Konflik Suriah: Memadamkan Api Revolusi Melalui Perang Sipil
Timur Tengah

Konflik Suriah: Memadamkan Api Revolusi Melalui Perang Sipil

Asap membubung naik dari kota al-Harak, seperti yang terlihat dari pedesaan Deraa, Suriah 25 Juni 2018. (Foto: Reuters/Alaa al-Faqir)
Home » Featured » Timur Tengah » Konflik Suriah: Memadamkan Api Revolusi Melalui Perang Sipil

Semakin kuatnya posisi rezim Assad dalam merebut kembali kendalinya dan semakin kurang tertariknya AS untuk campur tangan, kecuali dalam situasi taktis terbatas, semakin besar kemungkinan sistem politik riil untuk menjadi faktor pertimbangan politik faksi. Kondisi konflik Suriah sekarang ini memang masih jauh dari penyelesaian, tetapi kejatuhan Deraa mungkin lebih dari sekedar pemadaman simbolis dari nyala api yang memicu revolusi.

Baca juga: Konflik Suriah: Pemberontak Menyerah, Kekerasan di Deraa Segera Berakhir

Oleh: Rodger Shanahan (The Interpreter)

Lebih dari tujuh tahun setelah Deraa menjadi tempat lahirnya pemberontakan Suriah, kota ini telah menyerah kepada pasukan rezim. Hari-hari terakhirnya menunjukkan pola yang sebelumnya pernah terjadi, di mana pemerintah Suriah mampu mengerahkan senjata yang lebih kuat untuk menghantam kelompok-kelompok oposisi bersenjata sampai mereka tunduk.

Sebuah solusi yang telah dinegosiasikan dalam konflik Suriah mengharuskan senjata kelompok oposisi dilucuti, mempersilakan anggota kelompok yang ingin “bergabung kembali” ke dalam naungan pemerintah Suriah, dan mengirim anggota kelompok yang tidak ingin ke utara ke Idlib, di mana para jihadis, Islamis, dan pejuang oposisi dikelompokkan bersama.

Terebutnya kembali Deraa memperluas kemenangan militer Suriah yang telah dicapai sejak Rusia campur tangan untuk membantu rezim itu. Dengan pemberantasan elemen-elemen yang dikendalikan ISIS dari kamp pengungsi Yarmouk di pinggiran Damaskus pada bulan Mei, dan perebutan kembali daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di Ghouta timur sebulan sebelumnya, kemenangan yang sebagian terhenti telah meluas kembali.

Kemenangan dalam operasi militer ini sulit untuk dihentikan. Segera setelah kemenangan dan negosiasi penyelesaian yang Bashar al-Assad raih, pasukan dan senjata dikerahkan kembali di tempat lain. Tapi kemenangan di Deraa tidak hanya merupakan kemenangan simbolis tetapi juga kemenangan atas potensi keuntungan ekonomi bagi rezim Assad yang sedang kekurangan uang, sama seperti Lebanon ldan Yordania.

Perlintasan perbatasan Nassib dengan Yordania sekarang kembali ke tangan pemerintah Suriah, dan kemungkinan akan ada tindakan untuk mencoba memulihkan rute perdagangan di wilayah itu (mungkin termasuk pemulihannya zona perdagangan bebas Yordania-Suriah) yang aktif sebelum Nassib jatuh ke kelompok pemberontak selatan. Tentu saja, kemenangan Assad baru-baru ini telah melakukan banyak hal untuk membuat garis kehidupan ekonomi utama Suriah kembali berlanjut, meskipun pergerakan barang-barang di Suriah, seperti konflik itu sendiri, tidak terwujud dengan instan.

Jatuhnya Deraa juga sekali lagi mewujudkan kurangnya pengaruh (dan/atau kepentingan) pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Suriah. Deraa pernah menjadi bagian dari zona de-eskalasi selatan yang dinegosiasikan antara AS, Rusia, dan Yordania pada tahun 2017 dan ditegaskan kembali dalam pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump pada November lalu.

Bulan lalu, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan akan ada “tindakan yang tegas dan tepat” untuk Assad jika zona de-eskalasi selatan dilanggar, dan duta besar AS untuk PBB Nikki Haley kemudian mengatakan bahwa Rusia pada akhirnya akan bertanggung jawab atas eskalasi lebih lanjut. Namun laporan-laporan berikutnya dalam pers arus utama mengklaim AS telah memberi isyarat untuk para pemimpin pemberontak di selatan bahwa seharusnya mereka tidak mempertimbangkan intervensi militer AS ke dalam pengambilan keputusan mereka.

AS masih memiliki kepentingan di Suriah timur (terutama daerah kantong Tanf) dan timur laut. Kehadiran AS terwujud dengan berlanjutnya serangan terhadap sisa-sisa kelompok ISIS di wilayah tersebut: serangan udara Irak di dalam Suriah pada akhir Juni yang dilaporkan menewaskan 45 teroris adalah buktinya. Tetapi utilitas strategis yang lebih luas dari berlanjutnya kehadiran AS, bahkan sebagai bagian dari rencana operasi militer anti-Iran masih belum jelas.

Mengenai semua bantuan yang diberikan AS kepada Kurdi dan pasukan suku Arab di timur, Suriah timur dan Damaskus sama-sama tahu bahwa Suriah bukanlah prioritas nomor satu pemerintah Trump. Dan kemudahan yang membuat AS tidak peduli terhadap pengambilalihan Deraa menegaskan hal itu.

Masih banyak lagi tantangan bagi Assad ke depannya bahkan sebelum dia dapat mulai merenungkan pencapaian tujuan untuk merebut kembali kendali atas seluruh wilayah Suriah. Yang pertama adalah memanfaatkan kemenangan baru-baru ini di Deraa dan memperluas kemenangannya ke Quneitra, meskipun masalahnya di sini bukan ada pada semakin kuatnya oposisi, tetapi dengan cara yang tidak mengancam kepentingan Israel.

Garis merah Israel selalu menjadi lokasi kehadiran tentara Iran atau milisi yang didukung Iran, seperti Hizbullah di Quneitra. Walaupun Israel mungkin akan puas dengan kembalinya status quo di mana pasukan pemerintah Suriah memegang kembali kendali atas Quneitra, Rusia kesulitan untuk menjamin hasil ini dan mencegah eksploitasi Iran atas situasi di lapangan. Perundingan antara Rusia dan Israel tentang masalah ini terus berlanjut dalam beberapa bulan terakhir.

Lalu ada kepentingan Turki. Assad sendiri mengatakan baru-baru ini di televisi Rusia bahwa pintu negosiasi dengan Kurdi Suriah pasti terbuka. Wilayah yang dikuasai Turki di Suriah utara tidak mungkin permanen. Kepentingan strategis Turki di Suriah telah dikurangi untuk mengamankan sisi selatannya terhadap kehadiran Kurdi bersenjata, meningkatkan pengaruhnya di wilayah yang sama, dan mencapai solusi politik yang akan memungkinkan kembalinya ratusan ribu pengungsi Suriah. Turki mungkin juga akan membatasi setiap serangan dari kelompok-kelompok jihadis yang sebagian besar ada di provinsi Idlib, yang dijaga oleh kehadiran Turki, Rusia, dan pos pengamatan Iran di wilayah Suriah, menurut Perjanjian Astana.

Baca juga: Semua yang Perlu Kita Tahu Tentang Konflik Suriah di Perbatasan Israel

Seberapa besar kemenangan pemerintah Suriah di wilayah selatannya akan berdampak pada operasi militer oleh pemerintah Suriah di daerah lain sulit untuk diprediksi. Seperti perang sipil Lebanon yang terjadi selama 15 tahun, ketika aktor-aktor eksternal terlibat, negosiasi perjanjian damai sulit diraih.

Tetapi semakin kuatnya pemerintah Suriah dalam merebut kembali kendalinya dan semakin kurang tertariknya AS untuk campur tangan, kecuali dalam situasi taktis terbatas, semakin besar kemungkinan sistem politik riil untuk menjadi faktor pertimbangan politik faksi. Suku Kurdi Suriah akhirnya harus membuat kesepakatan dengan pemerintah Suriah, dan Amerika akhirnya akan pergi. Tidak diragukan lagi AS akan dituduh meninggalkan Kurdi, tetapi kenyataannya, AS selalu menegaskan bahwa keberadaannya di Suriah hanyalah sementara.

Kondisi sekarang ini memang masih jauh dari penyelesaian, tetapi kejatuhan Deraa mungkin lebih dari hanya pemadaman simbolis dari nyala api yang memicu revolusi.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Asap membubung naik dari kota al-Harak, seperti yang terlihat dari pedesaan Deraa, Suriah 25 Juni 2018. (Foto: Reuters/Alaa al-Faqir)

Konflik Suriah: Memadamkan Api Revolusi Melalui Perang Sipil
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top