Konflik Israel Hamas
Timur Tengah

Konflik Gaza: Setelah Hamas Luncurkan 200 Roket, Israel Terus Membalas

Warga Palestina memeriksa bangunan al-Meshal yang hancur dalam serangan udara Israel di barat Kota Gaza, pada Kamis (9/8). (Foto: EPA-EFE/REX/Shutterstock/Haitham Imad)
Berita Internasional >> Konflik Gaza: Setelah Hamas Luncurkan 200 Roket, Israel Terus Membalas

Konflik Israel Hamas di Gaza terus berlanjut, di mana Hamas meluncurkan sedikitnya 200 roket pada Rabu (8/8) dan Kamis ke Israel, dan Israel membalas dengan serangan udara terhadap lebih dari 150 lokasi di wilayah Palestina. Hamas mengatakan bahwa korban luka akibat peristiwa itu mencapai 40 orang, namun Israel mengatakan bahwa hanya terdapat 18 korban luka.

Baca juga: Konflik Gaza-Israel: Proses Perdamaian Kembali Terancam Gagal

Oleh: Noga Tarnopolsky, Hana Salah (Los Angeles Times)

Jika Anda menginginkan contoh mencolok untuk menggambarkan ketegangan yang meningkat antara Israel dan milisi Islamis Hamas, lihat saja bangunan-bangunan Al-Meshal di Kota Gaza.

Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza, mengatakan bahwa bangunan itu adalah pusat budaya populer untuk para pemuda. Israel mengatakan bahwa itu digunakan oleh pasukan keamanan dalam negeri Hamas “untuk tujuan militer.”

Bangunan itu sekarang menjadi tumpukan puing, dan Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan pada Kamis (9/8), bahwa empat orang tewas ketika serangan udara Israel menghancurkan gedung itu selama gelombang terakhir pertempuran sengit di sepanjang perbatasan Gaza-Israel.

Hamas mengatakan bahwa 40 orang terluka, namun Israel mengatakan bahwa jumlah orang yang terluka hanya 18 orang.

Hamas meluncurkan sedikitnya 200 roket pada Rabu (8/8) dan Kamis ke Israel, di mana Israel membalas dengan serangan udara terhadap lebih dari 150 lokasi di wilayah Palestina.

Pertahanan udara Israel mencegat lebih dari 30 roket, tetapi sebuah rumah dan beberapa situs lain di dalam dan di sekitar kota-kota Sderot dan Beersheba—25 mil ke daratan dari Gaza—telah hancur, menurut tentara Israel.

Israel menganggap peluncuran roket pada Kamis (9/8) yang diarahkan ke Beersheba—ibu kota Israel selatan, di mana sirene pengingat datangnya serangan udara belum pernah terdengar lagi sejak Perang Gaza 2014—sebagai sebuah eskalasi yang signifikan.

Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan bahwa bangunan al-Meshal digunakan oleh sebuah unit yang “dianggap sebagai cabang eksekutif kepemimpinan politik Hamas.” Ia menambahkan bahwa “bagian dari anggota unit juga merupakan operasi militer dari ‘organisasi teror’ Hamas.”

Israel dan saksi-saksi Palestina mengatakan bahwa tentara menggunakan drone untuk “menghancurkan atap” bangunan itu—sebuah teknik yang menggunakan perangkat dengan hasil ledakan rendah di atap gedung, yang ditargetkan untuk memperingatkan orang-orang untuk pergi.

Eman Hamam (35 tahun), seorang ibu lima anak yang tinggal sekitar 75 meter dari gedung al-Meshal, mengatakan pada Kamis (9/8) bahwa serangan pesawat tanpa awak (drone) saat pertama kali terjadi “sangat kuat, kami pikir itu adalah serangan nyata.”

“Anak-anak perempuan saya mulai menjerit,” katanya kepada The Times, “dan kami pergi bersembunyi di dapur dan mengikuti berita di Facebook.”

Dia mengatakan bahwa bombardir yang menghancurkan bangunan itu terjadi ketika dia sedang berbicara di telepon dengan seorang kerabat, dan “rumah kami menjadi sangat gelap karena abu dan debu.”

Tidak ada bangunan di dekatnya yang terkena bom.

Pihak berwenang di Gaza melaporkan bahwa tiga orang tewas sebelumnya, termasuk Enas Khamash (23 tahun) yang sedang hamil dan putrinya yang berusia 18 bulan, Bayan. Ali al-Ghandour (30 tahun)—yang dilaporkan adalah seorang pejuang di sayap militer Hamas—dilaporkan terluka parah. Enam lainnya juga terluka dalam serangan itu.

Sebelas orang Israel yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk perawatan, termasuk seorang wanita yang terluka parah. Untuk mengantisipasi eskalasi lebih lanjut, Pusat Medis Soroka di Beersheba memindahkan unit neonatalnya ke tempat perlindungan yang tahan bom.

Konflik Gaza: Setelah Hamas Luncurkan 200 Roket, Israel Terus Membalas

Seorang anak berada di atas puing-puing bangunan Pusat Kebudayaan al-Meshal yang hancur dalam serangan udara Israel di Kota Gaza. (Foto: EPA-EFE/REX/Shutterstock/Haitham Imad)

Konflik Israel Hamas telah meningkat sejak pemerintahan Trump mengumumkan pada bulan Desember bahwa mereka memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) dari Tel Aviv ke Yerusalem. Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, tetapi Israel mengklaim kota tersebut secara keseluruhan sebagai ibu kotanya.

Warga Gaza memulai protes mingguan di sepanjang perbatasan pada akhir Maret, menuntut hak untuk kembali ke rumah leluhur mereka di Israel. Otoritas Palestina di sana mengatakan bahwa Israel telah membunuh 155 orang Palestina dalam penyerangan untuk menahan protes tersebut. Di sisi Israel, satu tentara tewas.

Kamis (9/8) malam, Hamas menyerukan partisipasi massa dalam demonstrasi pada Jumat (10/8).

Putaran kekerasan terbaru dimulai di tengah antisipasi perjanjian gencatan senjata yang dilaporkan antara Hamas dan Israel. Pada Kamis (9/8) siang, Hamas secara sepihak mengumumkan gencatan senjata dalam sebuah pernyataan yang bertuliskan “Pertempuran putaran ini telah berakhir; menjaga perdamaian tergantung pada Israel.”

Tapi sesaat sesudahnya dan sampai pukul 16.00, roket terus diluncurkan.

Baca juga: Gaza di Ambang Bencana: Akankah Perang Israel-Hamas Segera Terjadi?

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat menjelang pertemuan kabinet keamanan di Gaza, yang dijadwalkan untuk malam itu.

“Kami tidak melihat akhir dari eskalasi ini. Kami mendekati operasi di Gaza,” kata seorang pejabat senior militer Israel dalam sebuah arahan untuk media Israel, yang mengisyaratkan kemungkinan perang dan kemungkinan mengevakuasi warga sipil Israel jika konflik meningkat.

Dua ratus ribu warga sipil Israel yang tinggal di komunitas perbatasan diperintahkan untuk menghabiskan Rabu (8/8) malam di tempat penampungan, dan kamp musim panas diizinkan untuk beroperasi hanya di tempat penampungan yang tahan bom. Militer juga melarang pekerjaan pertanian, yang pada puncaknya pada bulan Agustus.

Pukul 9.20 malam pada Kamis (9/8), sirene serangan udara terus mengirim warga Israel ke tempat perlindungan di seluruh perbatasan.

Berbicara kepada Radio Israel, Shlomi Ilan, penduduk desa komunal Kissufim, mengatakan bahwa “ada suasana yang mengerikan. Kami tidak dapat bekerja di ladang, kamp musim panas ditutup, tidak ada yang bisa meninggalkan tempat penampungan. Kami harus menyerang musuh dengan keras dan kemudian membuat kesepakatan dengan mereka. Ini harus berakhir.”

“Israel tidak mengupayakan perang, tetapi tekanan publik dapat menyebabkan langkah-langkah yang lebih keras,” kata Amos Harel, analis militer untuk surat kabar Israel Haaretz, menggambarkan situasi saat ini sebagai “Hari Groundhog Israel di Gaza—terjebak dalam lingkaran berdarah tanpa henti dengan Hamas.”

Selain itu, tentara Israel mengatakan “serangan berskala luas” selama hari itu menghancurkan sekitar 150 “target militer strategis” Hamas, termasuk dua terowongan dan poros yang mengarah ke Israel dan sebuah pabrik semen yang memproduksi lempengan yang digunakan untuk membangun terowongan.

Serangan itu merupakan respons terhadap serangan roket serta tembakan ke arah warga sipil yang bekerja di pagar perbatasan, kata para pejabat Israel.

Dengan pemilihan yang dijadwalkan untuk tahun depan, para anggota parlemen oposisi Israel mengecam Netanyahu karena gagal mencapai gencatan senjata yang bertahan lama, meski ada upaya dari Mesir dan PBB yang sedang berlangsung untuk menengahi gencatan senjata di antara para pihak.

Hazem Qassem, seorang juru bicara untuk Hamas, mengatakan bahwa Israel dengan biadab dan “sengaja menargetkan pusat budaya dengan penembakan dan penghancuran.”

Dia menambahkan bahwa pengeboman itu adalah “upaya Israel untuk menyabotase upaya Mesir untuk menenangkan situasi di Jalur Gaza.”

Nikolay Mladenov, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia “sangat khawatir dengan eskalasi kekerasan baru-baru ini antara Gaza dan Israel.”

Dia menambahkan, “kami akan terus bekerja keras untuk memastikan bahwa langkah Gaza kembali dari tepi jurang, bahwa semua masalah kemanusiaan ditangani, dan bahwa upaya yang dipimpin Mesir untuk mencapai rekonsiliasi intra-Palestina berhasil.”

Koresponden khusus Salah dan Tarnopolsky masing-masing melaporkan dari Kota Gaza dan Yerusalem.

Keterangan foto utama: Warga Palestina memeriksa bangunan al-Meshal yang hancur dalam serangan udara Israel di barat Kota Gaza, pada Kamis (9/8). (Foto: EPA-EFE/REX/Shutterstock/Haitham Imad)

Konflik Gaza: Setelah Hamas Luncurkan 200 Roket, Israel Terus Membalas

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top