Korea Utara
Asia

Korea Utara 2018: Membuka Lembaran Baru atau Setahun Penuh Tipuan?

Berita Internasional >> Korea Utara 2018: Membuka Lembaran Baru atau Setahun Penuh Tipuan?

Sebagai seseorang yang tinggal di Semenanjung Korea, Steven Borowiec memandang tahun 2018 telah membawa perubahan yang disambut baik untuk arah kehidupan di sana. Tahun 2018 adalah tahun penuh kejutan bagi negara hermit tersebut. Sayangnya, tahun ini ditutup dengan tidak terlalu baik bagi pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Baca juga: Pengadilan AS Denda Korea Utara $501 Juta atas Kematian Otto Warmbier

Oleh: Steven Borowiec (Channel News Asia)

Untuk setahun yang penuh kejutan, berita dari Korea Utara mengakhiri tahun 2018 dengan tak begitu baik. Bulan November 2018, terdapat spekulasi bahwa akan ada satu lagi acara monumental di semenanjung Korea tahun ini, dengan Kim Jong Un akan menjadi pemimpin Korea Utara pertama yang melakukan perjalanan ke Korea Selatan.

Sayangnya kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan dalam sebuah pengarahan awal bulan Desember 2018 bahwa akan “sulit” bagi Kim untuk melakukan perjalanan ke Seoul sebelum akhir tahun, seperti yang telah disepakati para pemimpin kedua Korea pada pertemuan puncak bulan September 2018. Kim telah melintasi zona demiliterisasi ke wilayah Korea Selatan pada bulan April 2018, namun perjalanan seperti itu akan menjadi penutup yang memuaskan untuk satu tahun penuh dengan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Korea Selatan dan Korea Utara.

Saat ini, tahun 2018 berakhir dengan kebuntuan dalam proses menuju denuklirisasi dan ketidakpastian mengenai apakah diplomasi yang menakjubkan antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Korea Utara dapat terus bergerak maju. Kita mungkin akan belajar bahwa sementara banyak yang telah berubah dalam setahun, beberapa hal penting tetap sama saja.

Olimpiade Musim Dingin hingga Pertemuan Puncak Antar-Korea

Masa-masa baik diplomatik tahun ini berawal dari peristiwa yang paling tidak bersifat politis: Olimpiade Musim Dingin. Ketika Korea Selatan menjadi tuan rumah pertandingan musim dingin pada bulan Februari 2018, Korea Utara setuju untuk mengirim atlet dan sekelompok pendukung, dan membentuk tim gabungan hoki es wanita bersama dengan Korea Selatan.

Kedua belah pihak berbaris bersama dan saling bersorak, dengan pejabat pemerintah menganggap percobaan ini berhasil. Mereka sepakat untuk memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh olimpiade untuk meningkatkan pertukaran antar-Korea, yang telah dibekukan selama beberapa tahun sebelumnya, di tengah dua administrasi sayap kanan berturut-turut di Korea Selatan dan serangkaian provokasi nuklir dan rudal oleh Korea Utara.

Band pendukung wanita Korea Utara gagal menginspirasi tim gabungan bersejarah hoki es wanita Korea ketika mereka kalah 8-0 dari Swedia dalam Olimpiade Pyeongchang. (Foto: AFP/Kim Kyung-hoon)

Penurunan antagonisme hingga KTT Trump-Kim

Setelah pertemuan pertama itu, kedua Korea dengan cepat mulai mengambil langkah-langkah untuk menjatuhkan antagonisme yang telah menandai hubungan mereka begitu lama, dengan Korea Selatan membatalkan siaran K-pop melalui pengeras suara melintasi perbatasan ke Utara, dan Korea Utara mengumumkan penghentian uji coba nuklir dan rudal.

Korea Utara bahkan mengundang media internasional untuk menonton peledakan situs pengujian nuklir, sebagai usaha untuk mengirim pesan bahwa mereka tidak akan lagi berusaha meningkatkan persenjataan nuklir.

Amerika Serikat juga setuju untuk menurunkan dan membatalkan beberapa latihan militer tahunan bersama dengan Korea Selatan, yang merupakan sumber kekesalan abadi bagi Korea Utara.

Setelah KTT Singapura yang bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, kemajuan denuklirisasi Korea Utara terhenti, dengan kedua belah pihak menuduh satu sama lain bertindak dengan itikad buruk. (Foto: AFP/Saul Loeb)

Tonggak sejarah lainnya pada tahun 2018 adalah pertemuan puncak pertama antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump, yang diadakan di Singapura pada bulan Juni 2018. Setelah berpuluh-puluh tahun sengketa dan sejarah perang yang pahit, mereka berhasil berinteraksi secara terbuka sebagai mitra potensial alih-alih musuh.

Perubahan yang disambut hangat

Sebagai seseorang yang tinggal di Semenanjung Korea, penulis memandang tahun 2018 telah membawa perubahan yang disambut baik untuk arah kehidupan di sana. Sementara Korea Selatan terkenal karena tetap tenang dalam menghadapi ancaman dari Korea Utara, merupakan suatu hal yang menyenangkan untuk menyalakan berita setiap hari dan tidak menyaksikan pembicaraan yang didominasi oleh “ketegangan” dan kemungkinan perang.

Kedua Korea tengah bekerja untuk mewujudkan tujuan kerja sama yang ditetapkan dalam perjanjian puncak mereka. Hanya dalam beberapa minggu terakhir, kedua Korea telah membongkar pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan mereka yang dijaga ketat, dan bergerak maju dengan rencana untuk menghubungkan kembali jalan dan kereta api. Perkembangan di permukaan seperti itu tidak banyak menarik perhatian internasional, tetapi menunjukkan bahwa kedua pihak berupaya untuk memenuhi janji mereka.

Menjelang pergantian tahun, momen ketika Kim tidak muncul di Seoul bukanlah satu-satunya tanda bahwa masa-masa indah mungkin tidak akan berlanjut ke tahun depan.

Meskipun Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah menyuarakan harapan akan terwujudnya KTT Trump-Kim pada awal tahun 2019, dialog antara AS dan Korea Utara telah terhenti dalam beberapa bulan terakhir, dengan Korea Utara meributkan penolakan Amerika untuk mencabut sanksi yang menghambat upaya Kim untuk meningkatkan perekonomian negaranya.

Baca juga: Denuklirisasi Korea Utara di Ujung Tanduk

Ketenangan yang berkelanjutan dalam komunikasi di antara mereka menggarisbawahi kenyataan tidak nyaman bahwa, terlepas dari semua peristiwa yang menjadi berita utama sepanjang tahun 2018, tidak ada bukti pasti bahwa dunia kini lebih dekat dengan denuklirisasi Korea Utara, bahwa Korut dan AS telah menciptakan satu pun kemajuan nyata melampaui jalan buntu yang telah lama memecah belah mereka. Pyongyang menginginkan semacam imbalan atas tindakannya menghancurkan persenjataan nuklir, sedangkan Amerika mendesak langkah-langkah denuklirisasi yang lebih nyata terlebih dahulu.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menjanjikan hubungan dekat dengan Inggris jika terwujud Brexit “keras.” (Foto: AFP/Mandel NGAN)

Peristiwa tahun penutupan tak diragukan lagi berlangsung positif, tetapi terlalu dini untuk menyatakan tahun 2018 sebagai titik balik yang pasti. Para sejarawan akan melihat kembali tahun 2018 ketika Korea Utara mengambil langkah pertama menjauh dari status negara yang dimusuhi dunia dan dengan sungguh-sungguh bergabung dengan komunitas internasional, atau terkesiap akan tipuan bahwa masih ada orang-orang kyang percaya Korea Utara benar-benar memiliki niat untuk berubah.

Steven Borowiec adalah editor politik untuk Korea Expose.

Keterangan foto utama: PBB mengutuk pelanggaran hak asasi manusia yang “”sistematis, luas, dan menjijikkan” di Korea Utara. (Foto: AFP/Saul Loeb)

Korea Utara 2018: Membuka Lembaran Baru atau Setahun Penuh Tipuan?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top