Hingga kemudian muncullah pembicaraan damai. Negosiasi terakhir antara Korea Utara dan Korea Selatan tampaknya telah berhasil, dengan Korea Utara menyetujui perundingan militer dan untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korsel. Tapi apa yang akan benar-benar Kim dapatkan di sini? Pembicaraan yang lebih rinci—dan waktu.

Pertemuan Bersejarah: Negosiator Korut dan Korsel Bertemu Pertama Kali Sejak 2015

Delegasi Korut dan Korsel bertemu untuk pertama kalinya sejak Desember 2015. (Foto: Getty Images via Times)

Korea Utara kemungkinan akan berusaha untuk memperlengkapi keberhasilan perundingan hari Selasa (9/1) dan partisipasinya dalam Olimpiade Musim Dingin—di mana dunia akan terpesona dengan sepasang atlet ice skating fotogenik Korea Utara—ke dalam negosiasi yang lebih rinci lagi.

Kemungkinan Korea Utara akan menawarkan diri untuk mendiskusikan proyek pembangunan bersama yang macet, reuni keluarga, dan mungkin pertemuan antar-Korea antara kedua pemimpin tersebut. Dunia akan salah berharap bahwa Perang Korea, yang tidak pernah dihentikan dengan sebuah perjanjian perdamaian yang sebenarnya, akhirnya bisa dibaringkan untuk beristirahat. Beberapa bahkan mungkin memprediksi bahwa suatu hari reunifikasi damai akan bisa dilakukan.

Tapi di sinilah Kim meletakkan jebakannya. Sementara negosiasi akan dimulai dengan menjanjikan, Pyongyang perlahan akan menambah daftar tuntutannya. Pembicaraan akan macet, tidak pernah sampai pada titik kegagalan namun juga tidak menghasilkan konsesi yang berarti. Sementara itu, Kim mencoba mengulur waktu agar ilmuwan roket Korea Utara akan memberikan sentuhan akhir pada rancangan akhir ICBM Pyongyang dengan perisai panas yang berfungsi.

Kita akan tahu bahwa Korea Selatan telah mengalami kegagalan dalam negosiasi, karena Kim akan melakukan kembali sebuah uji coba rudal yang tak pernah terlihat sebelumnya: penembakan rudak sejauh 13.000 kilometer ke Pasifik Selatan sekitar awal April, sebelum latihan militer AS-Korea Selatan yang tertunda dilaksanakan. Dan dengan tes ini, tidak akan ada keraguan bahwa Korea Utara adalah negara nuklir yang mampu menyerang AS.

    Baca juga: Presiden Korea Selatan Tidak akan Akui Korea Utara sebagai Negara Nuklir

Pada titik ini, dunia terbangun dengan apa yang hanya bisa digambarkan sebagai versi 2018 dari momen Sputnik, ketika Uni Soviet pada tahun 1957 meluncurkan satelit ke orbit yang membuktikan bahwa kota-kota AS berada di kisaran rudal Soviet. Media berita akan dipenuhi amarah. Kelompok sayap-kanan akan menyalahkan Obama, Clinton, dan pemerintahan demokratis lainnya yang dapat mereka temukan dalam semua buku sejarah karena tidak membuat Korea Utara menjadi prioritas utama, atau tidak pernah sepenuhnya menangani masalah ini. Kelompok sayap-kiri akan menyalahkan lemahnya strategi pemerintahan Trump untuk menaklukkan apa yang disebut ‘kerajaan pertapa.’ Ketika itu terjadi, pendapat semua orang akan benar.

Tapi siapa yang harus disalahkan tak lagi penting, karena semua sanksi di dunia tidak bisa membalikkan waktu. Korea Utara akan mencapai tujuan utamanya, dan akan bersedia menanggung akibatnya. Pemerintahan Trump akan membuat banyak ancaman, tapi tidak akan bisa mendukung mereka kecuali jika bersedia mengambil risiko Los Angeles atau Seattle diledakkan dengan nuklir. Tidak, jika saya benar, Gedung Putih tidak mempunyai pilihan selain secara perlahan merangkul gagasan bahwa penahanan dan pencegahan adalah satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan saat menghadapi Pyongyang.

Tetapi bahkan jika saya salah, tampaknya hampir pasti bahwa Korea Utara dalam beberapa bulan mendatang akan bergabung dengan klub terkenal yang beranggotakan beberapa negara, seperti Rusia dan China, yang dapat mengubah sebagian besar Amerika menjadi abu atom. Memang, beberapa percaya itu sudah terjadi.

Betapapun menakutkannya, kita tahu bagaimana menghadapi ancaman semacam itu—dan makian dan ancaman untuk menghancurkan Korea Utara dengan serangan menyakitkan perlu diakhiri. Sekarang.

Harry J. Kazianis adalah direktur studi pertahanan di Pusat Minat Nasional, yang didirikan oleh mantan Presiden AS Richard M. Nixon. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada hari Senin mengumumkan untuk membuka dialog dengan Korea Selatan mengenai partisipasi Utara di Olimpiade Musim Dingin, yang dimulai pada 9 Februari. Kedua negara tersebut telah membuka sebuah hotline lintas batas yang telah lama ditangguhkan pada hari Rabu. (Foto: AP)

Kim Jong Un Tak Sedang Mengejar Perdamaian. Dia Hanya Mengulur Waktu
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top