Dengan perkiraan mereka sendiri, kelompok tersebut telah menemukan hingga 1.200 jasad sejak mereka mulai bekerja pada bulan Oktober 2017. Para relawan membawa jasad melalui lingkungan al-Midan di Kota Tua Mosul. Al-Midan adalah lingkungan tertua di Mosul, dan tempat terakhir di mana pertempuran antara tentara Irak dan ISIS terjadi. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)
Timur Tengah

Kisah Para Pengumpul Mayat di Mosul

Dengan perkiraan mereka sendiri, kelompok tersebut telah menemukan hingga 1.200 jasad sejak mereka mulai bekerja pada bulan Oktober 2017. Para relawan membawa jasad melalui lingkungan al-Midan di Kota Tua Mosul. Al-Midan adalah lingkungan tertua di Mosul, dan tempat terakhir di mana pertempuran antara tentara Irak dan ISIS terjadi. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)
Home » Featured » Timur Tengah » Kisah Para Pengumpul Mayat di Mosul

Sebuah kelompok yang terdiri dari 30 relawan telah mengumpulkan lebih dari 1.200 jasad dari bawah puing-puing kota yang hancur. Walau pertahanan sipil Irak awalnya menolak untuk mengambil jasad para pejuang ISIS, namun sebuah sekelompok sukarelawan muda mulai mengumpulkan jasad-jasad tersebut.

Baca juga: Pemimpin ISIS Indonesia Bahrun Naim Tewas dalam Serangan Drone di Suriah

Oleh: Vincent Haiges (Al Jazeera)

Lebih dari sembilan bulan setelah Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS) dikalahkan di Mosul, penduduk kota terus berurusan dengan dampak setelah pertempuran.

Ribuan jasad warga sipil dan pejuang ISIS masih berada di bawah reruntuhan di Kota Tua Mosul.

Walau pertahanan sipil Irak awalnya menolak untuk mengambil jasad para pejuang ISIS, namun sebuah sekelompok sukarelawan muda mulai mengumpulkan jasad-jasad tersebut.

Lingkungan al-Midan—yang merupakan benteng terakhir pejuang ISIS selama tahap akhir pertempuran atas kendali kota tersebut—adalah pusat dari kehancuran.

Penembakan hebat oleh pesawat tempur koalisi mengakibatkan puluhan rumah runtuh dan ratusan orang terkubur di bawah reruntuhan.

Tanpa pelatihan atau keahlian formal, kelompok sukarelawan muda tersebut mengumpulkan jasad, bekerja di pagi hari ketika baunya tidak terlalu kuat.

Awalnya, mereka adalah tim beranggotakan empat orang, tetapi melalui paparan media sosial, kelompok itu berkembang menjadi sekitar 30 anggota.

Tugas mereka tidak mudah.

Banyak dari jasad para pejuang ISIS masih memiliki sabuk bunuh diri terpasang di tubuh mereka, membuat pengumpulan jasad mereka berbahaya dan sulit.

Setelah tujuh bulan, mereka telah mengumpulkan lebih dari 1.200 mayat.

Karena pertahanan sipil baru-baru ini kembali berfungsi, kelompok relawan tersebut mencari cara berikutnya untuk memberikan kontribusi positif bagi pemulihan kota mereka.

Awalnya, empat teman mulai mengumpulkan jasad pada Oktober 2017. Korps Pertahanan Sipil Irak menghentikan pekerjaan mereka pada Januari 2018, karena mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi warga sipil di bawah reruntuhan, dan mereka menolak untuk mengumpulkan jasad para pejuang ISIS. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Awalnya, empat teman mulai mengumpulkan jasad pada Oktober 2017. Korps Pertahanan Sipil Irak menghentikan pekerjaan mereka pada Januari 2018, karena mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi warga sipil di bawah reruntuhan, dan mereka menolak untuk mengumpulkan jasad para pejuang ISIS. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Sebagian dari kelompok itu berjalan melalui puing-puing di lingkungan al-Midan di kota tua Mosul. Mereka ingin mengumpulkan semua jasad—terlepas dari identitas mereka. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Sebagian dari kelompok itu berjalan melalui puing-puing di lingkungan al-Midan di kota tua Mosul. Mereka ingin mengumpulkan semua jasad—terlepas dari identitas mereka. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan menggunakan tali improvisasi untuk menarik jasad. Kelompok ini tidak memiliki alat profesional untuk melakukan pekerjaan mereka. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan menggunakan tali improvisasi untuk menarik jasad. Kelompok ini tidak memiliki alat profesional untuk melakukan pekerjaan mereka. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan membawa jasad melewati reruntuhan. Kelompok itu bekerja di pagi hari, karena bau dari jasad-jasad tersebut. ‘Jasad-jasad itu perlu disingkirkan. Anda dapat mencium mereka di lingkungan ini, di mana orang-orang (sudah) mulai kembali,’ kata seorang sukarelawan. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan membawa jasad melewati reruntuhan. Kelompok itu bekerja di pagi hari, karena bau dari jasad-jasad tersebut. ‘Jasad-jasad itu perlu disingkirkan. Anda dapat mencium mereka di lingkungan ini, di mana orang-orang (sudah) mulai kembali,’ kata seorang sukarelawan. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Seorang relawan mengumpulkan jasad. Banyak di antara mereka masih muda, beberapa baru saja berusia 18 tahun. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Seorang relawan mengumpulkan jasad. Banyak di antara mereka masih muda, beberapa baru saja berusia 18 tahun. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Dengan representasi kerja mereka di media sosial, grup ini telah berkembang menjadi sekitar 30 orang. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Kelompok ini memperkirakan bahwa 80 hingga 90 persen dari jasad yang mereka kumpulkan adalah pejuang ISIS. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Kelompok ini memperkirakan bahwa 80 hingga 90 persen dari jasad yang mereka kumpulkan adalah pejuang ISIS. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Seorang relawan membawa mayat melalui bagian kawasan al-Midan yang hancur total. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Seorang relawan membawa mayat melalui bagian kawasan al-Midan yang hancur total. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Sabuk bunuh diri diambil dari jasad para pejuang ISIS. Ranjau dan bahan peledak yang ditinggalkan oleh ISIS masih menjadi ancaman utama di kota ini. Beberapa perkiraan mengatakan bahwa butuh satu dekade sebelum Mosul dibersihkan. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Sabuk bunuh diri diambil dari jasad para pejuang ISIS. Ranjau dan bahan peledak yang ditinggalkan oleh ISIS masih menjadi ancaman utama di kota ini. Beberapa perkiraan mengatakan bahwa butuh satu dekade sebelum Mosul dibersihkan. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Kota tua Mosul adalah salah satu tempat yang paling terkontaminasi senjata di dunia. Mosul penuh dengan granat tangan, artileri yang belum meledak, pelat tekanan, dan perangkap (booby trap) yang rumit. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Kota tua Mosul adalah salah satu tempat yang paling terkontaminasi senjata di dunia. Mosul penuh dengan granat tangan, artileri yang belum meledak, pelat tekanan, dan perangkap (booby trap) yang rumit. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan membawa jasad melalui lingkungan al-Midan di Kota Tua Mosul. Al-Midan adalah lingkungan tertua di Mosul, dan tempat terakhir di mana pertempuran antara tentara Irak dan ISIS terjadi. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Para relawan membawa jasad melalui lingkungan al-Midan di Kota Tua Mosul. Al-Midan adalah lingkungan tertua di Mosul, dan tempat terakhir di mana pertempuran antara tentara Irak dan ISIS terjadi. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Pada hari biasa, kelompok tersebut menemukan hingga 20 jasad, dan total 1.200 jasad telah dikumpulkan sejak Oktober 2017. Pada beberapa hari tertentu, mereka menemukan hingga 200 jasad. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Pada hari biasa, kelompok tersebut menemukan hingga 20 jasad, dan total 1.200 jasad telah dikumpulkan sejak Oktober 2017. Pada beberapa hari tertentu, mereka menemukan hingga 200 jasad. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Jasad-jasad tersebut diambil oleh Kementerian Kesehatan setelah dikumpulkan. Bulan ini, Korps Pertahanan Sipil kembali untuk mengumpulkan jasad yang tersisa. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Jasad-jasad tersebut diambil oleh Kementerian Kesehatan setelah dikumpulkan. Bulan ini, Korps Pertahanan Sipil kembali untuk mengumpulkan jasad yang tersisa. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Keterangan foto utama: Dengan perkiraan mereka sendiri, kelompok tersebut telah menemukan hingga 1.200 jasad sejak mereka mulai bekerja pada bulan Oktober 2017. Para relawan membawa jasad melalui lingkungan al-Midan di Kota Tua Mosul. Al-Midan adalah lingkungan tertua di Mosul, dan tempat terakhir di mana pertempuran antara tentara Irak dan ISIS terjadi. (Foto: Al Jazeera/Vincent Haiges)

Kisah Para Pengumpul Mayat di Mosul

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top