Kongo
Afrika

Kongo Berpotensi Rusuh, Amerika Kerahkan Pasukan di Gabon

Berita Internasional >> Kongo Berpotensi Rusuh, Amerika Kerahkan Pasukan di Gabon

Terjadi protes keras setelah pemilihan presiden di Kongo, Afrika. Pasukan Amerika Serikat akan membantu warga dan personel Amerika di Republik Demokratik Kongo jika protes tersebut mengancam keamanan mereka. Para pengamat dan oposisi mengatakan pemilihan itu dirusak oleh penyimpangan serius, sedangkan pemerintah Republik Demokratik Kongo mengatakan pemilihan itu berjalan adil dan lancar.

Baca juga: ‘China Harus Dihentikan’: Zambia Jadi Korban Diplomasi Jebakan Utang?

Oleh: al Jazeera

Militer Amerika Serikat telah mengirim tentara ke Gabon, di tengah kekhawatiran protes keras di Republik Demokratik Kongo (DRC/Democratic Republic of the Congo) setelah pemilihan presiden. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Kongres AS pada hari Jumat (4/1) bahwa tahap pertama dari sekitar 80 tentara telah tiba di Gabon pada hari Rabu (2/1) untuk melindungi warga AS dan fasilitas diplomatik jika kekerasan pecah di ibukota DRC, Kinshasa.

Para pemilih di Republik Demokratik Kongo pergi ke tempat pemungutan suara pada tanggal 30 Desember 2018, dua tahun setelah pemilihan pertama dijadwalkan untuk diadakan, untuk memilih penerus Presiden Joseph Kabila, yang telah berkuasa selama 18 tahun.

“Yang pertama dari personel ini tiba di Gabon pada tanggal 2 Januari 2019, dengan peralatan tempur yang sesuai dan didukung oleh pesawat militer,” demikian bunyi surat Trump kepada Kongres. “Pasukan tambahan dapat dikerahkan ke Gabon, Republik Demokratik Kongo, atau Republik Kongo, jika diperlukan untuk tujuan ini.” Personel yang dikerahkan akan tetap berada di kawasan itu sampai situasi keamanan di Republik Demokratik Kongo menjadi aman sehingga kehadiran mereka tidak lagi dibutuhkan.”

Komisi pemilihan DRC dijadwalkan untuk merilis hasil sementara dari pemilihan presiden pada hari Minggu (6/1), tetapi telah mengatakan mungkin ada penundaan karena lambatnya kedatangan lembar penghitungan suara.

Kegelisahan politik

Para pengamat dan oposisi mengatakan pemilihan itu dirusak oleh penyimpangan serius, sedangkan pemerintah DRC mengatakan pemilihan itu berjalan adil dan lancar. Koalisi Kabila yang berkuasa mendukung penggantinya yang dipilih sendiri, Emmanuel Ramazani Shadary. Para pengamat dan komunitas internasional telah mengajukan kekhawatiran bahwa hasil yang disengketakan dapat menyebabkan kerusuhan, seperti halnya setelah pemilihan umum tahun 2006 dan 2011.

Al Kitenge, CEO dari Innovation Task Force yang berbasis di London, mengatakan ada “risiko besar masalah dalam beberapa hari mendatang.”

“Kami telah menemukan kekerasan di pedesaan selama 40 tahun terakhir. Hari ini semua orang khawatir karena kekerasan mungkin menyebar ke Kinshasa. Orang-orang yang paling berisiko dalam kasus seperti itu adalah warga sipil, dan kami berharap semua upaya dapat dilakukan untuk menghindari hal itu,” katanya kepada Al Jazeera.

Baca juga: Abdel Fattah el-Sisi Bukanlah Hosni Mubarak, Dia Jauh Lebih Buruk

Hari Kamis (3/1), Departemen Luar Negeri AS meminta komisi pemilihan untuk memastikan penghitungan suara secara akurat dan mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap mereka yang merusak proses atau mengancam perdamaian dan stabilitas di negara tersebut.

Human Rights Watch (HRW) juga memperingatkan terhadap segala upaya manipulasi hasil pemilu.

“Uni Afrika dan pemerintah lain harus menjelaskan kepada kepemimpinan Kongo bahwa setiap manipulasi hasil pemilu akan menimbulkan konsekuensi serius,” kata Ida Sawyer, wakil direktur Afrika di HRW. “Penghitungan suara palsu atau yang dicurangi hanya akan memperparah situasi yang sudah tegang dan bisa berakibat buruk.”

Kekerasan etnis berskala besar telah meletus di Yumbi, di provinsi Mai-Ndombe di DRC barat, menewaskan sedikitnya 150 orang di wilayah yang sebelumnya damai, menurut HRW. Yumbi adalah salah satu di antara tiga wilayah yang pemilihannya ditunda hingga bulan Maret 2019, selain Butembo dan Beni, karena kekhawatiran atas wabah Ebola dan kekerasan etnis.

Keterangan foto utama: Terdapat kekhawatiran bahwa hasil pemilu yang disengketakan dapat menyebabkan kerusuhan seperti halnya setelah pemilihan umum tahun 2006 dan 2011. (Foto: AP/Jerome Delay)

Kongo Berpotensi Rusuh, Amerika Kerahkan Pasukan di Gabon

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top